Sabtu, 1 Oktober 22

Kaleidoskop 2016: Manuver Jokowi Redam Gejolak Akibat Ulah Ahok

Kaleidoskop 2016: Manuver Jokowi Redam Gejolak Akibat Ulah Ahok
* Presiden Jokowi memimpin rapat kabinet.

Jakarta, Obsessionnews.com – Setelah demo 4 November 2016 yang menuntut ketegasan dalam penanganan kasus dugaan penistaan agama oleh calon petahana Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Presiden Jokowi intens menggelar pertemuan dengan organisasi kemasyarakatan Islam, ulama, habib, para tokoh agama, pimpinan pondok pesantren, pimpinan media massa, satuan-satuan di TNI dan Polri, hingga ke pimpinan partai politik.

Presiden Jokowi mengatakan, pertemuan-pertemuan itu untuk konsolidasi dan mengingatkan pentingnya Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, dan UUD 1945. Menurutnya, dengan datang berkunjung dan silaturahmi, menjadi semakin tahu betapa pentingnya Bhineka Tunggal Ika, Pancasila, dan UUD 1945.

Berikut ini kaleidoskop 2016 berdasarkan penelusuran Obsessionnews.com pada Sabtu (24/12/2016) tentang konsolidasi yang dilakukan Jokowi itu:

Tanggal 7 November 2016
Konsolidasi berawal dari tanggal 7 November 2016, dimana Presiden Jokowi menggelar apel militer di Kantor Mabes TNI Angkatan Darat, Jakarta Pusat. Dua pesan yang dia sampaikan. Pertama, TNI jangan sampai mentolerir gerakan memecah belah dan mengadu domba bangsa dengan provokasi dan politisasi. Kedua, Jokowi meminta TNI memperbaiki diri. Memegang teguh kesatuan komando, memegang teguh Sapta Marga dan sumpah prajurit.

Pada hari yang sama, Presiden bertandang ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Di sana, Jokowi menegaskan, ia tidak akan melindungi Basuki dalam perkara itu. Dalam kesempatan itu, Jokowi mengucapkan terima kasih kepada PBNU yang menurutnya telah menjadi organisasi keagamaan yang berperan besar dalam membangun tatanan kebangsaan di Indonesia. Menurut Jokowi, NU konsisten dalam menjaga NKRI.

“Yang pertama tadi saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya karena NU menjadi penyangga utama NKRI kita. Penyangga utama Pancasila, penyangga utama kebhinekaan kita, penyangga utama hal-hal yang berkaitan dengan toleransi, hal yang berkaitan dengan persatuan. Saya kira clear, sangat jelas sekali NU jadi penyangga utama NKRI,” ungkapnya

8 November 2016
8 November 2016, Jokowi menyambangi Polri. Presiden meminta Polri jangan kalah oleh kelompok-kelompok kecil yang ingin merusak keberagaman dan persatuan di Indonesia. Setelah itu, Presiden melanjutkan komunikasinya ke Pengurus Pusat Muhammadiyah.

9 November 2016
Presiden memanggil sejumlah pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam ke Istana pada 9 November 2016. Sebanyak 17 orang datang bertatap muka dengan Presiden. Jokowi berterima kasih karena mereka telah memberikan komentar yang sejuk untuk menenangkan umat terkait demo 4 November. Ia meminta kesejukan itu dijaga.

10 November 2016
Konsolidasi dilanjutkan pada 10 November 2016, dengan menyambangi Markas Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Cijantung. Setelah sempat mendapatkan penjelasan soal betapa mematikannya senjata yang dimiliki Kopassus, Jokowi mengatakan bahwa Kopassus adalah pasukan cadangan yang dapat ia gerakkan sewaktu-waktu jika negara dinilai dalam kondisi darurat.

