Jumat, 3 Februari 23

Kaleidoskop 2016: Rela Berjalan Kaki dari Ciamis ke Jakarta Demi Bela Islam

Kaleidoskop 2016: Rela Berjalan Kaki dari Ciamis ke Jakarta Demi Bela Islam
* Umat Islam Ciamis, Jawa Barat, berjalan kaki menuju ke Jakarta untuk mengikuti Aksi Bela Islam 3.

Jakarta, Obsessionnews.com – Di kalangan umat Islam seluruh dunia ada tiga hal yang tidak boleh disinggung atau direndahkan, yakni Allah SWT, Rasulullah SAW, dan kitab suci Al-Quran. Apabila salah satu, apalagi ketiganya disinggung dan direndahkan pasti mendapat reaksi spontan dari umat Islam tanpa disuruh siapapun.

“Reaksi tersebut akan segera meluas tanpa bisa dibatasi oleh sekat-sekat organisasi, partai, dan birokrasi. Kekuatan energi tersebut akan bergerak dengan sendirinya tanpa dibatasi ruang dan waktu,” tutur Ketua Umum Pengurus  Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) KH Hasyim Muzadi dalam siaran persnya yang berjudul “Kekuatan (Energi) Al-Quran dan Politisasi”, Rabu (9/11/2016).

Benar apa yang dikatakan Hasyim yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden tersebut. Merujuk kasus penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, umat Islam bereaksi keras. Ulah Ahok yang sangat tidak terpuji itu melahirkan gelombang demonstrasi yang dikemas dengan nama Aksi Bela Islam, yang menuntut Ahok ditangkap dan dipenjara.

Salah satu peristiwa fenomenal dalam kaleidoskop 2016 adalah ribuan santri dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, yang rela berjalan kaki menuju ke Jakarta demi mengikuti Aksi Super Damai Bela Islam 3 pada Jumat (2/12).

Jarak Kabupaten Ciamis, Jawa Barat – Jakarta sekitar 269 km. Jauh, bukan? Namun, jauhnya jarak tersebut tidak menjadi penghalang bagi ribuan umat Islam dari Ciamis untuk mengikuti Aksi Super Damai Bela Islam 3. Mereka mulai aksinya berjalan kaki pada Senin (28/11) siang, dan tiba di Jakarta pada Kamis (1/12) malam.

Aksi jalan kaki itu dilakukan karena polisi melarang bus disewa untuk mengangkut peserta Aksi Bela Islam 3. Kendati diintimidasi polisi, warga Ciamis tidak gentar. Mereka tetap nekad ke Jakarta, walaupun harus berjalan kaki. Ini dilakukan karena kecintaan mereka terhadap Islam. Tujuan mereka ke Jakarta hanya satu, yakni menuntut Ahok dipenjara.

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri telah menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama pada Rabu (16/11).

Namun, anehnya, meski telah jadi tersangka calon gubernur DKI pada Pilkada 2017 tersebut tidak ditahan. Hal itu membuat umat Islam menilai polisi bertindak diskriminatif. Pasalnya, dalam banyak kasus orang-orang yang dijadikan tersangka langsung ditahan, terutama orang-orang Islam. Lalu mengapa Ahok yang beragama Kristen Protestan diistimewakan?

Pengkaji geopolitik dan Direktur Eksekutif The Global Future Institute, Hendrajit, memuji aksi umat Islam Ciamis yang berjalan kaki menuju ke Jakarta itu.

“Santri Ciamis yang berjalan kaki ke Jakarta memang luar biasa. Ini yang namanya blessing in disguise, rahmat yang tersembunyi. Gara-gara dirintangi untuk sewa bus, malah jadi momentum bersejarah,” kata Hendrajit ketika dihubungi Obsessionnews.com, Rabu (30/11).

Menurutnya, ini jadi semacam isyarat agar kita Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri) seperti kata Bung Karno.

Aksi Bela Islam 3 merupakan kelanjutan dari Aksi Bela Islam 1 yang digelar pada Jumat ( 14/10) dan Aksi Bela Islam 2 yang dilaksanakan pada Jumat (4/11). Aksi damai ini digerakkan oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang merupakan gabungan sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, antara lain Front Pembela Islam (FPI) dan Forum Umat Islam (FUI).

Demo itu dipicu oleh ketersinggungan umat Islam atas ucapan Ahok  soal Al Quran surat Al Maidah ayat 51 di sebuah acara di Kepulauan Seribu, Selasa (27/9).  Saat itu Ahok mengatakan, “… Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai surat al Maidah 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu, jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya..”

Aksi Bela Islam tersebut dilakukan tiga hari setelah MUI Pusat secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap keagamaan terhadap kasus Ahok.  MUI dalam pernyataan sikap keagamaan yang ditandatangani Ketua Umum Ma’ruf Amin dan Sekretaris Jenderal Anwar Abbas pada Selasa (11/10), menyebut perkataan Ahok dikategorikan menghina Al-Quran dan menghina ulama yang berkonsekuensi hukum.

Namun, Aksi Bela Islam yang diikuti ribuan orang tersebut seperti membentur tembok. Terkesan dicuekin polisi.

