Senin, 27 Juni 22

Kementerian Pertanian Kembangkan Kawasan Rumah Pangan Lestari

Kementerian Pertanian Kembangkan Kawasan Rumah Pangan Lestari

Imar

Jakarta-Kementerian Pertanian mulai melakukan pemberdayaan sumber pangan lokal. Langkah ini untuk melepaskan dari komoditas beras yang umumnya dikonsumsi masyarakat Indonesia.

“Diversifikasi pangan sebenarnya sejak tahun 60 sudah diperhatikan. Karena ketergantungan kita terhadap satu makanan pokok saja yaitu beras. Lalu pada tahun 2009 ada percepatan sumberdaya lokal,”kata Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Kementerian Pertanian, Sri Sulihanti di Jakarta, Jum’at (3/5/2013).

Sri menjelaskan salah satu strategi adalah dengan mendorong Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Menurut Sri, pendekatan ini mencoba menggunakan pekarangan rumah sebagai lahan untuk menanam sumber pangan bagi keluarga. Bahkan jika bisa dikembangkan dengan pemilihan jenis tanaman yang sesuai maka bisa menjadi sumber ekonomi alternatif bagi keluarga.

“Melalui KRPL diversifikasi pangan dan ketahanan pangan di tingkat keluarga bisa tercapai,”ujarnya.

Penggunaan pekarangan sebagai ladang untuk sumber pangan keluarga, tidak harus dengan pekarangan yang luas. Bahkan rumah-rumah tidak memiliki halaman seperti yang banyak ditemukan di Jakarta juga bisa digunakan. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan budidaya vertikultur, yaitu sistem tanam dengan pot bertingkat atau digantung-gantungkan. Tanaman yang bisa digunakan untuk budidaya ini bisa sangat beragam, mulai dari selada, pare, cabai, dan lain-lain.

 Cara lain yang digunakan adalah dengan intensifikasi pagar dengan menanam ubi jalar, kenikir, terong, dan lain-lain. “Saat ini, Kawasan Rumah Pangan Lestari dengan memanfaatkan pekarangan ini sudah ada di 5.000 desa, termasuk untuk sekolah,”jelasnya.

Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, pada tahun 1954, pola makan masyarakat Indonesia masih bisa dikatakan bervariasi. Kala itu, beras memang sudah menjadi menguasai separuh sumber bahan makanan pokok. Namun, ubi kayu dan jagung masih bisa bersaing. Pergeseran pola makanan masyarakat Indonesia yang menjurus hanya pada beras saja mulai terjadi pada tahun 1984 yang sudah mencapai lebih dari 80 persen. Hal ini semakin memprihatinkan ketika pada tahun 2010, sumber pangan yang lain bisa dikatakan mulai menghilang.

Banyaknya konsumsi beras ini menjadi salah satu penyebab semakin banyaknya penyakit degeneratif di masyarakat Indonesia, seperti diabetes dan penyakit yang lain. Berdasarkan hasil survei Indonesia Berseru, yang aktif berkampanye soal pangan lokal, pada 300 anak muda tentang pola makan mereka, ditemukan bahwa karbohidrat menjadi unsur yang sangat dominan. Pola makan yang salah inilah yang juga memicu munculnya penyakit degeneratif tersebut. (rud)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.