Sabtu, 25 September 21

Kementan: Inovasi CPO, Momentum yang Baik Untuk Kompensasi BBM

Kementan: Inovasi CPO, Momentum yang Baik Untuk Kompensasi BBM
 
Gia
Jakarta- Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan, kebijakan peningkatan kandungan biodiesel sebesar 10 persen dalam bahan bakar solar momentum yang bagus di dunia perkebunan. Hal tersebut membuat banyaknya inovasi untuk mendorong produk derivatif Crude Palm Oil (CPO). Pasalnya Inovasi tersebut juga terkait paket kebijakan yang dikeluarkan, pemerintah memberikan sinyal dari impor bahan bakar minyak dan ini momentum yang baik untuk kompensasi BBM dari energi yang berasal dari energi nabati.
“Dunia usaha perlu merespon agar kebijakan pemerintah ini dengan berinovasi agar ke depannya Bahan Bakar Minyak (BBM) dapat dikompensasi dengan Bahan Bakar Nabati (BBN),” ujar Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan di pembukaan Expo Nasional Inovasi Perkebunan 2013 JCC Senayan (30/8).
Selain itu, lanjut Rusman, berharap para pengekspor bisa mengembangkan biodiesel yang lebih baik untuk memenuhi pasar domestik. Tanpa adanya dukungan pemerintah, pengusaha lebih ke arah ekspor bahan mentah.
“Ini sama saja peluang mata rantai baru produk untuk ciptakan nilai tambah, lapangan kerja, serta meningkatkan pendapatan,” pungkas Rusman.
 

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan  bangga akan perkebunan khususnya subsektor CPO menjadi andalan Indonesia. “Bahkan subsektor kita untuk CPO menjadi ranking pertama dan ini menghasilkan ekspor USD24 billion, itu baru surplusnya saja,” ujar Hatta.
Namun, lanjut Hatta, karena mengalami defisit di sektor lain maka surplus subsektor di perkebunan yang tidak sebanding maka current account masih terjadi defisit. Oleh sebab itu, pendekatan perlu menjadi terpadu layaknya pendekatan penambahan nilai.

“Di sisi lain pendekatan value added sampai ke hulu hingga ke hilir untuk tidak sekedar meningkatkan value added tapi jadi daya kita ketika menghadapi masalah,” ujar Hatta.

Hatta menerangkan, memang 15 tahun ke belakang inovasi lebih ke aspek perindustrian. Akan tetapi, untuk ke depan perlu adanya pendekatan yang lebih bijaksana ke alam.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.