Rabu, 29 Januari 20

Karen Mundur Karena Tak Kuat “Ditekan”

Karen Mundur Karena Tak Kuat “Ditekan”

Jakarta – Berita pengunduran diri Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Galaila Agustiawan  dari jabatannya dengan alasan ingin berkarir di luar perusahaan itu, mengajar di Harvard University dan mengurus keluarga, masih menimbulkan tanda tanya. Betulkan dia mundur lantaran tak kuat “ditekan” petinggi negeri.

Hal itu dikuatkan oleh mantan Sekertaris Menneg BUMN Said Didu, yang mengaku bahwa sudah lama sebenarnya Karen berniat mengundurkan diri. Namun, selalu ditolak pemerintah, lantaran, kiprahnya masih diperlukan untuk mengendalikan BUMN migas kelas dunia itu.

“Saya tahu beliau sangat profesional, mungkin hanya tidak kuat menahan tekanan dan ketidaktegasan pemerintah,” kata Said Didu.

Sedangkan ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menilai pengunduran diri Direktur Utama PT Pertamina Karen  lantaran perempuan itu tak kuat menghadapi tekanan.“Saya tahu beliau sangat profesional, mungkin hanya tidak kuat menahan tekanan, perseroan selalu diminta meningkatkan laba, sementara pemerintah sendiri tidak tegas dalam menjalankan kebijakan,” katanya.

Ketidaktegasan pemerintah tersebut, menurut Faisal nampak dari inkonsistensi kebijakan pemerintah di sektor energi. Misalnya kenaikan harga LPG dan BBM subsidi yang mengalami pasang surut. “Jadi terlalu banyak Intervensi. Pertamina udah naikin LPG, Pemerintah nurunin lagi, sebagai perusahaan, Pertamina pasti malu, ngapain jadi Dirut Pertamina kalau tidak bisa mengatur perseorannya secara mandiri, mungkin begitu yang dipikirkan beliau,” tambahnya.

Menurut Faisal, Karen adalah sosok pemimpin perusahaan pelat merah yang memiliki kinerja baik. Dibawah kepemimpinannya, Pertamina mengalami korporatisasi yang lebih baik.

Dengan pengunduran diri Karen, kemungkinan besar posisi dirut Pertamina akan kembali menjadi kursi panas. “Pertamina terkenal sering ganti-ganti dirut. Posisi ini selalu dipertarungkan, dulu antara Purnomo Sugiantoro yang menjagokan Nur Pamudji versus Sri Mulyani yang menjagokan Karen,” tuturnya.

Setelah enam tahun menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan memilih mengundurkan diri per 1 Oktober 2014. Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan mengatakan telah menerima surat pengunduran diri Karen. “Betul, Dirut Pertamina telah mengajukan pengunduran diri,” kata Dahlan di Kementerian BUMN.

Menurut Dahlan, kemunduran diri Karen lantaran perempuan tersebut ingin meneruskan karirnya mengajar di universitas Harvard.

“Surat pengunduran diri Ibu Karen sudah kami terima, dan memenuhi permintaan tersebut,” kata Menteri BUMN Dahlan Iskan, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin.

Menurut Dahlan, pemegang saham tidak bisa lagi menahan Karen untuk tetap memimpin Pertamina.

“Harvard Univesity sudah terus menyurati agar Karen siap dan langsung mengajar di sana,” kata Dahlan.

Dahlan juga mengapresiasi perempuan lulusan Sarjana Teknik Fisika ITB tersebut, yang sukses membawa Pertamina masuk jajaran perusahaan terkemuka di dunia dalam 500 Global Fortune.

Meski begitu Dahlan menampik isu bahwa kemunduran Karen terkait dengan persoalan rencana kenaikan BBM.

“Tidak…ini murni karena Ibu Karen mau mengajar,” ujarnya.

Dahlan juga tidak menyebutkan siapa sosok pengganti perempuan kelahiran Bandung, 19 Oktober 1958 ini.

“Diserahkan kepada Komisaris Pertamina untuk menentukan pejabat sementara Dirut Pertamina. Soal nama biarkan komisaris yang menentukan,” ujarnya.

Dahlan mengatakan, masa tugasnya sebagai Menteri BUMN segera berakhir dalam dua bulan ke depan, sehingga tidak dapat mengambil keputusan.

“Harus diputuskan pada pemerintahan baru,” katanya.

Semoga saja pemerintah yang baru bisa memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada Dirut Pertamina yang baru, untuk berkiprah secara profesional. Sehingga selain membuat perusahaan BUMN itu semakin berkilau, juga bisa memberi faedah bagi banyak orang. Amien.

Related posts