Minggu, 17 Oktober 21

“Kabinet Jokowi Sangat Kompak…..”

“Kabinet Jokowi Sangat Kompak…..”

Oleh: Derek Manangka, Wartawan Senior

 

Kisman Latumakulita dan Teddy Setiawan merupakan dua sosok generasi bangsa Indonesia yang memiliki banyak perbedaan dalam berbagai segi. Perbedaan mereka terletak pada usia, etnis, agama, profesi dan kekuatan finansil.

Kalau bisa disederhanakan, perbedaan mereka seperti “siang dan malam”, “panas dan dingin” ataupun “hitam dan putih”.

Usia mereka terpaut 20 tahun, Teddy lebih tua.

Kisman, putra Indonesia asal, Ambon, Maluku. beragama Islam. Teddy putera Indonesia keturunan Tionghoa kelahiran Padang tapi besar di Medan, dan beragama Katolik. Teddy sering ‘diplesetkan’ sebagai anggota ‘ICMI’ (Ikatan Cina Medan Indonesia).

Kisman mengaku, Teddy merupakan satu-satunya sahabatnya yang keyakinannya berbeda, tapi bisa dia bawa ke dalam kubu Islam.

Dan dalam situasi sesensitif apapun – hal yang mengganggu hubungan Islam – Kristen, Kisman dan Teddy tetap bersahabat akrab.

Kisman, wartawan yang kehidupannya bergantung pada penghasilan berupa gaji tetap, bulanan. Sedangkan Teddy, seorang pengusaha yang sudah selesai dengan persoalan finansil untuk dirinya.

Teddy, 72 tahun, tinggal menikmati hidup, karena depositonya di bank, sudah lebih dari cukup untuk makan sehari-hari.
Entah berapa jumlah deposito yang dia simpan di bank dalam negeri. Dan dia bangga dengan statusnya sebagai orang yang menikmati hidup dari deposio. Sebab semua yang didapatkan, melalui sebuah kerja keras yang cukup panjang – sekitar 50 tahun. Dan lebih dari itu, kekayaan materinya tersebut diperoleh bukan melalui korupsi apalagi KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme).

Teddy justru melepas semua saham mayoritas di perusahaan batubara miliknya, karena tidak tahan atau tidak kuat menghadapi pelbagai hambatan yang dia hadapi di bisnis batubara. Terutama kekuatan KKN.

Teddy memutuskan melepas saham mayoritasnya kepada seorang pengusaha yang masuk ketegori “Sepuluh Orang Terjaya di Indonesia”.

Satu hal yang membuat hubungan Teddy dan Kisman begitu erat dan langgeng, karena persamaan mereka dalam visi dan misi politik. Keduanya merupakan sosok anak bangsa yang cinta “Merah Putih”.

Semalam, kedua sosok yang pernah bergabung dengan Partai Nasdem ini, bertemu di sebuah restoran di bilangan Plasa Indonesia. Makan malam bersama.

Sebagai sesama mantan anggota sebuah partai yang menjadi pendukung pemerintahan Presiden Joko Wdodo, topik pembicaraan pun berawal sekitar pemerintahan Presiden Joko Widodo. Terjadilah saling tukar cerita, berbagi info.

Kisman, salah seorang pimpinan teras majalah “Forum” dikenal sebagai orang yang punya akses langsung dengan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Berhubung Panglima TNI baru-baru ini mengungkapkan tentang adanya penyelundupan 5.000 pucuk senjata yang mengatas namakan atau mencatut nama Presiden, mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari Teddy Setiawan.

Misalnya siapa sebenernya sosok yang berada di balik penyelundupan itu ?

Mengapa senjatanya dari Bulgaria, negara di mana Astari Rasyid, seorang bekas peragawati papan atas Indonesia, bertugas sebagai Duta Besar RI.

Teddy juga memperlihatkan foto Dubes RI itu – yang tengah berpose dengan sebuah senjata serbu.

