Jumat, 17 September 21

Kasda Raib, BTPN Tegaskan Tak Pernah Keluarkan Sertifikat Palsu

Kasda Raib, BTPN Tegaskan Tak Pernah Keluarkan Sertifikat Palsu

Semarang, Obsessionnews – Sebagai respon kasus hilangnya kas daerah (kasda) Kota Semarang, Bank Tabungan Pensiunan Negara (BTPN) menegaskan pihaknya sejak awal tidak pernah mengeluarkan dokumen dalam bentuk sertifikat deposito senilai Rp 22,7 miliar.

“Informasi resmi mengenai hasil uji laboratorium forensik belum, jika informasi itu benar ya tentu sangat berharga untuk menuntaskan kasus ini,” tutur Corporate Communication Head BTPN, Eny Yuliati, saat dihubungi awak media via telefon, Jum’at (22/5/2015).

Meski begitu, lanjut Eny, pihaknya sangat mengapresiasi tindakan Polrestabes Semarang dalam penindakan kasus sertifikat deposito palsu yang merugikan negara puluhan miliar.

BTPN selaku stakeholder terkait kasus kasda mendukung penuh upaya penegak hukum guna penyelesaian masalah ini hingga tuntas. “Kami juga menghargai dan menghormati proses hukum yang sedang berjalan,”

Sebelumnya, Polrestabes Semarang mengindikasikan sertifikat deposito yang diklaim Pemkot Semarang sejumlah Rp 22,7 miliar adalah palsu. Hal ini diperkuat dengan hasil uji Laboratorium Forensik (Labfor) yang dikeluarkan Puslabfor.

Sontak, laporan tersebut membuat gempar industri perbankan kota Semarang sekitar bulan Maret 2015 lalu. Pemkot Semarang langsung melaporkan BTPN terkait hilangnya uang kas daerah senilai Rp 22,7 milliar yang tersimpan di bank tersebut. Begitu juga pihak BTPN tak kalah seru dengan melaporkan mantan karyawannya yang diduga main mata dengan pejabat Pemkot Semarang.

Usai terangkat di media massa, baik terlapor maupun pelapor menyatakan bersedia datang dalam panggilan pemeriksaan. Hingga akhirnya kasus bergulir ke meja hijau dan ditemukan beberapa bukti, salah satunya sertifikat deposito yang disangka dikeluarkan oleh BTPN. (Yusuf IH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.