Selasa, 21 September 21

Kaum Minoritas Ikut Awasi Jalannya Pilkada Jateng

Kaum Minoritas Ikut Awasi Jalannya Pilkada Jateng

Semarang, Obsessionnews – Sebanyak 100-an kelompok minoritas diberi pelatihan teknis terkait pengawasan partisipatif oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Tengah (Jateng)  di Hotel Patra Jasa, Minggu (29/11/2015). Mereka terdiri Pekerja Seks Komersial (PSK), masyarakat disabilitas. dan sejumlah penyandang tunarungu, wicara dan tunanetra.

Para anggota masyarakat tersebut dilatih terkait pencoblosan dan pemberian materi pengawasan. Dimana mereka nantinya akan turut mengawasi jalannya Pikada di tps setempat.

“Termasuk nanti ada potensi pelanggaran yang terjadi, kita sediakan formulir dan id card (pengawas). Harapannya mereka yang berkebutuhan khusus mampu melaksanakan haknya sekaligus ikut mengawasi,” terang dia.

Dikatakan kaum minoritas juga dapat berpartisipasi aktif mencegah pelanggaran kampanye. Bila pelanggaran sudah terjadi, mereka dapat melapor ke Panitia Pengawas, untuk ditindaklanjuti tentang laporan yang mereka sodorkan.

Meski jumlah, pengawas partisipatif tersebut sedikit, namun peran mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab, surat suara milik mereka juga dapat mempengaruhi pemilihan. Sehingga Bawaslu tetap memberikan pemahaman agar mampu memilih secara baik dan benar.

bawaslu jateng disabilitas

Teguh mengaku, dalam acara ini juga bekerja sama dengan pendamping bagi kaum disabilitas. Memang, dari pantauan obsessionnews.com, selama jalannya acara, terdapat seorang petugas yang memberikan isyarat bagi penyadang tunarungu.

“Kegiatan ini tidak dilakukan disini saja. Tapi juga di Solo raya yang nanti dipusatkan di kota Solo. Jadi mereka pulang sudah mengetahui ilmu pengawasan dan teknis pilkada,” tambah pria berpeci ini.

Sementara satu orang penyandang disabilitas, Reki Priyanto, mengaku mengikuti kegiatan agar mengetahui cara mencoblos. Pasalnya, mereka sering merasa kesulitan saat ingin menggunakan hak suara karena kekurangan fisik.

“Selain itu saya dari hati kecil ingin jadi pengawas karena kelompok kami rentan untuk dicurangi. Misalnya ruang pencoblosan terbuka. Setidaknya untuk mengawasi,” tuturnya sambil duduk diatas kursi roda.

Terkait alat khusus bagi pencoblos dari kalangan cacat fisik, Bawaslu sudah menyediakan peralatan standar. Namun, beberapa masalah musti mereka hadapi seperti kondisi ruangan yang terlalu banyak meja.

“Untuk kami kadang kesulitan. Disitu terganggunya saat mencoblos bisa terjadi. Mungkin bisa dipengaruhi sama yang mendampingi,” tandasnya. (Yusuf IH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.