Senin, 20 September 21

Jokowi: Bangun Pelabuhan Jangan Nanggung

Jokowi: Bangun Pelabuhan Jangan Nanggung
* Presiden Joko Widodo menekan tombol bersama Menteri BUMN, Gubernur Jatim, dan Dirut Pelindo III pada peresmian revitalisasi Alur Pelayaran Barat Surabaya dan Terminal Teluk Lamong, Jumat (22/5/2015). (Obsessionnews.com/Ari Armadianto)

Surabaya, Obsessionnews – Keberadaan Terminal Teluk Lamong (TTL) memantik ‘mimpi’ Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadikan seluruh pelabuhan-pelabuhan kecil di Indonesia setara dengan terminal pelabuhan semi-otomatis yang pagi tadi diresmikannya itu. Bahkan, presiden ke 7 di republik ini tergugah untuk mengajak membangun pelabuhan untuk 100 tahun kedepan.

“Karena itu saya katakan, jangan nanggung-nanggung kalau membangun pelabuhan,” kata Jokowi yang sekaligus meresmikan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) yang sudah direvitalisasi pelebaran dan kedalamannya, Jumat (22/5/2015).

Dalam sambutannya, Jokowi mengungkapkan, membangun pelabuhan itu tidak cukup hanya dengan luas lahan minimal. Pesannya, membangun pelabuhan harus melihat jangkauan jangka panjang dari investasi yang sudah ditanamkan. “Jangan 10-20 hektar, tapi membangunnya 200 hektar, plus kawasan industri yang juga minimal luasannya 200 hektar,” harapnya.

Jokowi mengatakan, proyek pengembangan pelabuhan dengan investasi dalam jumlah besar, otomatis memiliki rentang pengelolaan jangka panjang. Diingatkan, jangkauan kedepan itu bukan sebatas 10-20 tahun, melainkan diperluas lagi hingga 50-100 tahun ke depan. “Sulit berkembangnya bisnis kecil, pengaruhnya juga pada investasi terhadap pertumbuhan ekonomi,” ujar Jokowi.

Disisi lain, Jokowi juga mengatakan, Terminal Teluk Lamong dan revitalisasi APBS memang menjadi perhatian pemerintah untuk contoh pengembangan pelabuhan-pelabuhan kecil yang banyak tersebar di wilayah nusantara. Sebab, dua proyek prestisius PT Pelindo III (Persero) yang dibangun tanpa melibatkan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) itu akan memicu bangkitnya sektor maritim di Indonesia sebagai poros maritim dunia yang terintegrasi.

“Apabila pelabuhan-pelabuhan yang ada sudah tidak berdiri sendiri-sendiri atau terintegrasi, akan menekan biaya transportasi dan logistik. Biaya itu bisa ditekan hingga separuhnya,” jelas Jokowi didampingi Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan, Menteri BUMN, Rini Soemarno, Gubernur Jatim, Soekarwo dan Direktur Utama (Dirut) PT Pelindo III, Djarwo Surjanto di lokasi peresmian, Terminal Teluk Lamong, Tanjung Perak Surabaya.

Dengan demikian, ia berharap, dalam jangka lima tahun ke depan, Terminal Teluk Lamong akan dapat meningkatkan kapasitasnya. Jika saat ini, kapasitasnya 1,5 juta TEUs, tahun 2020 nanti bisa mencapai 5,5 juta TEUs/tahun.

“Di Priok juga sama sekarang masih 5,5 juta TEUs per tahun. Nantinya juga empat tahun mencapai 15 juta TEUs per tahun. Jadi, nantinya akan sama-sama terlaksana dengan target di Tanjung Priok,” paparnya.

Sekadar tahu, di area konsesi terminal pelabuhan tercanggih di Asia Tenggara yang memiliki luas sekitar 380 hektar ini, terbagi dalam zona logistik untuk depo dan sentra distribusi serta konsolidasi barang. Bahkan, kedua proyek dengan investasi sebesar Rp 4,65 triliun itu, juga dilengkapi zona industri untuk processing curah kering, zona industri untuk packaging, dan supporting facillities terminal petikemas dalam jangka waktu dua hingga tiga tahun ke depan.

Pada saat bersamaan, Dirut PT Pelindo III (Persero), Djarwo Surjanto mengatakan, Pelabuhan Tanjung Perak sebagai pusat dari seluruh fasilias pelabuhan di sepanjang Selat Madura, kini sudah bisa dilewati kapal besar. Kapal-kapal generasi ke 4 dengan muatan di atas 5.000 TEUs (twenty foot equivalent units) dengan kapasitas 80.000 DWT sudah bisa sandar dan berlabuh di Tanjung Perak.

“Dulu, sebelum direvitalisasi, APBS hanya bisa dilalui kapal-kapal berukuran 15 ribu deadweight tonnage (DWT). Pasca revitalisasi kapal-kapal yang melalui Pelabuhan Tanjung Perak dan sekitarnya bisa mencapai 80 ribu DWT,” jelasnya.

Dengan kondisi APBS saat ini, memungkinkan Pelabuhan Tanjung Perak membuka jalur pelayaran langsung menuju Tiongkok, maupun negara-negara lainnya. Selama ini kapal-kapal kita baru sampai Singapura.

“Tak hanya itu, kapal-kapal pengangkut petikemas yang selama ini hanya mampu mengangkut muatan 1.500 TEUs, sekarang bisa membawa 3.000 TEUs. Ini akan berdampak pada daya saing logistik nasional yang berpengaruh pada harga jual barang ke konsumen,” urainya.

Sebelumnya, APBS hanya memiliki kedalaman minus 9,5 meter Low Water Sping (LWS) dan lebar 100 meter. Kondisi ini mengakibatkan ukuran kapal yang melalui Pelabuhan Tanjung Perak menjadi terbatas. Pasca revitalisasi, APBS memiliki kedalaman hingga minus 13 meter LWS dan lebar 150 meter. (GA Semeru)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.