Kamis, 9 Desember 21

Kemaritiman Butuh Sains Dasar Multidisiplin

Kemaritiman Butuh Sains Dasar Multidisiplin
* Menko Kemaritiman Dwisuryo Indroyono Soesilo bersama Rektor ITS Joni Hermana dalam Semnas AIPI, di gedung Pascasarjana ITS, Surabaya, Senin (20/4/2015). (Obsessionnews.com/GA Semeru)

Surabaya, Obsessionnews – Pembangunan kemaritiman masih menjadi tanggung jawab besar bangsa Indonesia saat ini. Hal itu diungkapkan oleh Menko Kemaritiman Dwisuryo Indroyono Soesilo.

“Dulu, wilayah kemaritiman Indonesia hanya sejauh tembakan meriam. Wilayah yang sekecil itu akhirnya menjadi satu mil dari garis pantai. Di mana di seluruh wilayah tersebut, Indonesia  berhak mengibarkan sang merah putih,” ujar Indroyono dalam Seminar Nasional (Semnas) Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), di gedung Pascasarjana ITS, Surabaya, Senin (20/4/2015)

Menurut dia, dengan memiliki wilayah laut teritorial seluas 3,1 juta kilometer, Indonesia memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Di samping itu, kata Indroyono, sumber daya alam, seperti marine biodiversity, posisi geotektonik yang kaya mineral dan sumber daya bumi, arus lintas Indonesia, serta international sea lanes yang mempengaruhi perekonomian.

“Oleh karena itu, jangan tanya apa yang kita punya. Tanyalah apa yang tidak kita punya, sebab kita memiliki segalanya,” tandasnya sembari mengingatkan.

Untuk memperkuat pondasi pembangunan kemaritiman, lanjut Indroyono, Indonesia harus memiliki sains dasar multidisiplin dengan bermodalkan keanekaragaman hayati Indonesia.

“Seberapa jauh pemanfaatan sumber daya itu menjadi tanggung jawab besar AIPI. Jangan sampai orang lain menguasai plasma nutfah kita,” tegasnya.

Selanjutnya adalah multidisiplin untuk geosains.
Di sisi ini, Indonesia memiliki lempeng tektonik.
Meski sering mengalami gempa, tsunami, dan letusan gunung berapi, semua bencana tersebut juga berperan memperbaharui dan memberikan dampak baru.

Berikutnya untuk oceanografi dan ocean dynamics. Bagian ini dipengaruhi oleh perubahan iklim, climate variability prediction, air sea interraction, dan ocean current untuk energi, ikan, dan alternatif migrasi.

Yang menjadi permasalahan saat ini adalah pemerintahan masih terfokus dalam pembelian kapal yang sebanyak-banyaknya. Namun kurang mengoptimalkan pengoperasiannya, sehingga masa beroperasi atau berlayar lebih kecil daripada masa berlabuh. Juga, pembangunan teknopark tidak akan efisien jika tidak digunakan secara maksimal.

“Lebih baik membangun satu teknopark di tengah-tengah Indonesia, sehingga dapat digunakan dengan lebih maksimal,” pungkasnya. (GA Semeru)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.