Rabu, 20 Oktober 21

Keberhasilan Ibnu Sina Jadi Ilmuwan Kelas Dunia karena Dorongan Rasa Bersyukur kepada Allah 

Keberhasilan Ibnu Sina Jadi Ilmuwan Kelas Dunia karena Dorongan Rasa Bersyukur kepada Allah 
* Ibnu Sina. (Foto: Wikipedia)

Oleh: Prof. Dr. U. Maman Kh., S.S., M. Si, Guru Besar Sosial Ekonomi Pertanian, Program Magister Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ibnu Sina terkenal sebagai seorang ilmuwan polymath (multi keahlian). Di samping seorang dokter yang sangat terkenal di Barat maupun di belahan dunia Timur, ia adalah seorang teolog dan filsuf, dan juga seorang ahli fisika yang memahami ilmu-ilmu kesislaman secara mendalam. Keberhasilannya menjadi seorang ilmuwan kelas dunia ternyata karena dorongan rasa bersyukur kepada Allah yang telah mengaruniakan akal dan kecerdasan.

Ibnu Sina lahir pada tahun 370 H/ 980 M di desa Afsana, yaitu sebuah desa dekat Bukhara dengan nama lengkap Abu al-Ali Hussein bin Abdullah bin al-Hasan bin Ali bin Sina. Ibnu Sina atau lebih dikenal di Barat dengan Avicenna merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dan dokter di abad ke-10. Ayahnya bernama Abdullah dan ibunya bernama Setareh. Latar belakang orang tuanya cukup terhormat, yaitu pejabat tinggi pada masa pemerintahan Dinasti Saman, sehingga dapat memberi ruang gerak lebih bagi Ibnu Sina untuk mempelajari banyak hal (Rifai Shodiq Fathoni, 2019).

Masa Kecil 

Ibnu Sina telah menunjukkan bakat luar biasa sejak ia masih kecil. Pada usia lima tahun, dia belajar membaca Alquran. Selain mengaji, ia juga mempelajari ajaran agama. Kecerdasan Ibnu Sina memang sangat menonjol, sehingga seorang guru menasihati ayahnya untuk tidak bekerja kecuali untuk belajar dan memperoleh pengetahuan (Nurdyansa, 2017).

Masa Remaja 

Ibnu Sina mempelajari ilmu kedokteran sekitar usia 16 tahun. Ia bukan hanya belajar tentang teori kedokteran, tetapi juga langsung turun tangan melayani orang sakit dan melalui kemampuan berfikirnya yang sangat cerdas, ia juga menemukan metode-metode pengobatan baru. Kemudian pada usia 18 tahun Ibnu Sina memenangkan gelar fisikawan. Tidak hanya itu, ia juga mempelajari beberapa hal dan menjelaskan ayat-ayat Alquran.

Ibnu Sina juga merupakan seorang ahli filsafat. Pandangan-pandangan filosofisnya cukup terkenal dan berpengaruh pada masanya. Dia mempelajari dan menjelaskan banyak ayat Alquran untuk mendukung pandangan filosofisnya tersebut. Pada usia 22 tahun, ayahnya wafat. Sejak masa ini ia mulai berkelana, bertemu dengan para sastrawan dan ulama untuk mencari ilmu baru dan juga menyebarkan ilmu yang ia miliki. Ibnu Sina merupakan orang yang sangat produktif. Ia banyak menulis tentang banyak hal, namun sebagian besar dari karya-karyanya adalah tentang filsafat dan teori kedokteran. Karyanya yang paling terkenal adalah Qanun fi al-Tibb (The Canon of Medicine) yang memiliki peran besar untuk pengembangan ilmu medis saat itu dan menjadi cikal bakal pengobatan modern seperti sekarang ini.

Ibnu Sina juga berperan penting dalam perkembangan berbagai bidang keilmuan. Dia menerjemahkan karya Aqlides dan menjalankan observatorium astrologi. Ibnu Sina meneliti tentang ruang hampa, cahaya, dan panas dan menyumbangkan hasil penelitiannya itu ke ilmu pengetahuan dunia.

Saat usianya 35 tahun ia mengajar di Jurjan, kemudian berpindah ke Hamadan (sampai 44 tahun) yang saat itu dipimpin oleh Raja Syamsuddaulah. Ia kemudian dianggkat menjadi menteri karena berhasil menyembuhkan penyakit sang raja.

Ibnu Sina sempat ditangkap militer dan disita harta bendanya, dan berencana untuk membunuhnya, tetapi Syamsuddaulah melarang dan mengusirnya dari penjara. Kemudian raja menderita sakit perut (maag) dan Ibnu Sina berhasil menyembuhkannya, sehingga Ibnu Sina diangkat menjadi menteri untuk yang kedua kalinya (Agung Sasongko, 2019).

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.