Selasa, 28 September 21

Kartel Nakal Bermain Harga, Polisikan Saja!

Kartel Nakal Bermain Harga, Polisikan Saja!
* Gubernur Irwan Prayitno. (Musthafa Ritonga)

Padang, Obsessionnews – Kenaikan harga sejumlah komoditi di pasaran, ditenggarai akibat adanya persengkolan dan permainan kartel atau pedagang besar di pasar-pasar tertentu seperti pasar tradisional Pasar Raya Padang dan Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar).

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar sudah mengetahui adanya dugaan tersebut, sehingga berdampak terhadap kenaikan harga sejumlah komoditi di pasaran. Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan intelijen daerah, untuk memastikan dugaan dimaksud.

“Intelijen akan membentuk satuan petugas yang nantinya melakukan pemantauan ke lapangan. Jika terbukti ada monopoli atau persekongkolan penjualan komoditi penting, pedagang bersangkutan bisa langsung dibawa ke ranah hukum. Tidak perlu ke Gubernur, langsung saja ke polisi. Aturannya kan jelas,” kata Irwan Prayitno dalam suatu kesempatan saat rapat koordinasi persiapan menyambut Ramadhan, Senin (1/6/2015).

Irwan Prayitno mengatakan, sejumlah komoditi yang rentan dipermainkan seperti cabe merah dan bawang. Dua komoditi itu rentan untuk dipermainkan oleh kelompok pedagang yang bersekongkol menguasai dan mengatur pemasaran sekaligus harga penjualan cabai dan bawang, sehingga pedagang lain tidak bisa ikut bersaing secara sehat. Akibat ulah oknum pedagang besar, harga cabai melonjak tinggi dan memicu inflasi tinggi.

Irwan Prayitno menjelaskan, kegiatan persekongkolan bisa dijerat pidana denda sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Hal yang sama dikatakan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sumbar Mudrika. Penyebab cabe lokal yang ada di Sumbar dijual ke luas Sumbar salah satunya karena permainan kelompok pedagang besar. Mereka lebih mengutamakan cabe yang berasal dari luar Sumbar sehingga petani cabai lokal lebih memilih menjual hasil produksinya keluar Sumbar daripada busuk di dalam truk. Akibatnya, harga cabe diatur oleh kelompok pedagang besar dan terjadi kenaikan harga.

Setelah adanya dugaan persekongkolan pedagang besar, pihak Disperindag Sumbar secara rutin melakukan pemantauan ke pasr-pasar untuk memantau harga dan mengawasi apabila ada kenakalan perdagangan. “Jika ditemukan ada permainan harga oleh pedagang, bersangkutan akan dilaporkan kepada pihak kepolisan,” ujar Mudrika saat dihubungi obsessionnews.com Minggu (7/6).

Mudrika mengatakan, stok cabe yang tersedia saat ini mencukupi hingga bulan suci Ramadhan dan masyarakat tidak perlu khawatir akan terjadi kekurangan. Stok cabe yang tersedia mengalami surplus sekitar 1.254 ton dari jumlah ketersediaan 4.320 ton, sementara kebutuhan 1.837 ton. Belum lagi, dalam waktu dekat akan masuk masa panen cabai merah lokal. (Musthafa Ritonga)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.