Senin, 16 September 19

Kebangkitan Umat Islam Bukan Mimpi di Siang Bolong

Kebangkitan Umat Islam Bukan Mimpi di Siang Bolong

Jakarta, Obsessionnews -Nurcholish Madjid Society dan Mizan Publika menggelar acara bedah buku Kebangkitan Kedua Umat Islam: Jalan Menuju Kemuliaan di Jakarta, Kamis (2/7/2015). Hadir sebagai pembahas dalam acara tersebut Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA dan intelektual muslim Musa Kazhim.

Dalam siaran pers yang diterima obsessionnews.com, Senin (6/7)  disebutkan, acara yang digagas para pegiat Nurcholish Madjid Society ini membedah buku terbitan Noura Books sekaligus pemikiran sang penulis, Yusuf Effendi. Penulis merupakan seorang purnawirawan TNI AL yang pernah menjabat Panglima Armada Kawasan Barat dan Direktur Jenderal di Kementerian Pertahanan.

Dalam bukunya, Yusuf mengungkit kemiskinan dan keterbelakangan sebagai wajah buran umat Islam saat ini. Bertolak dari hal itu, Yusuf mengajak pembaca menggali spirit kejayaan Islam di masa lalu sebagai bekal untuk melakukan kebangkitan umat Islam di masa mendatang. Menurutnya, kejayaan Islam masa lalu antara lain terjadi karena sikap open religion dan open humanism terhadap peradaban lain. Maka tak heran jika umat Islam di masa lalu lebih maju beberapa langkah dibandingkan masyarakat dunia lainnya saat itu.

Lewat kajian yang mendalam dan menyeluruh, Yusuf berkesimpulan kebangkitan kedua umat Islam mesti berpegang pada demokrasi, akhlak, dan ilmu. Dengan demikian, kemiskinan dan keterbelakangan dapat bertransformasi menjadi kesejahteraan dan kemajuan.

“Buku ini sangat penting untuk dibaca. Saya berpikir ide kebangkitan Islam yang diusung buku ini selaras, bukan ancaman terhadap umat agama lain,“ ujar Azyumardi Azra.

Meski sepakat dengan Yusuf yang mengemukakan tiga syarat kebangkitan umat Islam yang terletak pada demokrasi, ilmu, dan akhlak, Azyumardi memiliki enam syarat lainnya. Yakni, pertama, stabilitas politik. Kemajuan umat Islam tergantung dari stabil atau tidaknya sistem politik. Semakin stabil sistem politik suatu negara, semakin tinggi potensi kebangkitan. Sebaliknya, semakin tidak stabil sistem politik suatu negara, semakin rendah potensi kebangkitan tersebut. Jika tidak ada stabilitas, maka kebangkitan itu hanya ilusi.

Kedua, kekuatan ekonomi, terutama yang bersumber dari minyak. Semakin ketergantungan suatu negara pada minyak, maka semakin rendah potensi kebangkitan itu. Oleh karena itu ekonomi yang bersumber dari sumber daya minyak harus diubah menjadi bersifat services.

Ketiga, pemahaman keagamaan (Islamic world view). Semakin inklusif pandangan keagamaan di sebuah negara, maka peluang maju di negara tersebut akan semakin terbuka. Sebaliknya, semakin sektarian pandangan keagamaan di sebuah negara, maka akan semakin suli kemajuan tercipta di dalamnya.

Keempat, pemikiran keislaman. Semakin moderen pemikiran keislaman umat Islam, maka peluang untuk maju semakin terbuka. Namun jika umat Islam selalu berorientasi ke belakang, niscaya hanya kemunduran yang akan terjadi. Demikian pula halnya, jika umat Islam semakin adaptif terhadap ilmu, maka peluang untuk maju akan mudah dicapai. Dan sebaliknya, semakin ia eksklusif terhadap ilmu, maka ia akan tertinggal dari peradaban.

Kelima, sistem sosial budaya. Semakin sistem sosial budaya itu menjunjung domestifikasi, maka semakin kecil peluang untuk maju. Dan keenam, semakin umat Islam bergantung pada orang lain (tidak mandiri), maka peluang untuk maju sangat kecil.

Dari tesisnya di atas, Azyumardi sepakat jika kebangkitan kedua umat Islam dapat terjadi di Indonesia. Hal tersebut didasarkan pada tiga hal, yakni pertama, mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam yang menerima dan menjunjung demokrasi; kedua, umat Islam Indonesia memiliki kecintaan yang tinggi terhadap Islam; dan ketiga, di Indonesia terjadi harmonisasi antara Islam dan modernitas yang terbuka terhadap keragaman.

Sementara itu Musa Kazhim melayangkan empat syarat kebangkitan umat. Pertama, umat Islam harus mendahulukan kepentingan umat dibandingkan individu maupun kelompoknya. Kedua, umat Islam harus mementingkan kekayaan intelektual (scientific) daripada kekayaan alam (material). Ketiga, umat Islam harus menghilangkan sektarianisme yang menjadi pangkal permusuhan antarumat. Dan keempat, umat Islam harus mampu menghilangkan underestimate mentality.

“Oleh karena itu perlu upaya serius untuk melakukan rekonsiliasi pemahaman keislaman saat ini. Dan Indonesia sangat layak menjadi tempat kebangkitan kedua umat Islam daripada Timur Tengah yang terlalu lelah dengan berbagai konflik. Saya kira, kebangkitan umat Islam di Indonesia bukanlah mimpi di siang bolong,” tandas Musa. (ARH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.