Jumat, 24 September 21

Kasus Angeline Kejam, JuPe Gelar Aksi Tolak Kekerasan Anak

Kasus Angeline Kejam, JuPe Gelar Aksi Tolak Kekerasan Anak

Semarang, Obsessionnews – Kekerasan anak menyita perhatian masyarakat luas setelah terungkapnya kasus Angeline. Berbagai kalangan mulai tergugah hatinya untuk mengawasi maraknya kasus kekerasan terhadap anak. Jurnalis Perempuan (JuPe) menggelar aksi penandatanganan spanduk di area Car Free Day (CFD) Semarang, Minggu (21/6/2015).

Aksi yang dimulai sedari pagi ini sebagai bentuk dukungan dicanangkannya Kota Semarang sebagai Kota Layak Anak. Puluhan jurnalis perempuan se-Kota Semarang tersebut membawa berbagai macam poster dan selembar kain putih untuk ditandatangani pengunjung.

Koordinator aksi, Ning Suparningsih menjelaskan aksi tersebut digelar agar pemerintah memenuhi hak anak sesuai pasal 21 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. “Apalagi dengan terjadinya kasus Angeline di Bali. Dengan adanya kasus tersebut menunjukkan bahwa selama ini anak-anak masih menjadi korban kekerasan,” terangnya.

Kegiatan itu juga dihadiri oleh Bunda Duta Perlindungan Anak Jawa Tengah, Dewi Susilo Budiharjo. Dirinya mengatakan Kota Semarang memang sudah dinyatakan sebagai Kota Layak Anak. Namun dengan adanya kasus Angeline telah menyadarkan dirinya bahwa masih banyak kekerasan terhadap anak yang belum terungkap

“Saya harap jangan sampai ada Angeline lainnya. Kita harus bisa menjaga anak-anak agar merasa aman dan terlindungi,” ujar Dewi.

Sebelumnya, kasus serupa pernah terjadi pada tahun 2009 di Kota Semarang. Seorang bocah, Ahuna Tri Lestari (12) meninggal karena dibunuh dengan sadis oleh kawanan perampok. Akan tetapi hingga kini kasus tersebut berhenti dan tidak ada tindak lanjut dari aparat yang berwenang. Sumarmo (56) warga Jalan Gedong Songo Barat RT.08/RW.02, Kelurahan Manyaran, Semarang Barat merupakan orang tua Ahuna yang turut menghadiri aksi. Ia menyampaikan kepada awak media, selama 6 tahun kasus anaknya belum juga terungkap.

“Saya sudah melaporkan ke polisi, tapi katanya para perampok itu sudah lari ke Lampung. Kemudian baru-baru ini ada kenalan polisi yang mengatakan pelakunya ke Medan. Polisi bilang tidak ada biaya. Tapi saya tidak tahu benar atau tidak,” kata Sumarmo sambil mengeluarkan air mata.

Dirinya hanya berharap melalui aksi yang diusung oleh JuPe, pihak pemerintah mampu mendorong Kepolisan agar kembali membuka penyelidikan atas kasus yang menimpa anaknya tersebut.

Aksi petisi itu nyatanya mampu menyedot perhatian. Banyak ibu-ibu yang datang memberikan dukungan sambil membawa anak mereka. Bahkan muda-muda tak ketinggalan membubuhkan tanda tangan serambi mengabadikan momen bersama keluarga. (Yusuf IH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.