Kamis, 5 Agustus 21

Kapal Selam dengan Kecerdasan Buatan Ini Harganya Rp26,4 Triliun

Kapal Selam dengan Kecerdasan Buatan Ini Harganya Rp26,4 Triliun
* Peluncuran kapal selam HMS Anson. (Foto: BBC)

Inggris membuat kapal selam dengan kecerdasan buatan senilai Rp26,4 triliun, apa istimewanya?

Pada 20 April, kapal selam pemburu-pembunuh bertenaga nuklir terbaru milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris, HMS Anson, muncul dari aula konstruksi nan luas di Barrow-in-Furness, menyusuri tempat peluncuran dan memasuki air.

Berat keseluruhannya 7.400 ton.

Sekitar 260 mil jauhnya di Plymouth, kapal selam lain melakukan debutnya pada hari yang sama.

Sedikit lebih ringan dibandingkan dengan HMS Anson, kapal rahasia seberat sembilan ton ini barangkali memiliki implikasi yang jauh lebih besar bagi masa depan angkatan laut ketimbang kapal nuklir senilai £1,3 miliar (setara dengan Rp26,4 triliun).

 

MSubs of Plymouth, sebuah perusahaan yang mengkhususkan pada wahana bawah air otonom, alias tanpa awak, memenangkan kontrak dari Kementerian Pertahanan senilai £2,5 juta untuk membangun dan menguji Extra-Large Unmanned Underwater Vehicle (XLUUV) – wahana bawah air berukuran sangat besar tanpa awak – yang seharusnya dapat beroperasi hingga 3.000 mil dari pangkalan selama tiga bulan.

Inovasi terbesar di sini adalah kapal selam itu tanpa awak. Pergerakan dan aksi kapal selam akan diatur sepenuhnya oleh artificial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan.

Ollie Thompson, baru saja lulus dan tengah studi guna mendapat gelar master di bidang robotika di Universitas Plymouth.

Dia juga bekerja untuk MarineAI, bagian dari MSubs yang memasang ‘otak’ pada XLUUV.

 

Thompson tidak menyangsikan tantangan yang dia dan rekan-rekannya hadapi, “Kami tahu banyak orang tidak percaya pada AI. Jadi kami bekerja dengan elemen yang dapat kami uji, kami memisahkan berbagai hal ke dalam beberapa kotak.”

Dia memilah permasalahan AI menjadi beberapa komponen dan manajemen misi merupakan yang paling pelik.

Mereka melakukan berbagai percobaan untuk melakukan simulasi kehadiran seorang kapten terlatih dalam pemrograman kapal selam tersebut.

Kinerja AI dalam isolasi total dari kontak manusia, paling tidak karena pemantauan radio silence – penghentian transmisi demi alasan keselamatan atau keamanan – yang ketat sangatlah penting untuk peran rahasia kapal selam.

 

Hal prinsip dari aspek teknis di sini adalah pembelajaran mesin, yang menunjukkan contoh program AI tentang bagaimana tugas harus dilakukan hingga tindakan yang tepat telah tertanam dalam repertoarnya sendiri.

Untuk melakukan ini, MarineAI menggunakan superkomputer IBM AC922 yang amat besar, “sosok monster, salah satu yang terbesar di Barat Daya Inggris,” ujar Thompson.

Sebaliknya, otak kapal selam berada di kotak persegi berukuran 15 cm dan mengandalkan keping Nvidia yang sering ditemukan saat menjalankan komputer game.

“Kami membuatnya pada bagian belakang keping Nvidia karena sangat hemat energi,” kata Thompson.

Sama seperti perangkat Raspberry Pi yang kecil tapi kuat yang digunakan untuk mengajar anak-anak sekolah untuk tugas pemrograman dasar, pendekatan ini hanya membutuhkan sedikit daya.

Dan menjaga konsumsi daya seminimal mungkin sangatlah penting guna membuat baterai kapal selam dapat bertahan lama.

Jelas bahwa Kementerian Pertahanan sangat memperhatikan teknologi baterai untuk proyek ini.

Selama ini MarineAI mengandalkan teknologi yang ada, yaitu berasal dari baterai mobil. Tapi ini menjadi catatan bahwa penelitian terkait bidang ini melompat ke depan.

Konten AI komputer harus memprioritaskan berbagai tugas.

Proyek ini membayangkan sebuah kapal yang dapat melakukan perjalanan ke dasar laut untuk mencari ranjau atau menempatkan perangkat elektronik-intelijen canggih atau berada di tempat dan menjelajahi kawasan lingkungannya untuk mendapatkan informasi perihal angkatan laut musuh.

Jadi, MarineAI menciptakan kapasitas pengambilan keputusan bagi otak kapal selam.

Hal itu akan mengetahui berapa banyak masa pakai baterai yang tersisa dan bagaimana menimbangnya dengan kondisi cuaca dan kondisi laut, mencapai keputusan logis tentang apakah akan berlayar atau kembali ke pangkalan saat menghadapi gelombang pasang yang kuat.

Proyek ini meninggalkan lautan luas untuk diseberangi. Misalnya, bagaimana kapal selam mendeteksi benda-benda kecil di permukaan seperti jet-ski?

Semua dilema ini bukanlah hal penting bagi kapten kapal selam manusia.

Komandan Ryan Ramsey menjadi kapten HMS Turbulent pemburu-pembunuh dan mengajar di Perisher, sebuah kursus selama lima bulan yang digunakan angkatan laut untuk mendorong calon nakoda kapal selam sampai batas kemampuan maksimalnya. (Red)

Sumber: BBC News

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.