Kamis, 2 Desember 21

Karena Kesalahan ini, OC Kaligis Yakin Menang Lawan KPK

Karena Kesalahan ini, OC Kaligis Yakin Menang Lawan KPK

Jakarta, Obsessionnews – Kubu Otto Cornelis Kaligis, menilai ada sejumlah kekeliruan yang dilakukan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat melayangkan surat panggilan, penangkapan hingga penetapan OC Kaligis sebagai tersangka. Kekeliruan itu menurut mereka patut diuji di sidang praperadilan.

“Kalau mengembangkan penyidikan maka KPK harus melakukan penyelidikan lebih dulu dengan memanggil OC Kaligis sebagai saksi. Setelah pemeriksaan ada indikasi maka KPK baru menetapkannya sebagai tersangka,” ujar kuasa hukum OC Kaligis, Alamsyah Hanafiah di Jakarta, Senin (27/7/2015).

Alamsyah mengatakan dalam aturannya, setelah meningkatkan status OC Kaligis sebagai tersangka selanjutnya KPK menerbitkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik). Dengan dasar sprindik itu pula, KPK bisa langsung memeriksa OC Kaligis sebagai tersangka.

“Permasalahannya, laporan tindak pidana korupsi baru ada pada tanggal 13 Juli, pada hari yang sama Sprindik dikeluarkan, padahal dia (OC Kaligis) mau diperiksa sebagai saksi tanggal 13 Juli, juga tiba-tiba ada Surat Perintah Penangkapan tanggal 13 Juli,” terangnya.

Alamsyah Hanafiah
Alamsyah Hanafiah

Dalam surat yang diterima dari KPK tertulis bahwa Laporan Kejadian Tindak Pidana Korupsi Nomor : LKTPK-05/23/07/2015 tertanggal 13 Juli 2015, sedangkan Sprindik Nomor: Sprin-Dik-25/01/07/2015 tertanggal 13 Juli 2015, serta Surat Perintah Penangkapan bernomor: Sprin.Kap-02/01/07/2015 tanggal 13 Juli 2015.

“Surat perintah penangkapan keluar tanggal 13 Juli ditandatangani Ketua KPK. Realisasi pengkapan tanggal 14 Juli 2015,” ungkap dia.

Menurut Alamsyah penetapan sebagai tersangka dan Penangkapan kliennya oleh KPK sangat prematur. Hal inilah yang bakal mereka ungakap dalam sidang gugatan praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta.

“Ini mendahului dari penyelidikan. Jadi untuk tersangka Kaligis harusnya dilakukan penyelidikan dulu karena laporan tindak pidana korupsi terhadap Kaligis baru ada tanggal 13 Juli. Makanya dalam konteks ini merupakan pengembangan dari OTT tanggal 9 Juli terhadap hakim cs,” kata Alamsyah.

Ia melanjutkan setelah KPK mengeluarkan surat panggilan tanggal 13 Juli dan apabila Kaligis tidak hadir, maka sesuai dengan ketentuan KUHAP, KPK harus melakukan panggilan kedua, hingga upaya paksa bila mangkir, bukan sebaliknya melakukan penangkapan.

“Jadi kami berkeyakinan ini sebuah kekeliruan besar,” tegasnya. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.