Senin, 23 Mei 22

Jelang HUT Ke-71 RI, Makam Fatmawati Dibersihkan

Jelang HUT Ke-71 RI, Makam Fatmawati Dibersihkan
* Bung Karno dan Farmawati.

Jakarta, Obsessionnews.com – Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan ke-71 Republik Indonesia, civitas akademia Universitas Bung Karno (UBK) dan pengurus Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) menabur bunga di makam pahlawan nasional, Fatmawati Soekarno di TPU Karet Bivak, Jakarta, Senin (15/08/2016).

“Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka menyambut HUT ke-71 Republik Indonesia, dan secara khusus untuk mengenang jasa-jasa Ibu Fatmawati sebagai salah seorang pejuang kemerdekaan kita,” ujar Wakil Rektor IV UBK Jakarta, Teguh Santosa, dalam siaran pers yang diterima redaksi Obsessionnews.com.

baca juga:

Kenang Fatmawati, Tabur Bunga di Makam Karet

Jatuhnya Lift di RS Fatmawati Akibat Alarm Tidak Berfungsi

Rano Karno Beri Nasihat kepada Pemeran ‘Galih dan Ratna‘

Putri Bung Karno Minta Koruptor Juga Dieksekusi Mati

Fatmawati lahir di Bengkulu pada 5 Februari 1923. Ia adalah anak dari pasangan tokoh Muhammadiyah Bengkulu, Hassan Din, dan Siti Chadijah.

Pada tanggal 1 Juni 1943, Fatmawati menikah dengan Bung Karno yang sedang dalam pembuangan di Bengkulu. Dari perkawinan ini, Fatmawati melahirkan lima anak, yakni Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukawati dan Guruh.

Bendera merah putih yang dikibarkan di halaman kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan pada tanggal 17 Agustus 1945 dijahit oleh Ibu Fatmawati sekitar setahun sebelumnya.

Sang Saka Merah Putih berukuran 266 x 200 cm itu selalu dikibarkan dalam peringatan Hari Kemerdekaan RI dari tahun 1946 hingga 1968. Pada tahun 1969, karena kondisi yang sudah semakin rapuh, Sang Saka Merah Putih tidak lagi dikibarkan. Sebagai penggantinya adalah bendera duplikat.

Ibu Fatmawati meninggal dunia di Kuala Lumpur, Malaysia, pada tanggal 14 Mei 1980, dalam perjalanan pulang dari ibadah umroh di Mekah.

Namanya diabadikan untuk Rumah Sakit Umum Fatmawati di Jakarta dan Bandara Fatmawati Soekarno di Bengkulu.
Bung Karno dan Fatwawati
Pada tahun 1943 Bung Karno menikahi Fatmawati, dan oleh karena Fatmawati masih berada di Bengkulu, sementara Bung Karno sibuk dengan kegiatannya di Jakarta sebagai pemimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera), pernikahan itu dilakukan dengan wakil salah seorang kerabat Bung Karno, Opseter Sardjono.

Pada 1 Juni 1943, Fatmawati dengan diantar orang tuanya berangkat ke Jakarta, melalaui jalan darat, sejak itu Fatmawati mendampingi Bung Karno dalam perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia.

Belum genap mereka mengarungi bahtera rumah tangga, Sukarno tak kuasa menahan gejolak cintanya kepada wanita lain bernama Hartini. Inilah salah satu pangkal sebab terjadinya perpisahan yang dramatis antara Sukarno dan Fatmawati.

Hari Jumat di bulan Ramadhan, pukul 05.00 pagi, fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur kala, embun pagi masih menggelantung di tepian daun, para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda, dengan diliputi kebanggaan setelah merumuskan teks Proklamasi hingga dinihari. Mereka, telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi.
Tepat pukul 10.00, dengan suara mantap dan jelas, Soekarno membacakan teks proklamasi, pekik Merdeka pun berkumandang dimana-mana dan akhirnya mampu mengabarkan Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia.

Kalau ada yang bertanya, apa peran perempuan menjelang detik-detik proklamasi kemerdekaan? Tentu kita akan teringat dengan sosok Fatmawati, istri Bung Karno. Dialah yang menjahit bendera Sang Saka Merah Putih. Setelah itu, ada seorang pemudi Trimurti yang membawa nampan dan menyerahkan bendera pusaka kepada Latief Hendraningrat dan Soehoed untuk dikibarkan. Dan, semua hadirin mengumandangkan lagu Indonesia Raya di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Pada hari itu, Ibu Fatmawati ikut dalam
upacara tersebut dan menjadi pelaku sejarah Kemerdekaan Indonesia.

Salah satu butir keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam sidangnya tanggal 19 Agustus 1945 adalah memilih Bung Karno dan Moh. Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia. Pada tanggal 4 Januari 1946 pusat pemerintahan Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta karena keadaan Jakarta dirasakan makin tidak aman, menyusul hadirnya tentara NICA yang membonceng kedatangan tentara sekutu.

Ibu Fatmawai dan Bung Karno tidak pernah merayakan ulang tahun perkawinan, Jangankan kawin perak atau kawin emas, ulang tahun pernikahan ke-1, ke-2 atau ke-3 saja tidak pernah. Sebabnya tak lain karena keduanya tidak pernah ingat kapan menikah. Ini bisa dimaklumi karena saat berlangsungnya pernikahan, zaman sedang dibalut perang. Saat itu Perang Dunia II sedang berkecamuk dan Jepang baru datang untuk menjajah Indonesia.

“Kami tidak pernah merayakan pernikahan perak atau pernikahan emas. Sebab kami anggap itu soal remeh, sedangkan kami selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan besar yang hebat dan dahsyat,” begitu cerita Ibu Fatmawati di buku Bung Karno Masa Muda, terbitan Pustaka Antar Kota, 1978.

Kehidupan pernikahan Bung Karno dan Fatmawati memang penuh dengan gejolak perjuangan. Dua tahun setelah keduanya menikah, Indonesia mencapai kemerdekaan. Tetapi ini belum selesai, justru saat itu perjuangan fisik mencapai puncaknya. Bung Karno pastinya terlibat dalam setiap momen-momen penting perjuangan bangsa. Pasangan ini melahirkan putra pertamanya yaitu Guntur Soekarnoputra. Guntur lahir pada saat Bung Karno sudah berusia 42 tahun. Berikutnya lahir Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Putra-putri Bung Karno dikenal memiliki bakat kesenian tinggi. Hal itu tak aneh mengingat Bung Karno adalah sosok pengagum karya seni, sementara Ibu Fatmawati sangat pandai menari.

Perjuangan Ibu Fatmawati selama masa sebelum kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan diakui oleh Pemerintah Pusat, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 118/TK/2000 tanggal 4 Nopember 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid, maka Pemerintah Republik Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Ibu Fatmawati.@reza_indrayana

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.