Senin, 28 September 20

Kembangkan Pariwisata, Arief Yahya Jalankan Konsep More For Less

Kembangkan Pariwisata, Arief Yahya Jalankan Konsep More For Less

Jakarta, Obsessionnews.com –Bisnis Tourism, Transpotation, Telecomunication (TTT) memiliki DNA yang serupa, sebab ketiga industri tersebut bergantug pada musim (season) sehingga terjadi peak season dan low season. Tak hanya itu, ketiganya bergantung akan jarak sehingga ada zonasi.

Demikian yang disampaikan Menteri Pariwisata Arief Yahya, ia mengungkapkan seperti halnya pada bisnis transportasi udara LCC atau low cost carrier. Yakni penerbangan murah seperti Lion Air, Air Asia, Citilink, Jetstar dan lainnya. Selain itu juga ada full service carrier seperti Garuda, Singapore Air, Quantas, Emirates, Qatar Air dan lainnya.

“Dan sama-sama sensitif dengan harga! Makin murah meriah, makin meledak traffic-nya,” ujar Arief Yahya di Novotel Batam, Kepulauan Riau.

ia menuturkan jika penerbangan murah, maka masyarakat akan jadi affordable.
“Harga terjangkau oleh masyarakat dan membuat orang terbiasa naik pesawat. Lihat saja di terminal 1 Soekarno Hatta Jakarta, penumpangnya banyak dan antre panjang,” tukas Arief Yahya.

Selain itu, jika bicara soal telekomunikasi adanya persaingan harga yang sengit. Sesuai dengan pengalaman Yahya saat memimpin Telkom.

“Saya punya banyak pengalaman memimpin Telkom dan pengalaman 10 tahun jadi komisaris utama Telkomsel. Begitu harga pulsa diturunkan 90%, pelanggannya naik dari 20 juta lebih dari 10 kali, revenue-nya juga melompat tinggi,” jelasnya.

Sementara untuk bisnis tourism, Yahya mengaku hingga saat ini belum juga menemukan model wisata dengan harga yang murah. Dan dirinya akan menciptakan ekosistem baru dengan konsep More For Less yang akan dicoba di Kepulauan Riau.

Menjadi kawasan percobaan, sebab Yahya mengatakan Kepulauan Riau (Kepri) merupakan Gerbang Wisata Bahari Indonesia yakni untuk mengembangkan yacht, Marina, tempat parkir perahu pesiar yang terdapat di tiga lokasi di dalam kepri.

Selain itu juga dipilihnya Kepri yakni mudah berhubungan secara internasional, baik melalui udara maupun laut. Yaitu, Batam, Bintan, Anambas adalah Kepri. Ketiganya bisa menjadi gate untuk masuk dan keluarnya yachters ke Indonesia.

Kepri juga merupakan daerah yang dekat dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia sehingga masuk dalam kategori border tourism.

“Kita belajar dari apa yang terjadi di Spanyol dan Prancis, yang jutaan orang masuk melalui crossborder tourism. Singapura itu ada 3.5 juta warga, 1,5 juta ekspatriat, dan 15.5 juta wisatawan asing masuk setiap tahunnya. Itu adalah pasar yang sering kita sebut sebagai menjaring ikan di kolam tetangga. Ingat ilmu TTT (tourism, transportation, dan telco). Dasarnya adalah kedekatan, proximity, jarak geografis yanh dekat. Itu akan menjadi opportunity bagi wisata bahari Indonesia. Penyeberangan Batam – Siangapore itu hanya 45 menit saja,” ucap Arief Yahya.

Tak hanya secara tata letak, Kepri-Singapore-Malaysia juga dekat secara budaya, yakni memiliki kesamaan dalam bahasa Melayu sehingga dalam komunikasi menjadi mudah. Seperti halnya mudik lebaran, kedekatan secara budaya membuat masyarakat lebih mudah untuk bergerak dari satu kota ke kota lain.

Strategi baru More for Less di Kepri ini merupakan implementasi dari cara yang tidak biasa untuk memperoleh hasil yang luar biasa. Seperti halnya yang disampaikan motivator Tung Desem Waringin yang ikut memberikan materi selama 2,5 jam di Novotel, Batam.

“Sampai dengan bulan Oktober 2016, Kepri memang turun cukup besar, 6% dari capaian tahun 2015. Kalau industri yang Anda pimpin itu growth negatif dari rata-rata nasional, berarti perusahaan Anda sedang sekarat atau menjelang mati. Apalagi target nasional harus melompat minimal 25% dari tahun sebelumnya,” paparnya.

Oleh karenanya, untuk mengejar target tersebut kunjungan wisman dan meningkatkan industri pariwisata dilokasi tersebut yakni dengan memaksimalkan excess capacity. Yaitu yang pertama mengumpulkan excess capacity (kapasitas yang tak terjual atau kosong). Kedua, gunakan digital (ITX) untuk menjual lengkap dengan booking system dan payment gateway. Ketiga, promosikan di originasi sesuai timeline-nya, yang sedang low seasons.

strategi yang terus dibuat oleh Arief ini berharap affordability akan optimum sehingga tidak ada lagi istilah low and high seaso dan setiap hari ramai alhasil non operational return-nya bisa dimaksimalkan.

“Kalau ini berjalan, maka akan menciptakan bisnis baru yang revolusioner di pariwisata,” tutupnya.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.