Karena tidak ada tanda-tanda polisi menangkap Ahok, Rizieq kembali mengerahkan massa turun ke jalan. Dan sungguh mengejutkan. Aksi Bela Islam jilid 2 yang digelar di depan Istana Presiden tersebut diikuti lebih dari 2,3 juta orang. Aksi itu kemudian populer dengan sebutan aksi 411. Dipilihnya Istana Presiden sebagai lokasi berunjuk rasa karena massa menuding Presiden Joko Widodo (Jokowi) melindungi Ahok.

Karena tekanan massa itu polisi mulai serius menangani kasus Ahok. Hasilnya, Bareskrim Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama pada Rabu (16/11). Hal itu tidak sesuai dengan aspirasi pengunjuk rasa.

Oleh karena itu GNPF MUI mengajak kembali umat Islam untuk berunjuk rasa dalam Aksi Bela Islam 3 pada Jumat (2/12). Semula direncanakan dalam aksi 212 itu akan dilakukan sholat Jumat di sepanjang Jl. Sudirman – Jl. MH Thamrin – bundaran Hotel Indonesia (HI)- depan Istana Presiden. Namun dibatalkan setelah tercapai kompromi antara Kapolri Jenderal Tito Karnavian bersama para pimpinan GNPF MUI di kantor MUI Pusat, Senin (28/11). Disepakati sholat Jumat akan dilakukan di lapangan Monumen Nasional (Monas). Juga disepakati demo hanya digelar pada pukul 8 pagi hingga usai sholat Jumat.

Disepakatinya Monas sebagai lokasi demo yang digerakkan GNPF MUI untuk menghindarkan penyusup gelap yang punya agenda lain di luar tuntutan memenjarakan Ahok.

Peserta Aksi 212 tak terbendung. Massa mengemas Aksi 212 dalam bentuk zikir dan sholat Jumat di Monas. Acara tersebut dihadiri Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jokowi.

Aksi Super Damai Bela Islam yang dikemas dalam doa dan sholat Jumat di Monas, Jakarta, Jumat (2/12/2016), diikuti lebih dari 7,5 juta orang.

Dalam evaluasi aksi Bela Islam III di markas FPI di Petamburan, Jakarta Pusat, Minggu (4/12), Imam Besar FPI Habib Riziq menyebut massa Aksi 212 berjumlah 7,5 juta jiwa. Video evaluasi Rizieq ini diunggah ke Youtube oleh akun Aksi Bela Islam III. Di video berdurasi 2 jam 20 detik itu Ruzieq seperti biasa mengenakan pakaian serba putih dan sorban berwarna senada.

Rizieq mengatakan, sejak awal aparat dan pemerintah berusaha ‘menggembosi’ aksi Bela Islam III dengan berbagai cara. Namun ternyata yang menghadiri aksi ini bukan hanya banyak, namun berlipat ganda dibandingkan dengan aksi Bela Islam II pada 4 November lalu. Ia mengklaim jumlah massa pada 2 Desember mencapai 7,5 juta jiwa.

“Diperkirakan peserta aksi 411, aksi Bela Islam yang kedua, yang turun adalah 3,2 juta orang. Sementara aksi 212, itu disepakati jumlahnya dengan Google Map, foto dari atas, itu lebih dari dua kali lipat. Kalau yang 411 perkiraan 3,2 juta itu dengan asumsi yang menggunakan kendaraan umum khususnya kereta api, karena dalam info yang kita terima dari PT Kereta Api Indonesia, bahwa kegiatan sehari-hari kereta api di seputar Jakarta, membawa pekerja masuk Jakarta setiap hari kurang lebih 750 ribu orang. Khusus 4 November, itu yang masuk meningkat 400 persen. Artinya 750 ribu kali 4 sama dengan 3 juta. Yang 750 ribu adalah pekerja, yang 2 juta 250 ribu adalah peserta aksi. Itu belum yang naik bis, yang naik mobil pribadi, taksi, motor. Makanya diperkirakan 3,2 juta orang, artinya hitungan itu logis dan ilmiah,” kata Rizieq.

“Sementara aksi 212 kemarin itu dari hasil foto Google Maps dan lain sebagainya, itu menunjukkan kepadatan lebih dari 2 kali lipat yang 411. Berarti kalau 3,2 dua kali lipatnya 7,4 lebih dari itu diperkirakan 7,5 juta orang,” sambung Rizieq.

Dia mengungkapkan banyaknya jumlah massa yang mengikuti acara ini semata-mata karena pertolongan dan kehendak Allah SWT.

Dia juga menyoroti soal massa yang membludak hingga ke jalan-jalan protokol. Dia menyebut peristiwa itu merupakan kehendak Allah SWT.

“Aksi Bela Islam 212 yang semua dilarang sholat Jumat di HI harus di Monas, kemudian kita terima di Monas. Ternyata begitu pelaksanaanya itu saf yang paling akhir di belakang, arah ke timur itu sampai lewat Senen ke Cempaka Putih, sementara saf sayap kanan ke barat daya itu sampai ke Bundaran HI. Jadi yang semula dilarang enggak boleh ke HI, akhirnya HI terpakai juga buat salat jumat saudara,” kata Rizieq. (@arif_rhakim)

Baca Juga:

Hakim Rontokkan Keberatan Ahok

Ahok dan Ancaman Mafia China

Hakim Tolak Eksepsi Ahok dalam Kasus Penistaan Agama

Jika Ahok Bebas, Parmusi Serukan Revolusi Konstitusional

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.