Kamis, 26 Mei 22

Kapolri janji Ungkap Dalang Rusuh Tanjung Balai

Kapolri janji Ungkap Dalang Rusuh Tanjung Balai
* Kapolri Tito Karnavian di kantor CDCC, Jakarta Pusat

Jakarta, Obsessionnews.com- Kapolri, Jenderal Tito Karnavian berjanji mengusut siapa sebenarnya yang berada dibelakang aksi rusuh berbau Suku Ras Agama dan Antar Golongan di Tanjung Balai, Sumatera, Sabtu (30/7/2016) lalu.

Kapolri di sela pertemuan di CDCC, Jakarta Pusat, Kamis (4/8/2016) mengatakan, sampai saat ini telah 19 orang ditahan terkait kerusuhan ini atau yang dianggap melakukan provokasi. 15 bangunan rusak, terdiri atas 4 wihara, 8 kelenteng, 2 yayasan sosial, dan rumah ibu M.

Indonesia memang rawan untuk kasus SARA semacam ini, salah satunya karena para provokator beraksi lewat media sosial sehingga berita menyebar cepat tapi tanpa bisa dipertanggungjawabkan isi beritanya, jelas Tito.

Jika tidak cepat ditangani, dikhawatirkan aksi serupa bisa meledak di beberapa daerah di tanah air, tambah Kapolri.

Sebelumnya, Aliansi Sumut Bersatu (ASB) menilai aksi anarkis yang terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara sebagai tindakan yang dilakukan oleh mereka yang tidak menghendaki perdamaian dan keberagaman.

Berdasarkan tim pencari fakta yang diturunkan mereka ke tempat kejadian perkara, langsung pada saat kejadian, didapatkan hal sebagai berikut:

Bahwa pada hari Jumat, (29/7/2016) saat adzan Maghrib sekitar pukul 18.30 ibu M yang beralamat di Jl Karya, mendatangi Masjid Al Makshum untuk memberitahukan pengurus masjid untuk mengecilkan volume pengeras suara masjid, karena ibu M sedang sakit.

Suara adzan cukup mengganggu ibu M karena jarak masjid dengan rumahnya hanya 4 meter.

Awalnya pengurus masjid mendatangi rumah ibu M untuk minta maaf, dan volume pengeras suara dikurangi. Tapi hal itu menjadi pertanyaan warga sekitar, dan dijelaskan oleh pengurus masjid.

Beredarlah cerita dari mulut ke mulut dan melalui facebook. Sebagian warga yang beragama Islam tersulut emosinya.

Sekitar pukul 21.00, massa mendatangi rumah ibu M dan meminta maaf, tapi ibu M menolak dan hanya suaminya yang minta maaf.

Massa marah dan melempari rumah ibu M sehingga keluarganya harus diungsikan ke rumah lurah dan dibawa ke kantor polisi.

Sebagian massa yang tersulut emosinya membakar peralatan ibadah dalam beberapa wihara di beberapa tempat. Kejadian ini berlangsung pada pukul 23.00.

Hari Minggu, (31/7), suasana mencekam di Tanjung Balai, dan toko-toko milik etnis Tionghoa ditutup. Warga Tionghoa tak berani keluar rumah, beberapa mengungsi keluar Tanjung Balai.

Tapi reaksi aparat setempat dan tokoh agama cukup cepat meredam anarkisme ini. ASB juga mengapresiasi tindakan cepat dari Kapolda, Kapolri, Gubernur Sumatera Utara, TNI dalam melokalisir dampak aksi anarkisme ini. @baronpskd

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.