Selasa, 14 Juli 20

Juru Damai Golkar, Tirulah Penjaga Gereja di Yerusalem

Juru Damai Golkar, Tirulah Penjaga Gereja di Yerusalem

Juru Damai Golkar, Tirulah Penjaga Gereja di Yerusalem

Akhirnya hari ini, Selasa (16/12), Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia (HAM) mengeluarkan keputusan bahwa pemerintah belum mengakui kepengurusan dua kubu Partai Golkar, kecuali mereka telah melakukan islah terlebih dahulu. Dan keputusan ini dinilai sangat tepat, karena dua kubu sama-sama punya hak dan kekuatan, sekaligus keduanya punya kelemahan. Pertanyaan dan persoalannya adalah kalau harus islah lebih dahulu, siapakah yang pantas jadi juru damai menyelesaikan konflik Partai Golkar?

Juru damai dan juru runding ini harus dibedakan. Juru runding adalah seorang tokoh Golkar yang dinilai mumpuni, dan bersedia mewakili kelompok masing-masing. Misalnya juru runding dari kelompok Aburizal Bakrie (ARB) atau Ical bisa menunjuk Akbar Tandjung, sedang dari kelompok Agung Laksono bisa mempercayakan kepada Siswono Yudhohusodo, atau bisa yang lain. Dan siapa juru damai?

Juru damai semestinya dari tokoh sepuh (pinisepuh) Golkar yang tidak terlibat dalam konflik tersebut, atau bisa juga dari pihak di luar mereka yang dianggap mampu mendamaikan. Dalam hal ini saya jadi teringat cerita bahwa penjaga pintu gereja keramat di Yerusalem, Israel ternyata seorang muslim. Konon, katanya ini sudah berlangsung lama dan turun temurun. Mengapa?

Keputusan tersebut malah diakomodir semua kelompok Kristen, karena kalau yang dipercaya untuk menjaganya dari salah satu kelompok mereka hampir pasti akan terjadi rasa iri, cemburu pihak lain, yang dapat saja memicu bentrokan atau pertikaian di antara mereka. Menimbang dari kisah tersebut, alangkah baiknya jika juru damai diambil dari orang-orang yang benar-benar netral.

Bagaimana dengan mantan Presiden BJ Habibie? Sosok Habibe bisa juga, tetapi apakah dia mampu berlaku netral, karena kabarnya dia sudah ditemui ARB dan Akbar Tandjung. Soal pertemuan mereka yang dibicarakan apa, kita pasti tidak akan pernah tahu persis, tetapi pertemuan mereka tersebut dapat diindikasikan adanya lobi-lobi tertentu dari pihak ARB.

Bagaimana dengan HM Jusuf Kalla (JK)? Ini pun hampir sama dengan Habibie, selama ini publik tahu, jika Wakil Presiden (Wapres) ini lebih condong kepada kubu Agung Laksono. Sehingga kalau harus dipaksakan Habibie harus jadi juru damai, di situ perlu ada JK. Biar keadaannya seimbang, dan masih perlu pihak ketiga, yakni pemerintah jika perlu.

Sebab jika hanya mengandalkan juru damai kepada Habibie dan JK saja ataupun para sesepuh yang lain, dimungkinkan kembali terjadi deadlock, dan akhirnya buntu. Sebab siapa tahu keduanya punya misi dan tujuan yang berbeda. Juga para pinisepuh yang sudah ikut-ikutan terbelah, karena konflik yang terjadi kali ini sangat prinsipil dan di luar kebiasaan Golkar.

Sebagaimana kita ketahui selama ini partai beringin selalu berada di dalam kubu pemerintahan. Hanya sekali ini saja, ketika Golkar dipimpin ARB, partai tersebut lepas dari pemerintahan. Kejadian inilah antara lain yang membelah mereka, terlebih yang memerintah saat ini adalah kader senior Golkar, yakni JK.

Perilaku Golkar yang menyimpang dari kebiasaan dan malah berhadapan dengan kadernya sendiri inilah yang diduga menjadi pemicu terjadinya konflik tersebut. Dan perbedaan sudut pandang ini kenyataannya tidak hanya terjadi di kepengurusan Golkar yang masih aktif, namun banyak pinisepuh Golkar yang kurang cocok, misalnya Ginanjar, Suhardiman dan lain-lainnya.

Jadi kesimpulannya untuk menyelesaikan konflik internal Golkar kali ini dimungkinkan perlunya pihak ketiga turun tangan. Mirip penjaga gereja keramat di Yerusalem, Israel. (Arief Turatno, wartawan senior)

 

Related posts