Jumat, 9 Desember 22

Kematian Prada Indra Janggal, Ditutup-tutupi Mirip Brigadir J

Kematian Prada Indra Janggal, Ditutup-tutupi Mirip Brigadir J
* Prada Mochamad Indra Wijaya. (Ist)

Mengapa kematian prajurit TNI AU Prada Mochamad Indra Wijaya dinilai ‘janggal’, ‘ditutup-tutupi’, dan mirip kasus Brigadir J?Sejumlah pengamat militer mendesak TNI Angkatan Udara “tidak menutup-nutupi” dan mengusut tuntas “hingga terang benderang” penyebab kematian tidak wajar seorang prajuritnya, Prada Indra Wijaya.

Kematian Prada Indra pada Jumat (18/11/2022), di Biak, Papua, awalnya disebut karena “henti jantung akibat dehidrasi setelah bermain futsal”. Namun kemudian dinyatakan ada dugaan penganiayaan setelah pihak keluarga menemukan sejumlah kejanggalan ketika melihat jasadnya.

Dari situ Khairul Fahmi dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) menduga “ada upaya menutup-nutupi” fakta sebenarnya dari kematian Prada Indra.

Kasus ini, sambung dia, juga menunjukkan masih ada “budaya lama untuk tidak mematuhi hukum” di tubuh TNI.

“Memang masih harus diinvestigasi penyebabnya, tapi yang jelas itu kan mestinya disampaikan ke keluarga yang sebenar-benarnya. Ini bukan zaman di mana TNI bisa seenaknya atau bisa bertindak seolah-olah berada di atas hukum,” kata Fahmi.

Oleh sebab itu, Fahmi mendesak TNI tidak hanya mengusut penyebab kematian Prada Indra, namun juga menelusuri dugaan soal adanya upaya menutup-nutupi kasus ini.

“Setelah terbuka semua, baru lah Komandan Militer Koopsud III menyampaikan ke keluarga bahwa ada tindakan kekerasan terhadap almarhum di malam itu,” jelas dia.

Apa saja kejanggalan yang ditemukan keluarga?

Kakak perempuan dari Prada Indra, Rika Wijaya, mengatakan kabar soal kematian adiknya itu pertama kali dia dengar pada Sabtu (19/11) lalu.

“Awalnya disampaikannya oleh Dokter Nico selaku dokter penyakit dalam bahwa adik saya Prada Indra Wijaya dinyatakan meninggal karena dehidrasi berat selesai olahraga futsal dari jam 20.00 WIT sampai jam 23.00 WIT,” kata Rika kepada Kompas.com pada Rabu (23/11).

Keluarga awalnya mempercayai keterangan itu. Namun ketika jenazah Indra tiba, keluarga diminta langsung menguburkan.

“Salah satu dari keluarga saya pada saat di [Bandara] Soekarno-Hatta mendapat telepon dari satu anggota Koopsud III di Biak, bahwasannya adik saya ini harus langsung dibawa ke rumah duka, setelah itu langsung dimakamkan,” ujar Rika.

Peti jenazah Indra pun dibawa dalam keadaan digembok tanpa kunci. Mayor Tri mengatakan kepada keluarga bahwa dia tidak diberikan kunci sejak di Biak.

Keluarga pun membuka paksa peti jenazah Indra menggunakan palu.

Begitu dibuka, keluarga menemukan ada darah pada bagian kepala jasad Indra.

“[Darah itu] menembus kain kafan di bagian wajah jenazah, sehingga membuat para keluarga histeris,” tutur Rika.

Setelahnya, keluarga yang curiga pun membuka seluruh kain kafan dan menemukan luka lebam dan sayat dari dada hingga perut Prada Indra.

Dikonfirmasi soal kecurigaan keluarga itu, TNI AU mengatakan lebam-lebam pada tubuh Prada Indra diduga sebagai “dampak dari alat kejut jantung”.

“Tapi ini semuanya masih materi penyidikan, kami pun masih menunggu hasilnya seperti apa, tapi lebam-lebam itu salah satu dampak dari alat alat kejut jantung,” ujar Indan.