“Apakah foto Dubes kita ini hoax, rekayasa atau asli?”, selidik Teddy Setiawan serius.

Kisman hanya memberi kode. Meletakkan jari telunjuknya ke mulut, sambil meminta Teddy Setiawan untuk menikmati makan malam “shabu-shabu kepala ikan”.

Setelah menelan daging ikan dibantu minuman khas Jepang, Teddy tertawa terbahak-bahak. Beberapa menit terdiam kemudian Kisman membuka pembicaraan baru.

“Tadi aku baru main golf dengan Bang Hariman Siregar di Padang Golf Matoa”, ujarnya.

Hariman adalah Tokoh Malari (Malepataka Januari) 1974. Malari diwarnai demo mahasiswa yang menentang kebijakan Presiden Soeharto terhadap dominasi bisnis Jepang di Indonesia. Demo itu menyebabkan banyak mobil buatan Jepang, terutama “Toyota” yang dirakit PT Astra, dibakar pendemo di jalan-jalan protokol Jakarta.

“Ada cerita apa dari Bung Hariman?”, bertanya Teddy Setiawan, seorang aktifis yang memimpin gerakan pemberantasan korupsi KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelaar Indonesia), Angkatan ’66.

“Wah seru….”, ujar Kisman, seorang kader PII (Pemuda Islam Indonesia).

Sebab cerita Hariman, katanya berasal dari Lingkar Dalam Istana.

Singkat cerita, gambaran yang diberikan oleh Kisman dari hasil percakapannya dengan Hariman, para anggota kabinet Presiden Jokowi berada dalam situasi yang sangat “kompak”.

“Tapi begini bang Teddy”, lanjutnya, “kompak dalam arti sama-sama ingin menyelamatkan diri sendiri. Maksudnya “kompak semu”.

Dengan penggalan cerita itu, Teddy seolah mendapat kepastian bahwa isi surat Menkeu Sri Mulyani kepada Menteri ESDM Ignatius Jonan – baru baru ini , yang mengkhawatirkan PLN gagal bayar, bukan sebuah surat biasa.

Surat yang ditembuskan ke Menteri BUMN Rini Sumarno itu mencerminkan adanya hubungan yang tidak harmonis antara dua menteri wanita itu.

Bahkan ketidakkompakan antara dua wanita pembantu presiden ini, dianggap sebagai sebuah persoalan pelik yang mendera pemerintahan Joko Widodo.

Dari gambaran itu, percakapan di depan meja makan itu pun mengalir sekencang-kencangnya. Sebab yang dibahas tidak semata mengapa “kekompakan semu” di antara para sesama anggota kabinet.

Melainkan sudah mengantispasi bagaimana nasib Indonesia apabila terjadi “chaos” begitu pula jika akhirnya Joko Widodo terpilih kembali sebagai Presiden dalam Pilpres 2019.

“Kalau situasi seperti ini gawat bila Jokowi terpilih lagi”, kata Teddy

Yang diami Kisman dengan mangatakan : “Menjadi Presiden itu tidak cukup hanya mengandalkan kebaikan, kebaikan hati seperti sikapnya Pak Jookowi…”

Dan yang tidak kalah menariknya uraian-uraian atau analisa Kisman Latumakulita mulai dari “pertarungan: antara Polri dan TNI sampai dengan prilaku elit-elit politik yang saling menelikung.

“Satu saja yang perlu kita jaga bang Teddy. Jangan sampai pertarungan itu merembet ke bawah. Ke masyarakat luas atau akar rumput. Kita harus jaga, agar pertarungan itu berhenti atau berlangsung di kalangan atas saja”.

Saya sebagai pendengar, hanya bisa manggut-manggut mendengar percakapan dua tokoh di luar arena ini.

Ketika jarum jam menunjukkan tanda pukul 21.30, saya pamit sambil minta izin konteks percakapan di waktu makan malam itu saya tuangkan di Catatan Tengah. Dan inilah sebagian kecil dari percakapan teresebut. ****

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.