Jumat, 7 Oktober 22

Jokowi Mampu Membuka Komunikasi dengan Pemuda

Jokowi Mampu Membuka Komunikasi dengan Pemuda

Jakarta, Obsessionnews – Ketua Umum Pengurus Besar  Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Arief Rosyid Hasan mengapresiasi setahun pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang mampu membuka komunikasi dengan elemen pemuda.

Menurut Arief, dengan adanya kemauan pemimpin berkomunikasi dengan pemuda sebuah tanda proses demokrasi Indonesia semakin maju. Meski demikian, Ketum HMI ini berharap komitmen yang dibangun dalam membangun forum-forum pemuda terealisasi sebagaimana kesepakatan sebelumnya.

“Kalau saya apresiasi ya, karena tahun pertama dia bisa merangkul atau bisa membuka komunikasi dengan elemen mahasiswa atau pemuda. Saya kira itu adalah arah kemajuan dari proses demokrasi bahawa ada ruang-ruang sendiri yang membuka komunikasi secara langsung,” ungkapnya kepada Obsessionnews.com, Selasa, (27/10/2015).

“Namun ada persoalan, yang jadi komitmen yaitu forum-forum ini harus lebih intens. Pertanyaannya kemudian pakah benar komitmen itu, atau sama dengan sebelum-sebelumnya yang hanya menjadi janji-janji lip service saja,” tambahnya.

Arief berharap kepada Jokowi agar komitmen yang dibangun sebelumnya bersama mahasiswa dan pemuda tidak diabaikan. Sebagaimana sebelumnya Presiden Jokowi telah berkomitmen kapada mahasiswa dan pemuda untuk membuka ruang komunikasi secara intens dan terbuka.

“Komitmennya itu bahwa ruang komunikasi antara mahasiswa dan pemuda ke Presiden itu lebih terbuka dan akan intens. Dan sampai hari ini baru sekali, dan saya kira komitmen itu harus ditunaikan, walapun bukan saya lagi ketua umum dan saya kira teman-teman harus membuka kesempatan ini agar saluran komunikasi tidak tersumbat,” harapnya.

Menurut Arief, berdialog dengan pemerintah suatu hal yang penting untuk dilakukan saat ini dalam mendorong kemajuan bangsa. Apalagi kata dia, pemuda harus proaktif menghadapi era perubahan sebab tidak relevan kalau pemuda hanya dijadikan subjek pembangunan tapi harus menjadi objek pembangunan.
“Yang penting intens saja, per semester atau enam bulan, yang pasti  aspirasi masyarakat dan anak muda pada khususnya itu tersampaikan. Karena era ini semakin berubah, dan posisi kita harus proaktif, harus interaktif dengan pemeintah. Sehingga apa yang menjadi fisi besar untuk kemajuan bangsa ini,  bisa tercapai,” tegasnya.

Ia pun menyerukan, pemuda harus jadi objek pembangunan, pemuda bukan saja jadi subjek pembangunan, pemuda harus jadi objek pembangunan. “Hari ini pemuda harus memposisikan dirinya terlibat dalam agenda-agenda pembangunan bangsa,” tandasnya

Arief mengatakan, HMI yang juga organisasi besar di Indonesia dalam mengawal pembangunan saat ini lebih kosen pada persoalan bonus demografi, keunggulan angkatan kerja dan  pembangunan pemuda.

“Nah ketiga hani ini sangat relevan dan bisa menjadi focus dari pemerintah. Kita kosen berbicara bonus demografi, keunggulan angkatan kerja, dan pembangunan pemuda karena pemuda adalah masa depan bangsa ini dimana 25% pemuda dari total penduduk Indonesia dan soal penting itu pangan,” tuturnya.

Menanggapi satu tahun pemerintahan Jokowi, Arief mengatakan pemerintah masih banyak memiliki Pekerjan Rumah yang perlu diselesaikan. Satu tahun menurutnya waktu untuk menyesuaikan pemrintahan sebelumnya dimana sepuluh tahun banyak visi yang berbeda, namun kata Arief pemrintahan saat ini harus bisa mengakselerasi atau cepat beradaptasi dengan yang sudah ada sebelumnya
.
“Namanya pemerintahan baru harus bisa menyesuaikan dengan pemerintahan yang sebelumnya. Yang baik-baik sebelumnya harus dilanjutkan begitupun yang buruk sebelumnya ditinggalkan. Kita tahu banyak persoalan yang belum selesai di periode sebelumnya masalah penegakan hukum, masalah kemisikinan, persoalan kesenjangan dan pemerataan pembangunan yang tidak merata antara Indonesia timur dan Indonesia Barat, saya kira ini pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintahan hari ini,” terangnya.

Lebih lanjut Arief mengatakan, tetap positif thinking pada pemerintah saat ini tapi bukan berarti Nawacita hanya dijadikan slogan tapi pelu realisasi yang kongkrit. Sudah cukup waktu satu tahun melakukan konsolidasi, untuk menentukan pembangunan empat tahun ke depan.

“Empat tahun kedepan harus lebih akseleratif, harus diakui selama satu tahun ini hanyala sekedar lip service aja, masih banyak yang harus dibenahi karena tadi fasenya masih konsolidasi. Kita positif thingking saja, meski kita ketahui satu tahun ini Nawacita masih sebagai slogan saja, sebut saja revolusi mental masih banyak teman-teman yang belum tahu. Jadi masih banyak hal yang konvensi teori dan itu harus diterjemahkan dalam hal yang kongkrit,” harapnya. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.