Jumat, 24 September 21

Kaum Difabel Merasa Kondisi Orba dan Sekarang Sama Saja

Kaum Difabel Merasa Kondisi Orba dan Sekarang Sama Saja

Bandung, Obsessionnews – Bagi penyandang disabilitas, kondisi Orde Baru (Orba) dan jaman reformasi saat ini sama saja, tidak ada yang berbeda. Para tuna netra, tuna rungu dan tuna wicara masih merasakan adanya diskriminasi terhadap kaum panyandang cacat. Hal ini diakui ketua Ikatan Alumni Wyata Guna Jawa Barat Suhendar kepada obsessionnews.com, Kamis (21/5/2015).

Digulirkannya reformasi 17 tahun silam belum menampakan adanya perubahan yang mendasar terhadap regulasi atau peraturan terhadap mereka. “Kalaupun banyak yang mengaku Orde baru kita dikekang dengan banyaknya peraturan yang menyandera, maka saat inipun tidak ada yang berbeda,” tegasnya.

Segalanya tetap bermuara pada aturan yang diberlakukan, saat ini kaum difabel masih sulit untuk mencari pekerjaan, begitupun terhadap kebutuhan para penyandang tuna netra. Dicontohkannya untuk membeli Alquran Braille saja sangat sulit karena harga begitu tinggi mencapai Rp. 1,5 juta, sementara Alquran biasa bisa dibeli dengan harga Rp150 ribu.

Menurut Suhendar, dulu 1 dollar setara dengan Rp2500, sekarang 1 dollar mencapai Rp 13 ribu, tapi tetap karena aturannya tidak berpihak kepada para penyandang cacat, maka semakin berat saja kehidupan saat ini bagi para difabel tersebut. “Saya akui memang saat ini untuk mendapat informasi begitu mudah, kran demokrasi begitu luas, namun apa artinya semua itu apabila masih terjadi diskriminasi atas regulasi yang ada,” ucapnya.

Ia berharap banyak kemudahan yang diberikan Pemerintah kepada para penyandang cacat ditengah besarnya kekurangan yang dimiliki kaum penyandang cacat.

Berdasarkan  Data Pusdatin Depsos tahun 2008 bahwa jumlah Penyandang Cacat di Indonesia sudah mencapai 1.544.184 jiwa, sementara itu menurut catatan WHO, jumlah penyandang cacat di Indonesia mencapai sekitar 10 persen dari seluruh jumlah penduduk, meningkatnya jumlah penyandang cacat di Indonesia akibat adanya beberapa faktor diantaranya karena faktor bencana alam, perubahan kondisi kesehatan, perubahan gaya hidup, polusi, kekurangan gizi dan sebagainya.

difabel2

Berdasarkan data yang bersumber dari Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan yang telah mengadakan ekspos data penyandang cacat klasifikasi ICF bekerjasama dengan PT. Surveyor Indonesia (Persero) yang dirilis pada tanggal 16 Februari 2009, menyebutkan bahwa berdasarkan survey Data Penyandang Cacat yang diperoleh dari 9 Provinsi yaitu Provinsi Jambi, Bengkulu, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Jawa Barat, setelah sebelumnya pada tahun 2007 telah diadakan kegiatan serupa di 5 Provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur.

Sementara berdasarkan hasil pendataan/survey jumlah penyandang cacat pada 9 provinsi tersebut sebanyak 299.203 jiwa dan 10,5% (31.327 jiwa) merupakan penyandang cacat berat yang mengalami hambatan dalam kegiatan sehari-hari (Activity Daily Living/ADL). Sekitar 67,33% penyandang cacat dewasa tidak mempunyai keterampilan dan pekerjaan.

Jenis keterampilan utama penyandang cacat adalah pijat, pertukangan, petani, buruh dan jasa. Jumlah penyandang cacat laki-laki lebih banyak dari perempuan sebesar 57,96%.

Jumlah penyandang cacat tertinggi ada di Provinsi Jawa Barat (50,90%) dan terendah ada di Provinsi Gorontalo (1,65%).

Dari kelompok umur, usia 18-60 tahun menempati posisi tertinggi. Kecacatan yang paling banyak dialami adalah cacat kaki (21,86%), mental retardasi (15,41%) dan bicara (13,08%).

Dari data di atas bahwa jumlah penyandang cacat di Provinsi Jawa Barat merupakan yang terbesar, jika dibandingkan dengan 8 provinsi lainnya. Dengan demikian bisa diperkirakan prevalensi anak cacat atau yang disebut dengan anak berkebutuhan khusus di Jawa Barat tentunya juga lebih besar jika dibandingkan dengan daerah lain. (Dudy Supriyadi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.