Minggu, 3 Juli 22

Kemenkop-IKTEC Kerja Sama Transfer Teknologi Alat Sortasi Kopi

Kemenkop-IKTEC Kerja Sama Transfer Teknologi Alat Sortasi Kopi
* Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga didampingi Bupati Bangli I Made Gianyar dan Ketua Koperasi Tani MPIG Kopi Kintamani, I Dewa Made Raka, meninjau alat baru sortasi kopi di Kintamani, Bali, Jumat (3/3/2017).

‎Kintamani, Obsessionnews.com – Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga mendorong pihak Korea untuk memberikan pelatihan operasional alat baru pemilahan biji kopi (Sortasi) kepada operator mesin. Alat Sortasi kopi ini merupakan bantuan dari Korea Selatan untuk Koperasi Tani MPIG (Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis) Kopi Kintamani, Bali.

“Sehingga nantinya, dengan alat sortasi itu bisa dihitung dengan jelas berapa kilogram kopi, berapa perhari, berapa perjam, yang bisa dihasilkan dengan alat bantuan Korea itu,” kata Puspayoga saat meninjau alat Sortasi Kopi tersebut di Kintamani, Bangli, Bali, Jumat (3/3/2017).

‎Hal itu dikatakan Puspayoga menanggapi keluhan Ketua Koperasi Tani MPIG Kopi Kintamani Bali, I Dewa Made Raka atas belum pahamnya cara mengoperasikan alat sortasi itu. Meski sudah ada buku manualnya dalam bahasa Indonesia, namun tetap kesulitan dalam memahami.

“Apapun kendala dan kekurangan dari optimalisasi alat sortasi itu, Kemenkop dan UKM harus membantu agar semuanya bisa berjalan lancar,” tandas Menkop.

Yang jelas, lanjut Puspayoga, bantuan kongkrit dari Korea itu sebagai tindaklanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang sudah ditandatangani Kemenkop dan UKM dengan pihak Korea di New York, USA, pertengahan tahun 2016 lalu.

‎Sejumlah kerja sama itu, diantaranya pendirian Indonesian Korea Technology Exchange Center (IKTEC) dimana Korea siap memberikan alih teknologi atau R&D (Reserach and Developtment), pembiayan (financing)  dan tenaga ahli.

Selain itu, kerja sama dalam bidang pengembangan kewirausahaan pemula (start up), dimana pihak Korea siap memberikan pelatihan, pendampingan bagi pengusaha start up Indonesia. Juga kerja sama pelatihan produk bakeri dan kopi, sampai pendirian mini Korea Town di Jakarta. ‎

“Yang di Kintamani ini wujud dari janji Korea yang akan membantu pengembangan produk kopi di Kintamani, Bali,” kata Puspayoga.

Menkop berpesan kepada Ketua Koperasi Tani dan sejumlah petani kopi yang hadir untuk tidak merusak tanah lahan yang ada, hanya demi menambah jumlah produksi kopi. Puspayoga juga berharap kekhasan produk kopi di Kintamani‎ bisa dijadikan sebagai sebuah destinasi wisata baru berupa Agro Wisata Kopi Kintamani.

“Bisa kerja sama dengan pihak pariwisata seperti biro perjalanan, hotel, dan sebagainya. Potensinya besar, karena penikmat kopi di seluruh dunia itu sangat besar jumlahnya. Sehingga, Kopi Kintamani semakin terkenal dan mendunia,” papar Menkop lagi.

Koperasi Tani MPIG Kopi Kintamani Bali, didirikan pada 2012. Saat ini sudah memiliki mitra dengan sejumlah eksportir sehingga produk kopi Kintamani bisa memasuki pasar Korea, Jepang, dan Australia. Dengan bantuan alat Sortasi bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas produk kopi.

“Dalam tiga tahun terakhir, kami sudah mengekspor kopi ke tiga negara itu sebanyak 200 ton. Saya berharap dengan bantuan alat sortasi dari Korea dan kerjasama dengan Kemenkop dan UKM, termasuk alat kemasan produk, kami bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas produk kopi,” kata Ketua Koperasi, I Dewa Made Raka.

Menurut Made Raka, Kopi Arabika Kintamani sudah dikenal karena memiliki karakteristik dan aroma yang khas serta cita rasa yang enak. “Pada 2008, produk kopi arabika dari Kintamani sudah mendapat Sertifikat Indikasi Geografis (Produk IG) yang pertama di Indonesia,” ungkap dia. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.