Selasa, 7 Desember 21

Kaleidoskop 2016: Tommy Soeharto Difitnah Makar

Kaleidoskop 2016: Tommy Soeharto Difitnah Makar
* Inilah denah donatur Aksi Bela Islam yang memfitnah Tommy Soeharto dan tokoh-tokoh lainnya.t

Jakarta, Obsessionnews.com – Aksi Bela Islam di Jakarta, serta isu donatur aksi tersebut dan makar, merupakan salah satu kaleidoskop 2016 yang menyita perhatian publik.

Al Quran surat Al Kafirun ayat 6 berbunyi: Lakum Diinukum wa Liya Diin. Artinya, untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.

Surat Al Kafirun ayat 6 itu dapat ditafsirkan seseorang dilarang ikut campur agama yang dianut orang lain. Jika ikut campur, maka akan terjadi konflik.

Masalah agama memang masalah yang sangat sensitif.

Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok tidak menyadari betapa pekanya mencampuri urusan agama lain. Ahok yang beragama Kristen Protestan membuat umat Islam marah ketika ia menyinggung soal Al Quran surat Al Maidah ayat 51 di sebuah acara di Kepulauan Seribu, Selasa, 27 September 2016. Ketika itu calon gubernur DKI pada Pilkada 2017 ini antara lain menyatakan, “… Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai surat al Maidah 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu, jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya..”

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dalam pernyataan sikap keagamaan yang ditandatangani Ketua Umum Ma’ruf Amin dan Sekretaris Jenderal Anwar Abbas pada Selasa (11/10), menyebut perkataan Ahok dikategorikan menghina Al-Quran dan menghina ulama yang berkonsekuensi hukum.

Sehari sebelumnya Ahok meminta maaf kepada umat Islam. “Saya sampaikan kepada semua umat Islam atau kepada yang merasa tersinggung, saya sampaikan mohon maaf. Tidak ada maksud saya melecehkan agama Islam atau apa,” kata Ahok di Balai Kota DKI, Senin (10/10).

Meski Ahok telah meminta maaf, umat Islam tetap menuntut ia harus diproses secara hukum. Ucapan Ahok di Kepulauan Seribu menimbulkan gelombang protes di berbagai daerah di Indonesia.

Di Jakarta, misalnya, berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar unjuk rasa damai yang berlabel Aksi Bela Islam di Balai Kota DKI dan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri, Jumat (14/10).

Selanjutnya GNPF MUI kembali menggelar Aksi Bela Islam jilid 2 di depan Istana Presiden pada Jumat (4/11) dan Aksi Bela Islam jilid 3 yang dikemas dalam doa dan sholat Jumat di lapangan Monas pada Jumat (2/12).

Menjelang dan setelah Aksi Bela Islam 3 beredar denah berjudul Donatur Aksi Bela Islam ke Arah Makar yang viral di media sosial (medsos). Dalam denah donatur tersebut tercantum foto putra Presiden kedua RI Soeharto, Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab, Rachmawati Soekarnoputri, Sri Bintang Pamungkas, Ratna Sarumpaet, Eggi Sudjana, Ahmad Dhani, dan lain-lain.

Beredarnya denah donatur tersebut membuat marah para pendukung Tommy Soeharto di ormas Himpunan Masyarakat Peduli Indonesia (HMPI). Tommy adalah pendiri ormas tersebut.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Pimpinan Nasional  (MPN) HMPI Tri Joko Susilo membantah Tommy menjadi donatur Aksi Bela Islam dan akan melakukan makar.

“Ini fitnah. HMPI akan melaporkan ke Polda Metro Jaya terkait tuduhan makar yang dialamatkan pada Mas Tommy,” kata Joko ketika dihubungi Obsessionnews.com, Senin (12/12).

HMPI akan menggugat orang pertama yang melempar isu hoak di medsos tersebut.

Ia menambahkan, orang dulu mengajarkan agar kita sampai tetes darah penghabisan wajib menjaga marwah diri kita dan pemimpin kita dari tuduhan dan fitnah.

“Membela marwah Pak Tommy Soeharto sebagai junjungan kami di HMPI adalah wajib, karena HMPI tidak dilahirkan sebagai pecundang,” tandasnya.

HMPI siap menjadi tameng, di shaf terdepan untuk melawan fitnah terhadap Tommy.

Dia menegaskan HMPI siap menjadi tameng, di shaf  terdepan untuk melawan fitnah terhadap Tommy. HMPI ahir sebagai petarung dan bukan pecundang.

“Percuma pihak tertentu berapi api bicara persatuan, tapi juga sekaligus menghembuskan fitnah kepada putra Bapak Pembangunan,” tukasnya.

Bantahan serupa juga diungkapkan Eggi Sudjana. Pengacara ini melaporkan penyebar denah donatur Aksi Bela Islam ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polda Metro Jaya.

Eggi mengatakan, nama baiknya tercemar karena denah yang beredar itu.

“Ini suatu fitnah yang sangat luar biasa. Demo 2 Desember itu resmi ibadah,” kata Eggi di Polda Metro Jaya, Selasa (6/12). (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.