Rabu, 25 Mei 22

Jelang Demo Ahok, Anton Medan Teringat Kisah

Jelang Demo Ahok, Anton Medan Teringat Kisah

Jakarta, Obsessionnews.com – Menjelang demo terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) soal penistaan agama, Jumat (4/11/2016) besok, Tokoh masyarakat Anton Medan terkenang ketika masih di penjara dulu.

“Menyimak situasi yang berkembang belakangan ini, saya jadi ingat ketika masih di “dalam”, saat lagi senang-senangnya belajar membaca diajari seorang guru muda yang jadi pesakitan karena sial, “ kata Anton dalam keterangan tertulis yang diterima Obsessionnews, Kamis (3/11/2016).

Pria keturunan Tionghua ini melanjutkan, guru muda tersebut dihukum atas dakwaan melarikan pacarnya.

“Maka saya katakana sial, karena banyak pelaku tindakan seperti itu yang berakhir tidak jadi napi melainkan jadi menantu.,” ujarnya.

Anton terbayang, kala seseorang ada yang membawakan koran, betapa hebohnya. Mereka saling berebut membaca, saking haus akan informasi.

“O, alangkah senangnya bisa membaca, betul-betul saya rasakan pada waktu itu, saya pun jadi tahu ada banyak pepatah yang indah-indah,” jelasnya.

Situasi seperti itu, kata Anton, menjalinkan fantasi saya pada situasi akhir-akhir ini, dimana orang tidak heboh mencari informasi, tetapi kebanjiran informasi melalui media sosial maupun media elektronik.

Melihat fenomena Ahok yang “keceplosan ngomong” jadi berkembang macam-macam caci-maki, walaupun tak sedikit pula yang bersimpati padanya. Muncul berbagai macam sikap laku orang, yang niscaya mencerminkan suatu karakter.

“Sisi yang sangat sensitif pun sempat saya pertanyakan pada diri sendiri, yaitu mengenai karakter masyarakat atau bangsa Indonesia,” terang mantan preman yang telah insaf ini.

Apakah yang muncul pada orang perorang ataupun kelompok orang itu mencerminkan karakter masyarakat atau bangsa Indonesia? Kalau ya, maka timbul pertanyaan lagi, sejak kapankah perubahan terjadi?

“Ah, tidak ada perubahan, saya meyakini bangsa Indonesia memiliki kepribadian mengutamakan proses. Maka ada pepatah; berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, berskit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian,” imbuhnya.

Pria yang kini menjabat sebagai Ketua Umum DPP Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) menjabarkan, kuncinya kata sabar. Orang yang bersabar akan mendapat kebaikannya. Orang Indonesia pun sejak dulu menyadari adanya perbedaan-perbedaan, yang dilukiskan dengan kata-kata indah, seperti lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya.

Banyak sekali pepatah lama yang tentu saja pun mencerminkan karakter bangsa Indonesia. Apabila kita cermati secara mendalam, tidak ada pepatah yang mengajarkan ataupun mencerminkan prinsip bahwa “orang itu tidak boleh khilaf dan kalau khilaf disikat saja”.

Namun budaya pada hakekatnya memang terbuka. Pengaruh dari luar bisa masuk kapan saja. Oleh karena itu kita sendiri pula yang harus pandai-pandai memfilterinya.

Ingatlah prinsip, bagaimana berhasil menangkap ikan tanpa membuat airnya jadi keruh, atau menarik benang di tepung tanpa membhuat tepungnya berantakan.

Memang sejak dulu juga sudah diingatkan tentang kemungkinan adanya orang yang suka menyalah-nyalahkan orang lain. Perhatikan pepatah yang menyatakan, gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak.

“Sekaligus diingatkan terkait hal itu, harap berhati-hati, karena; menepuk air di dulang tepercik muka sendiri,” ungkapnya.

Timbul harapan besar pada sekap jiwa para pemimpin bangsa ini, ketika dengan ketinggian filosofi dan jiwanya, saling melaklukan pertemuan untuk menyikapi sekaligus mengantisipasi situasi yang berkembang.

“Harapan kita, jangan sampai ada kapal satu nahkoda dua. Sebab, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Salam persatuan dan kesatuan,” pungkasnya. (Popi Rahim)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.