Pada hari yang sama, Presiden juga bertemu puluhan ulama, habib dan pimpinan pondok pesantren se-Jawa Barat dan Banten. Presiden meminta ulama dan habaib menenangkan umat terkait perkara Basuki. Jokowi juga menjelaskan alasan mengapa dirinya tidak menemui demo 4 November. Jokowi mengaku, ingin sekali dekat dengan demonstran dengan shalat Jumat di Masjid Istiqlal. Namun, keinginan itu ‘mentok’ lantaran protokol Istana, Panglima TNI, Kapolri hingga Kepala BIN menyarankan untuk tidak bertemu.

17 November 2016
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menemui Presiden Jokowi di Istana Merdeka pada, Kamis 17 November 2016. Pertemuan Jokowi dengan mantan rivalnya di Pilpres 2014 itu berlangsung hangat dan akrab. Dalam pertemuan siang itu, keduanya menikmati makan siang dengan menu ikan bakar.

21 November 2016
Sedangkan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang juga Ketua Umum PDIP menemui Jokowi pada Senin 21 November 2016. Dalam pertemuan tersebut, Jokowi dan Mega bersantap siang. Usai makan siang, Jokowi mengatakan pertemuan dan silaturahmi semacam ini memang harus terus membudaya. Komunikasi yang baik akan melahirkan solusi-solusi terbaik untuk semua permasalahan bangsa.

22 November 2016
Jokowi menerima tiga pimpinan partai politik pendukungnya di pemerintahan. Dia menerima Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh pagi hari dan siangnya menerima kedatangan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Rommahurmuziy di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (22/11/2016). Pada hari yang sama, Presiden Jokowi juga menerima Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto (Setnov).

29 November 2016
Menurut Presiden, tidak ada habisnya konsolidasi kebangsaan dan kenegaraan, karena ini untuk mengingatkan kita semuanya mengenai pentingnya kita tetap di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang isinya beragam dan majemuk. Maka, pada 29 November 2016, kembali menerima kunjungan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar.

30 November 2016
Konsolidasi politik Presiden Jokowi, kali ini dilakukan bersama Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 30 November 2016. Jokowi mengaku banyak berbicara mengenai nilai-nilai kebangsaan Indonesia, terutama yang berkaitan dengan pilar-pilar berbangsa. Hal itu baik yang berkaitan dengan NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Pola pertemuan Jokowi dengan para ketua umum partai ini cenderung sama. Makan bersama dalam Istana Merdeka, dilanjutkan dengan mengobrol, dan menyediakan waktu menyampaikan hasil pertemuan pada publik. Jokowi menamai pertemuan itu, konsolidasi kebangsaan dan kenegaraan.

“Karena ini untuk mengingatkan kita semuanya mengenai pentingnya kita tetap di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang isinya beragam dan majemuk. Terus kita ingatkan, saya kira tidak hanya ke tokoh-tokoh politik, tokoh-tokoh agama, TNI-Polri, saya kira juga penting sekali untuk anak-anak muda,” kata Jokowi.

Pengamat politik LIPI Siti Zuhro menilai, konsolidasi yang dilakukan Jokowi sudah tepat. Suprastruktur politik yakni unsur ketatanegaraan, mulai dari lembaga yudikatif hingga legislatif. Polri dan TNI bagian di dalamnya. Sementara, infrastruktur politik adalah partai politik, masyarakat sipil, hingga media massa.

Kunci dari keberhasilan konsolidasi itu, menurut Siti, seberapa yakin ulama, habib, dan umat Islam melihat keadilan, ketulusan, dan kejujuran Jokowi dalam merespons kasus dugaan penistaan agama itu. Siti yakin Presiden Jokowi sudah banyak belajar dari dua tahun kepemimpinannya dan mampu mengelola persoalan ini hingga menuju stabilitas nasional.

“Maka dari itu Pak Jokowi tunjukkan aura seadil, setulus, dan sejujur mungkin. Orang Indonesia saya rasa masih memiliki empati dan nurani. Saya khawatir jika umat merasa dikadali, ditipu-tipu, mereka akan jihad,” ujar Siti. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.