Rabu, 8 Desember 21

Kata Kristiadi, Kesalahan Ical Lebih Besar

Kata Kristiadi, Kesalahan Ical Lebih Besar

Jakarta, Obsessionnews – Drama politik Partai Golkar semakin jauh dari harapan publik, kedua kubu masih menunjukkan kekuatanya masing-masing untuk menguasai partai berlambang pohon beringin itu, terlebih saat Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) mengeluarkan putusan sela, kubu Aburizal Bakrie dinilai semakin percaya diri (PD).

‎Pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) J Kristiadi ‎mengatakan, dirinya tidak bisa membayangkan bila partai sebesar Golkar terus berkonflik tanpa ada niat untuk berdamai antara dua kubu. Mestinya sebagai partai yang cukup tua, Golkar mampu menjadi contoh bagi partai yang lain, dan mampu mengelola konflik di internal.

“Golkar sudah seperti kehilangan orientasi‎, janji-janji mereka saat kampanye seolah tidak dihiraukan lagi karena sibuk mengurusi kalah dan menang,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (1/4/2015).

Menurutnya, kedua kubu sama-sama salah. Namun, dibanding kubu Agung Laksono, kubu Aburizal Bakrie jauh lebih parah. Sebab, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly (Menkumham) sudah mengesahkan kepengurusan Partai Golkar versi Munas Ancol yang dipimpin oleh Agung, dalam surat keputusan tersebut Yasonna juga sudah meminta Agung untuk mengakomodir kubu Aburizal.

Artinya, kata Kristiadi, ‎kubu Aburizal mestinya legowo dan mau menerima kekalahan politiknya. Menurut Kristiadi, tindakan dia yang terus melawan secara politik maupun hukum terhadap Menkumham, justru semakin menunjukan bahwa merekalah yang sebenarnya haus kekuasaan. Padahal, menurutnya, Menkumham hanya menjalankan putusan sesuai administrasi.

“Jadi bobot keblingeran kubu Aburizal lebih berat dari kubu Agung. Salah besar kalau Aburizal tidak mengakui kepengurusan Agung,” ujarnya.

Ia melihat kinerja Golkar semakin tidak efektif, hal itu bisa diukur dengan kinerja anggota DPR dari Partai Golkar yang kerjanya setiap hari bertengkar membangun opini dengan memanfaatkan media. ‎Seakan mereka sudah lupa, bahwa mereka dipilih oleh rakyat untuk bekerja bukan untuk bertengkar.‎

“Publik harus menekan supaya tingkat kewarasan Golkar meningkat. Kedua kubu harus kembali ke khitah awal, kemenangan otentik itu rakyat, bukan kekuasaan,” jelasnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.