Rabu, 25 Mei 22

Kampus Berperan Strategis Ajarkan Rasionalitas

Kampus Berperan Strategis Ajarkan Rasionalitas

Semarang, Obsessionnews.com – Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa mengatakan, berbagai upaya holistik untuk membangun generasi muda yang cinta tanah air dan membangun kesetiakawanan sosial melalui gotong royong patut diapresiasi.

“Ini sesuatu yang sangat strategis, mengumpulkan mahasiswa penerima bidikmisi lalu dibangun semangat meningkatkan daya saing, kualitas inovasi serta memupuk kecintaan terhadap tanah air dan kesetiakawanan sosial melalui gotong royong, ” ujar Mensos di Auditorium Universitas Negeri Semarang (Unnes), Jawa Tengah, Sabtu (8/10/2016).

Para mahasiswa tersebut, kata Mensos, harus diperkenalkan dengan kondisi antarnegara dengan lebih detil, termasuk bagaimana dan harus seperti apa dalam menghadapi situasi yang sarat dengan persaingan.

“Perlu diperkenalkan kondisi dan situasi di antara bangsa-bangsa di dunia, termasuk antarnegara ASEAN dan diharapkan mereka mampu menyiapkan diri untuk memangun semangat kompetisi di segala bidang, ” ucapnya.

mensos-unnes-3

Menanamkan semangat berkompetisi tak hanya saat baru memasuki dunia perguruan tinggi. Melainkan harus sudah ditanamkan sedini mungkin, yaitu pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

“Menanamkan daya saing tak hanya saat memasuki perguruan tinggi dengan memberikan peta situasi dan kondisi bangsa-bangsa lain di dunia. Juga, bertujuan sebagai langkah strategis untuk mewujudkan Indonesia emas pada 2045, ” tandasnya.

Namun, semua berangkat dari semangat revolusi mental berlandaskan nilai integritas, etos kerja, serta gotong royong. Dipastikan akan ada inovasi dan perubahan, jika dibangun integritas di kampus, birokrasi dan seterusnya.

“Dengan etos kerja akan mampu membedakan mana yang palsu dan mana sulap, tidak mudah tergoda dengan bujuk rayu dan janji-janji akan kesejahteraan, termasuk praktik menggandakan uang, ” katanya.

Praktik yang ‘dipercaya’ bisa menggandakan uang tidak sekedar fenomena sulap. Jikalau benar itu bertentangan dengan lembaga resmi pencetak uang dan Bank Indonesia (BI), serta dipastikan bisa merusak keuangan Negara.

“Di sini lah, peran dan posisi strategis kampus untuk menanamkan rasionalitas yang dikuti dengan integritas, etos kerja, serta semangat gotong royong sebagai dasar untuk membangun revolusi mental, ” tandasnya.

mensos-unnes-4

Terkait pendidikan, Rabu lalu, Presiden menggelar rapat terbatas (ratas) dihadiri Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Sosial (Kemensos), serta pihak terkait lainnya.

“Presiden minta output dan outcome dari APBN Rp 416 triliun lebih terukur, baik tingkat SD, SMK, SMA dan perguruan tinggi. Program Bidikmisi bisa ‘dikatakan’ sebagai kelanjutan dari program Indonesia pintar, ” katanya.

Bidikmisi untuk strata satu (S1) dan program magister dan doktoral melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDB), mengemuka pilihan apakah mengundang guru besar dari luar negeri, atau mengirim lebih banyak putra-puteri terbaik bangsa belajar ke berbagai universitas terkemuka di dunia.

“Dalam lima tahun ke depan, ditargetkan banyak anak-anak pulang ke tanah air usai mengenyam pendidikan di univeritas terkemuka dunia sebagai bagian dari upaya memutus mata rantai kemiskinan yang dimulai dari pendidikan, ” tegasnya.

Data United Nations International Children’s Emergency Fund (UNCEF), menyebutkan bahwa 94 persen dunia pendidikan mulai dari tingkat SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi (PT), melalui kartu pintar, Bidikmisi, serta LPDP mampu memutus mata rantai kemiskinan di Indonesia.
(Dudy Supriyadi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.