Mengapa diduga ‘ditutup-tutupi’?
Menurut Khairul Fahmi, perbedaan keterangan dengan antara TNI dengan kondisi yang ditemukan oleh keluarga “sudah cukup menjadi dasar atas dugaan menutup-nutupi fakta”.

Fahmi menilai hal ini menunjukkan bahwa praktik-praktik kekerasan, arogansi, dan budaya untuk menutupinya “belum sepenuhnya hilang” dari tubuh TNI.

“Dengan memberikan informasi yang tidak cukup valid kepada pihak keluarga, saya kira itu menunjukkan bahwa kepatuhan pada hukum, dan kesadaran menyelesaikan masalah berdasar hukum itu masih sulit diterapkan di TNI. Ini jadi keprihatinan kita,” ujarnya.

Apabila terbukti ada upaya menutup-nutupi, Fahmi mengatakan pihak yang terlibat “juga harus ditindak”.

“Ini harus dilanjutkan juga, siapa yang memerintahkan untuk menutupi fakta-fakta ini? Siapa yang memerintahkan untuk menghalangi keluarga melihat kondisi jenazah? Itu juga harus dibuka, karena itu juga melanggar hukum kan,” tutur Fahmi.

Oleh sebab itu, Fahmi meminta TNI menjalankan investigasi secara terbuka dan akuntabel.

“Jangan sampai investigasi hanya sekadar menggugurkan prosedur formal untuk menegakkan klaim bahwa tidak terjadi apa-apa. Investigasinya harus betul-betul objektif dan bisa memberikan keadilan bagi keluarga,” kata Fahmi.

Terkait desakan itu, Indan menjanjikan kasus ini akan diusut secara tuntas.

“Saya kira ini prosesnya terbuka, saat ini pun komandan Koopsud III berkomunikasi terus dengan keluarga,” kata Indan.

Bagaimana dampaknya jika tidak diusut tuntas?
Menurut Fahmi, TNI mempertaruhkan reputasinya di mata publik apabila kasus ini tidak diusut dengan tuntas, terutama di tengah sorotan terhadap aparat setelah kasus Brigadir Yosua yang dianggap berpola mirip.

“Harus diingatkan TNI untuk belajar dari apa yang terjadi di Polri, jangan sampai TNI terpuruk reputasinya hanya karena melindungi satu oknum atau menutup-nutupi masalah yang sebetulnya mudah diselesaikan,” kata Fahmi.

“TNI harus kerja cepat dan harus segera merespons apa yang disampaikan keluarga itu supaya kekecewaan publik tidak meluas,” lanjut dia.

Tanpa respons yang cepat dan transparan, Fahmi menilai akan muncul tekanan publik.

Hal itu juga akan menunjukkan bahwa TNI “belum sepenuhnya menerapkan kepatuhan hukum” untuk menindak pelanggaran yang terjadi secara internal.

“Butuh keteladanan juga dari pimpinan TNI sendiri untuk benar-benar menjaga reputasi organisasi itu bukan sekadar menutupi masalah, tapi justru membuka masalah sebesar-besarnya dan mencari solusinya. Bukan ditutupi, [kalau] ditutupi kan baunya ke mana-mana,” kata Fahmi.

Sementara itu, Al Araf mengatakan kegagalan mengusut tuntas kasus ini akan menghambat transformasi TNI menuju institusi yang lebih profesional.

Menurut Al Araf, kultur senioritas di TNI selama ini sering kali memicu kekerasan. Pengawasan internal terhadap kasus-kasus semacam ini pun dianggap lemah.

“Pengawasan lemah serta penghukuman terhadap pelaku yang minim itu membuat kasus seperti ini terjadi lagi,” kata Al Araf.

TNI AU pun mengatakan akan “melakukan evaluasi” soal “pembinaan senior kepada junior-juniornya” yang berujung menjadi kekerasan dan penganiayaan.

“Saya kira akan ada proses evaluasi dari Markas Besar AU dari proses pembinaan itu sendiri, dari hubungan senior dan junior juga akan ada evaluasi.

“Yang jelas terhadap terduga pelaku sudah ditahan dan statusnya sudah tersangka, tentu ini harus jadi pelajaran buat pelakunya dan yang lain supaya tidak terulang kembali,” kata Indan. (BBCIndonesia/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.