Sabtu, 16 Oktober 21

Jenderal Sutarto: Penyidik KPK Jangan Takut Diteror!

Jenderal Sutarto: Penyidik KPK Jangan Takut Diteror!

Jakarta, Obsessionnews – Mantan Panglima TNI Endriartono Sutarto meminta seluruh pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus tetap semangat meski mendapat ancaman teror dari orang yang tidak dikenal. Penyidik lembaga itu juga diminta bekerja tanpa harus merasa takut terhadap ancaman itu.

“KPK tidak boleh tidak harus melaksanakan tugasnya secara maksimal dan para penyidik juga kemudian tidak boleh merasa takut hanya karena merasa terancam. Karena ujung tombak KPK ini adalah para penyidik,” ujar dia usai bertemu pimpinan KPK, Kamis (12/2/2015).

Endriartono ikut memberi dukungan terhadap KPK yang tengah menghadapi berbagai masalah. Pasca teror terhadap penyidik, pegawai beserta keluarganya Endriartono bersama putri Presiden Gusdur Yenni Wahid menyambangi gedung KPK Jakarta.

“Kita konsultasi saja karena saya dianggap memiliki pengalaman menyelesaikan soal Cicak Buaya yang saya lihat memang situasi sekarang lebih kompleks, lebih berat sehingga apa-apa langkah yang waktu itu kita lakukan apakah masih valid bila dilakukan sekarang,” kata Endriartono.

‎Dia mengatakan yang bisa menyelesaikan konflik KPK-Polri hanya Presiden Jokowi, dua lembaga itu hanya akan menuruti apapun keputusan dari presiden. Namun baginya yang penting adalah presiden mengambil keputusan yang dapat menetramkan‎ semua pihak.

“Menentramkan semua pihak untuk menyelesaikan semua persoalan demi persoalan dengan baik. Kedua institusi bisa kembali bekerja dengan normal‎‎,” katanya.

Beberapa hari terakhir, beredar informasi bahwa sejumlah pegawai, termasuk penyidik aktif KPK, mendapatkan ancaman pembunuhan. Ancaman itu disampaikan melalui telepon dan pesan singkat. Teror tak hanya untuk para pegawai, tetapi juga anggota keluarga mereka. Sebagian merasa diikuti oleh orang tak dapat dikenal.
Anggota Tim Sembilan Jimly Asshiddiqie mengatakan, keresahan memang tengah melanda para pegawai. Bahkan, kata Jimly, ada dua penyidik aktif KPK yang sedianya menjadi saksi dalam sidang praperadilan Komisaris Jenderal Budi Gunawan versus KPK di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, akhirnya batal bersaksi karena mendapatkan ancaman.

“Kami mendapat informasi juga bahwa mengapa dua orang yang disebut-sebut penyidik aktif yang seharusnya menjadi saksi di praperadilan tak hadir,” ujar Jimly kemarin.

Selain itu, lanjut Jimly, sejak memanasnya hubungan KPK dan Polri, para pegawai KPK merasa terancam dan terintimidasi dengan berbagai teror yang dilayangkan melalui telepon dan pesan singkat itu. Ia menekankan, keadaan ini benar-benar meresahkan para pegawai KPK. Jimly mengimbau sejumlah pihak agar tidak memperkeruh situasi. (Has)

Related posts