Sabtu, 4 Februari 23

Keluar dari Kemiskinan, Irna Mujayanti Kini Jadi Pendamping PKH

Keluar dari Kemiskinan, Irna Mujayanti Kini Jadi Pendamping PKH
* Irna Mujayanti bersama Menteri Sosial Idrus Marham (kiri) dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (tengah). (Foto: Kemensos)

Tegal, Obsessionnews.com –  Irna Mujayanti  yang berasal dari  Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) berhasil keluar (graduasi mandiri) dari kondisi kemiskinan yang melilit keluarganya selama bertahun-tahun.

Bersama dengan 23 KPM PKH di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Irna mendapatkan sertifikat graduasi mandiri dari Kementerian Sosial (Kemensos).

“Terima kasih kepada Bapak Menteri Sosial yang sudah memberikan piagam penghargaan secara langsung bagi KPM yang telah graduasi mandiri,” tutur perempuan berusia 34 tahun itu seperti dikutip dari siaran pers Humas Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jamiman Sosial Kemensos yang diterima Obsessionnews.com, Kamis (26/4/2018)

Irna  sangat  bersyukur karena dapat merasakan bantuan PKH. Ia juga merasa senang karena pendamping PKH selalu memberikan nasihat dan pelajaran yang sangat berguna untuk mengubah pola pikir penerima PKH.

“Saya berharap dapat menjadi contoh dan motivasi bagi keluarga-keluarga yang saya dampingi untuk bangkit dan berubah cara berpikir, sehingga mereka cepat keluar dari belenggu kemiskinan,” tutur Irna.

Ia mengaku sejak menikah pada tahun 2005 selalu mengalami kondisi sulit.

“Makan pun terkadang ada terkadang tidak,” ujarnya.

Keluarga Irna tinggal bersama orang tua dan ketiga anaknya, yaitu Kanafina Nasywa (11) kelas 6 SD, Minani Mazidah (6 th) dan M. Tsabit Albanani (9 bulan). Mereka tinggal disebuah rumah diperkampungan yang asri di Desa Kedungbungkus RT 3 RW 2 Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal.

Saat ditemui dirumahnya, irna mulai bercerita tentang pahit getir kehidupan sudah dia rasakan sejak kecil, kemudian setelah memutuskan untuk menikah dengan Kaswali (40 th), langsung ke Jakarta untuk mengadu nasib.

“Dengan modal uang 100 ribu pemberian dari salah satu ulama di kampung, kami memberanikan diri untuk mencari peruntungan di ibu kota,” katanya.

Berbagai pekerjaan sudah dijalani. Suaminya bekerja sebagai buruh bangunan dengan upah yang pas-pasan. Irna mencoba mencari pekerjaan dan diterima bekerja sebagai kasir di salah satu toko waralaba dengan gaji  Rp 700 ribu perbulan.

“Saat itu saya mengontrak rumah seharga Rp 350 ribu perbulan. Untuk menyambung hidup selama sebulan, sehabis gajian saya langsung membeli mi instan untuk cadangan selama sebulan. Kalau tidak punya beras cukup makan mi instan untuk menyambung hidup,” ungkapnya.

Setelah di Jakarta selama 2 tahun Irna mengaku mengandung anak pertama. Agar biaya persalinan terjangkau, Irna memutuskan untuk melahirkan di kampung.

“Tahun 2006, lahirlah anak saya yang pertama. Kami memutuskan untuk menetap di kampung, meskipun belum punya rumah. Kami menumpang di rumah orang tua,” tutur Irna.

Karena kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik, suaminya memutuskan untuk kembali merantau ke Jakarta mencari nafkah.

Mengajar di PAUD

Untuk mengisi waktu luang, pada tahun 2009 di kampung ada pendirian PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Dengan modal ijazah SMA, ia memberanikan diri untuk mendaftar menjadi salah satu pengajar. “Alhamdulillah saya diterima dengan honor Rp 40 ribu per bulan,” tuturnya.

Ia menuturkan tidak melihat besar kecilnya honor tetapi ingin bahwa hidupnya bermanfaat bagi orang lain. Kemudian ia pun berpikir untuk mengembangkan kemampuannya sebagai seorang guru.

Setahun Irna mengajar di PAUD, pada tahun 2010 ada pesantren yang membuka Roudlotul Athfal (RA) Yayasan Al Amin yang memberikan pendidikan anak-anak usia TK.

Saat itu ia mengaku ditawari untuk mengajar di RA dengan honor antara Rp 100 ribu – Rp 200 ribu perbulan. Dengan berbagai pertimbangan ia menerimanya.

Dengan modal nekat, tahun 2011 Irna mendaftar kuliah di Universitas Terbuka (UT). Menurut Irna, uang semesteran cukup tinggi untuk ukuran keluarganya. Setiap semester dia  harus membayar Rp 3 juta. Beruntung dia mempunyai suami yang senantiasa mendorong keinginan untuk maju.

“Gali lubang tutup lubang itulah istilah yang pas untuk menggambarkan kondisi keluarga saya,” tandas Irna.

Mendapat PKH

Tahun 2015 ia didatangi oleh seseorang yang mengaku sebagai pendamping PKH. Orang itu menanyakan berbagai kehidupan perekonomian Irna.

Berdasarkan hasil validasi oleh pendamping PKH, keluarga Irna dinyatakan layak untuk mendapatkan bantuan PKH.

“Waktu itu saya memiliki anak balita dan anak usia sekolah,” jelas Irna.

Lebih lanjut Irna mengungkapkan, selama mendapatkan bantuan PKH ia selalu mengikuti pertemuan keluarga yang dipimpin oleh pendamping.

“Berbagai pelajaran saya dapatkan dari materi yang disampaikan oleh pendamping, hal itu menjadikan keinginan saya semakin kuat untuk mengubah nasib,” ucapnya dengan semangat.

Menurutnya, nasib harus diperjuangkan. Tidak ada yang akan mengubah kecuali diri kita sendiri yang berusaha.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun, usaha yang dilakukan untuk membekali diri dengan ilmu membuahkan hasil yang menggembirakan.

Tahun 2016, ia dinyatakan lulus dengan menyandang gelar S.Pd (Sarjana Pendidikan). Bulan Januari 2017 diwisuda di Purwokerto.

Keberuntungan demi keberuntungan seolah berpihak pada keluarganya. Usai diwisuda, Kemensos membuka lowongan pendamping PKH. Dengan penuh keyakinan ia mencoba untuk memasukkan lamaran dengan menggunakan aplikasi online.

Tahapan seleksi ia ikuti, sampai pada jadwal pengumuman hasil seleksi, dan dinyatakan lulus sebagai pendamping PKH.

Setelah menerima surat keputusan penetapan sebagai pendamping, ia langsung mengajukan permohonan untuk mengundurkan diri dari KPM PKH. (Arif RH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.