Rabu, 12 Agustus 20

Jokowi Apes, Kenaikan BBM Kontrapoduktif

Jokowi Apes, Kenaikan BBM Kontrapoduktif

Jakarta – Kebijakan menaikkan harga BBM di saat harga minyak dunia jatuh adalah kontraproduktif. Sisi lain korban korban jiwa rakyat Indonesia sudah terjadi akibat protes luas terhadap kebijakan ini, sementara negara hanya dapat pepesan kosong.

“Bener bener apes ..!” ungkap Pengamat Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng  yang juga Peneliti senior The Institute for Global Justice (IGJ) dalam pesan BBM-nya kepada redaksi Obsession News, Jumat (28/11/2014).

Nilai tukar rupiah terhadap USD terus merosot sejak Jokowi menaikkan harga BBM. Sekarang kurs tengah BI berada pada 11.960, terus merosot dalam 3 hari terakhir berdasarkan pantauan http://www.bi.go.id/

Salamuddin mempertanyakan persoalan merosotnya rupiah paska kenaikan BBM. Harga BBM sudah dinaikkan, tapi kok rupiah merosot? Padahal, para analis sedang mencari pembenaran bahwa atas kebijakan ini, untuk menyatakan “pasar merespon positif kenaikan BBM”. “Namun nyatanya tidak demikian!” ungkapnya.

Padahal, lanjut dia, diketahui lanjut dia bahwa keputusan menaikkan harga BBM merupakan pelaksanaan keinginan lembaga World Bank, dan pelaksanaan dari hasil pertemuan APEC, G20, ASEAN Summit, serta pelaksanaan kehendak korporasi internasional. Harapannya setelah kebijakan ini modal asing akan masuk berdesak desakan dalam ekonomi Indonesia.

Faktanya, tegas Salamuddin,  hingga hari ini belum ada tanda tanda modal asing mau masuk. Boleh jadi asing pun berkesimpulan bahwa kebijakan menaikkan harga BBM yang dilakukan Jokowi ini ilegal dan bertentangan dengan UU yang berlaku, bebernya.

“Kebijakan yang diambil di tengah merosotnya harga minyak dunia justru mengacaukan. Berdasarkan hukum, timbangan kebijakan ini memukul fiskal karena jatuhnya harga minyak mentah dunia menyebabkan penerimaan pemerintah dari sektor minyak berkurang. Sementara cost recovery untuk membiyai produksi minyak tidak berkurang dan bahkan bertambah,” paparnya.

Ia mengingatkan, naiknya harga BBM dalam negeri justru menyebabkan pembiayaan pemerintah, khususnya pembiayaan proyek-proyek justru meningkat. “Boleh jadi akan banyak proyek yang mangkrak,” tuturnya.

“Menaikkan harga BBM akan memperlemah bahkan dapat membangkrutkan perusahaan perusahaan dalam negeri karena biaya produksi, upah yang semakin besar, yang mengakibatkan  penerimaan pajak berada dibawah target yang ditetapkan,” tambahnya. (Asm)

 

Related posts