Rabu, 29 September 21

Jihad Setelah Ramadhan

Oleh : Ahmad Hadariy, Pemerhati Politik

 

Suara adzan mahgrib yang membawa kesan khusus. Ramainya anggota keluarga yang berceloteh menyambut saat berbuka puasa, gaung do’a yang menerpa dinding rumah disaat bersahur. Nuansa sholat sunnah tarawih yang memberikan kesan dalam khusyuknya berjemaa’ah, dan genangan air mata yang tumpah dalam kontemflasi ma’rifat yang dahsyat karena mengenang dosa. Sungguh sebuah diorama religi yang paling menyentuh setiap pribadi muslim. Bulan yang memberikan berkah tak berbilang itu, kini mau berlalu, betapa hamba rindu, kami ingin berenang mengarungi samudera hikmah yang dibawamu wahai bulan Ramadhan yang penuh berkah. Adakah kami masih bisa berjumpa denganmu wahai bulan pengampunan?

Kenangan Ramadhan yang telah membawa dampak unik bagi setiap pribadi yang berpuasa, menanamkan rasa optimisme luar biasa kepada setiap hamba untuk merengkuh sebelas bulan ke depan, seraya membawa panji-panji keyakinan yang semakin syarat dengan semangat tauhid. Ramadhan telah menggembleng diri kita semua, seakan – akan seluruh kaum muslimin dan muslimat menjadi santri dari pesantren alam yang maha akbar. Penuh khusyuk, merindu dan syahdu.

Lebih dari itu, Ramadhan seharusnya membentuk pribadi kita sebagai manusia yang tegar, merdeka, paripurna dan sensitive akan rasa keadilan. Setiap pribadi muslim yang telah mencicipi nikmatnya Ramadhan, pastilah terasa dalam butir-butir darahnya sebuah nilai kecintaannya yang mendalam akan harakah Islamiyah. Nilai perjuangan yang menghentak dan merebut seluruh nuraninya untuk tampil menyongsong masa depan sebagai syuhada ‘alan naass dan sekaligus memasuki barisan jundullah, barisan tentara Allah SWT yang dengan gagah berani mampu menyatakan kebenaran dengan tuntas as the fighter of the truth.

Ramadhan bukan hanya sekedar bentangan serial dari perilaku ibadah formal, tetapi kita sangat yakin, bahwa Ramadhan telah mencelup keimanan dan keberagamaan kita dengan sibghoh Bahiyah, sehingga kita terlahir sebagai manusia yang baru dan mampu menyatakan keIslaman kita secara aktual, memberi arti dan sekaligus mampu menjadi pribadi yang diperhitungkan sesuai misi hidupnya untuk memberikan citra rasa pada alam semesta, rahmatan lil alamin.

Setelah satu bulan digembleng dalam kawah candradimuka, maka kinilah saatnya untuk mernbuktikan kepiawaian diri kita masing – masing sebagai jundullah, barisan Allah SWT yang mampu mengangkat tegak wajah batinnya untuk menegakkan kebenaran. Semangat yang lembek dan melempem telah tersingkir. Jiwa pengecut, kerdil dan banci telah mati dan terkubur, berganti dengan semangat samudera yang menggelegar menghempaskan seluruh perilaku kebatilan dan menggetarkan para kafirin yang mencoba menghujat dan menghinakan Islam.

Mana mungkin jiwa kita terpuruk dalam sikap pengecut, sedangkan musuh – musuh Islam terus bergentayangan di panggung dunia. Mana mungkin kita rela melepaskan generasi anak cucu kita pada budaya jahiliyah yang nista. Sedangkan Allah telah menunjuk kita semua sebagai ibadur rahman, hamba Allah SWT yang harus tampil sebagai pembela – pembela kebenaran, qoimam bil qisti. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.