Minggu, 5 Desember 21

Jokowi Didesak Secepatnya ‘Reshuffle’ Kabinet

Jokowi Didesak Secepatnya ‘Reshuffle’ Kabinet
* Hendrajit, pengamat politik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute

Jakarta, Obsessionnews – Sejak Kabinet Kerja dilantik pada Senin, 27 Oktober 2014, kinerjanya kurang memuaskan berbagai elemen masyarakat. Tak heran jika banyak pihak yang mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan reshuffle atau pergantian kabinet.

Hendrajit, pengamat politik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI), lembaga kajian masalah internasional dan geopolitik, mendorong Jokowi secepatnya melakukan reshuffle kabinet. Hendrajit mengatakan, soal reshuffle kabinet bukan sekadar ganti menteri saja. Evaluasi harus bertumpu pada apa yang dari awal merupakan skema atau rencana induk Jokowi terkait politik, ekonomi, hankam dan sosia-budaya. Apakah masih dalam rel Trisakti yang menjadi landasannya, atau dari awal memang sudah melenceng menjadi neo liberalisme.

Trisakti adalah program Bung Karno yang menjadi salah satu tema kampanye Jokowi pada Pilpres 2014, yang berisi berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya.

Menurut Hendrajit, kalau masih dalam rel Trisakti, berarti pergantian menteri harus dalam kerangka mengganti orang-orang yang lebih berkomitmen pada skema Trisakti. Tanpa mengabaikan perlunya kompetensi atau profesionalisme orang yang dipasang menjadi menteri.

“Jadi kriteria ganti menteri bukan soal dia profesional atau tidak. Misalnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. Saya nilai orang ini tidak berjiwa Trisakti dalam mewujudkan asas ketiga Trisaksi, yakni berkepribadian dalam kebudayaan. Sehingga jabaran dalam kebijakan pendidikan tidak sejalan dengan spirit mempersenyawakan pendidikan dengan kearifan lokal masing-masing daerah. Saya usulkan Anis Baswedan harus diganti,” katanya kepada obsessionnews.com di Jakarta, Sabtu (18/4/2015).

Di bidang ekonomi Hendrajit mengatakan harus dinilai kinerja Menko Perekonomian Sofyan Djalil dan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro apakah sudah melenceng ke neoliberal, atau dalam rel trisaksi. Apakah kinerjanya itu bagus karena didasari Trisakti, atau malah sudah keblinger masuk perangkap skema International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia.

Demikian pula di bidang pertahanan dan keamanan (hankam). Hendrajit mengungkapkan, kinerja Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu harus dinilai apa kebijakan strategis pertahanan yang sudah dia keluarkan. Bagaimana Ryamizard memandang dan menjabarkan kebijakan poros maritim Jokowi ke dalam kebijakan strategis pertahanan kementeriannya? Apakah Ryamizard setuju bahwa konsekuensi adanya kebijakan poros maritim, berarti harus ada penegasan perlunya pergeseran prioritas dari matra darat ke matra laut. Apa Ryamizard mendukung kebijakan strategis kemaritiman Jokowi melalui jajaran kementeriannya?

Menurut Hendrajit, pergantian anggota kabinet sebagai isyarat bahwa Jokowi memang bermaksud kembali ke rel Trisakti. “Kalau pergantian menteri tidak dalam rangka kembali ke rel Trisakti, menurut saya itu percuma, karena hanya sekadar pertarungan kepentingan antar elite pendukung Jokowi-JK,” pungkasnya. (Arif RH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.