Jumat, 22 Oktober 21

Kemenperin Dorong Gambir Diolah Agar Petani Kaya

Kemenperin Dorong Gambir Diolah Agar Petani Kaya

Jakarta, Obsessionnews Kementerian Perindustrian (Kemenperin)  RI terus mendorong industri pengolahan gambir meningkatkan nilai tambah, sehingga petani gambir bisa mendapat nilai lebih.

“Gambir bisa diolah untuk industri kosmetik, farmasi, tekstil, cat, tinta dan penyamakan kulit. Tentu nilai meningkat dibanding hanya dijual mentah seperti selama ini,” kata Menteri Perindustrian Saleh Husin, saat menerima kunjungan tokoh masyarakat Sumatera Barat, Andrinof Chaniago di kantornya, seperti dilansir laman kemenprin.go.id, Selasa (23/02).

Baca juga:

Menperin Bantah Industri Otomotif ‘Kabur’ dari RI

Menperin: Energi Bukan Komoditas

Menperin Janji Pantau Ketat Gula Rafinasi

Petani Gagal Panen, Dapat Bantuan Benih

Sumatera Barat merupakan sentra produksi gambir di Indonesia dan memasok komoditas ini ke pasar dunia. Setiap tahun, produksi gambir dari provinsi ini menembus 17 ribu ton.

Kemenperin, melalui Balai Riset dan Standardisasi Industri (Baristand) Padang, Sumbar juga mengembangkan buah gambir untuk menjadi tinta pemilu, tinta stempel, pewarna tekstil, penyamakan kulit dan antoksidan yang alami.

Keunggulan stempel dan tinta dari gambir ini tahan rembes ketika digunakan pada media kertas. Produk ini telah dipakai di lingkungan Pemda Kabupaten Lima Puluh Kota.

Guna memacu pengolahan lebih lanjut, Kemenperin berencana memfasilitasi pertemuan pemangku kepentingan pengolahan gambir antara lain pengusaha, asosiasi industri, perusahaan farmasi, kosmetik, hingga petani dan pemerintah daerah.

“Pertemuan ini diharapkan mengakselerasi pengembangan. Apalagi di Indonesia banyak beroperasi perusahaan farmasi dan kosmetik seperti Mustika Ratu, Sari Ayu Martha Tilaar, Kimia Farma, Kalbe Farma dan perusahaan multinasional seperti Unilever, L’Oreal, P&G, dan Johnson & Johnson,” ujar Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Kemenperin Harjanto.

Andrinof mengatakan, pengembangan gambir diarahkan memperluas ragam produksi dan menumbuhkan industri antara serta hilir.

“Kita selama ini mengekspor gambir mentah ke Singapura, lalu oleh trader dibawa ke India untuk diolah menjadi bahan setengah jadi. Selanjutnya dikirim ke Eropa, memasok industri kosmetik, farmasi dan lain-lain,” kata Andrinof yang juga mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan kini menjabat Komisaris Utama PT Angkasa Pura I (persero).

Menurutnya, harga gambir di tingkat petani sebesar Rp 20 ribu per kilogram, sedangkan industri kosmetik mengimpor gambir yang telah diolah oleh pabrikan luar negeri dengan harga Rp1 juta per 1 miligram.

Turut hadir mantan Wakil Bupati Lima Puluh Kota, Asyirwan Yunus dan Guru Besar Universitas Andalas Profesor Werry Darta Taifur. (rez)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.