Kamis, 9 Desember 21

Jokowi dan Presiden Filipina akan Bahas Kasus Mary Jane?

Jokowi dan Presiden Filipina akan Bahas Kasus Mary Jane?

Kuala Lumpur, Obsessionnews – Presiden Jokowi dijadwalkan akan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Filipina Benigno Aquino di sela-sela KTT ASEAN ke-26 di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (27/4/2015). Pertemuan ini diadakan ditengah persiapan Indonesia untuk melakukan eksekusi mati tahap kedua.

Mary Jane Fiesta Viloso, seorang warga negara Filipina masuk dalam daftar eksekusi. Mary tengah berupaya untuk bisa lepas dari hukuman mati dengan melakukan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) kedua ke Mahkamah Agung.

Menteri Luar Negeri Retno Masudi tidak membantah pertemuan Jokowi dengan Benigno membahas kasus Mary Jane. Namun, Retno mengatakan apapun hasil pertemuan dua pemimpin negara itu tidak akan menghalangi Indonesia untuk melakukan eksekusi.

“Saya kira Indonesia dari awal konsisten dengan apa yang sudah kita sampaikan, kita terus konsisten. Statement dari presiden, saya sendiri semuanya konsisten,” terang Menlu.

Menurut dia kasus yang menimpa Mary Jane adalah murni masalah hukum, sehingga kata dia proses penyelesaiannya pun harus dilakukan melalui jalur hukum. Diakuinya bahwa pemerintah RI belum melihat kasus Mary sebagai korban human trafficking atau perdagangan manusia.

“Ini adalah kasus hukum, sehingga kalau ada concern dan sebagainya, maka jalur hukum lah yang harus diambil,” tegas Retno.

Sebelumnya, Terpidana mati kasus narkoba asal Filipina Mary Jane Fiesta Viloso mengajukan permohonan Peninjauan Kembali (PK) untuk kedua kalinya setelah pada Maret lalu PK pertamanya ditolak oleh Mahkamah Agung.

Salah satu pengacara Mary Jane, Agus Salim, mengatakan saat ini pihaknya sudah memiliki novum atau bukti kedua bahwa Mary Jane tidak bersalah dan tidak layak dihukum mati. Agus melanjutkan, ada juga bukti pendukung bahwa Mary Jane adalah korban human trafficking.

Mary Jane ditangkap di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, pada 25 April 2010, lantaran menyelundupkan 2,6 kilogram heroin. Ia dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Negeri Sleman Yogyakarta pada 11 Oktober 2010.

Pengadilan Negeri Sleman menjatuhkan hukuman mati karena Mary Jane terbukti melanggar Pasal 114 ayat 2 UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Putusan PN Sleman atas vonis Mary Jane juga diperkuat dengan putusan banding Pengadilan Tinggi Yogyakarta pada 23 Desember 2010.

Pada putusan kasasi Mahkamah Agung pada 31 Mei 2011 pun demikian. Sedangkan permohonan grasi yang diajukan Mary Jane telah ditolak oleh Presiden melalui Keppres Nomor 31/G tertanggal 31 Desember 2014. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.