Rabu, 26 Februari 20

Karya Musik Bob Dylan Lahir dari Ketekunannya Membaca Buku

Karya Musik Bob Dylan Lahir dari Ketekunannya Membaca Buku
* Bob Dylan. (Foto: KMazur—WireImage/Getty Images)

Bob Dylan penyanyi lagu-lagu balada sejak era 1970-an. Membaca memoarnya, Bob Dylan’s Chronicle, banyak hal baru, atau memantik pikiran-pikiran baru. Dylan termasuk segelintir penyanyi langka yang hobi membaca buku.

“Kadang sulit mengatakan apa yang kita inginkan dengan kata-kata, tapi punya kerangka dasar apa yang harus kita cari,” katanya.

Buku memoar Bob Dylan’s Chronicle. (Foto: books.google.co.id)

Agaknya itulah yang jadi pedoman dirinya untuk rajin membaca di perpustakaan daerah tempat tinggalnya. Atau bahkan sebuah perpustakaan besar di New York. Kelak banyak karya musiknya merupakan kombinasi folk dan jazz, lahir dari ketekunannya membaca berjam-jam di berbagai perpustakaan. Entah itu koran-koran setempat, majalah berkala, hingga buku-buku literatur.

Maka nggak heran seorang artis macam dirinya pernah baca Carl von Clousewitz, on War. Bacaan maha berat buat mahasiswa ilmu politik dan kemiliteran sekalipun. Yang mana di Indonesia, para perwira militer kita baru mengunyah buku itu pas sudah jenderal bintang satu atau dua.

Bahkan dalam mengulas filsafat, Dylan juga mampu menyerap kedalamannya, tanpa harus bergenit-genit bak seorang filsuf. Dylan menangkap adanya fenomena di pentas politik yang agaknya coba dirumuskan secara filosofis. Menurut Dylan, kalau orang berpura-pura, itu bukan hal luar biasa.

Namun ketika seseorang berusaha memberi kesan berpura-pura kepada khalayak ramai, agaknya mengundang minat khusus Dylan.

Bisa jadi estimasi Dylan justru semakin relevan buat membaca sepak-terjang politisi dan para pemimpin kita. Bahwa mereka bukannya berusaha berpura-pura. Tapi justru mau memberi kesan mereka sedang berpura-pura.

Jangan-jangan Dylan benar. Jangan-jangan inilah yang membuat kita salah perhitungan dalam membaca akting para aktor politik kita selama ini. Bukan saja pandai berpura-pura. Namun kadang dengan membaca suasana kebatinan publik, mereka berakting seakan pura pura, sehingga publik terkecoh, bahwa kali ini mereka justru sungguhan. Entah sungguhannya itu buat maslahat orang banyak. Atau justru buat merusak. (Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute)

 

Baca juga:

Bob Dylan Ditakdirkan Jadi Musisi Legendaris

Bob Dylan Dianugerahi Nobel Sastra, Tapi Dicap Sombong

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.