Minggu, 4 Desember 22

Jeblok Terus! Rupiah Tembus Rp 16.000

Jeblok Terus! Rupiah Tembus Rp 16.000
* Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar. (CNBCIndonesia)

Nilai tukar rupiah masih terus merosot melawan dolar Amerika Serikat (AS), semakin mendekati Rp 15.300/US$. Tekanan besar datang dari eksternal, kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed) serta isu resesi dunia di 2023 membuat rupiah berisiko melemah hingga akhir kuartal akhir tahun nanti.

Pada pembukaan perdagangan kuartal IV-2022, Senin (3/10/2022) rupiah melemah 0,36% ke Rp 15.280/US$ di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Pada Kamis (22/9/2022) lalu, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin menjadi 3% – 3,25%, serta menegaskan sikap agresifnya. Hal ini membuat indeks dolar AS melesat sekaligus juga menekan emas.

Suku bunga The Fed kini berada di level tertinggi sejak awal 2008.

“FOMC (Federal Open Market Committee) sangat bertekad untuk menurunkan inflasi menjadi 2%, dan kami akan terus melakukannya sampai pekerjaan selesai,” kata ketua The Fed, Jerome Powell, sebagaimana dilansir CNBC International.

The Fed kini melihat suku bunga akan mencapai 4,6% (kisaran 4,5% – 4,75%) di tahun depan. Artinya, masih akan ada kenaikan 150 basis poin dari level saat ini.

Bahkan, beberapa pejabat The Fed melihat suku bunga berada di kisaran 4,75 – 5% di 2023, sebelum mulai turun di 2024.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) sekali lagi mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin.

Padahal, konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia mayoritas memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin.

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21-22 September 2022 memutuskan untuk menaikkan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 50 bps menjadi 4,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,5%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5%,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Kamis (22/9/2022).

Meksi demikian, kenaikan suku bunga acuan secara agresif seperti yang terjadi di banyak negara, tidak akan dilakukan. Hal ini melihat situasi Indonesia yang berbeda.

“Kenaikan suku bunga agresif tidak diperlukan di Indonesia,” ungkap Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur, Kamis (22/9/2022).

Proyeksi kebijakan tersebut membuat rupiah sulit menguat, sebab selisih imbal hasil obligasi AS dan Indonesia akan semakin menyempit, sehingga berisiko memicu capital outflow yang menekan rupiah.

Selain itu, inflasi di Indonesia yang mulai menanjak juga bisa memberikan tekanan ke Mata Uang Garuda. Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini juga mengumumkan jika inflasi secara tahunan (year on year/yoy) pada September menembus 5,95%.

“Inflasi ini tertinggi sejak Desember 2014,” kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers, Senin (3/10/2022).

Inflasi tinggi pada September juga sesuai dengan perkembangan inflasi di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) Sejak menjabat presiden pada Oktober 2014 hingga Agustus 2022, inflasi Indonesia hanya dua kali melewati 1% yakni pada 1,50% (mtm) pada November 2014 dan 2,46% (mtm) pada Desember 2014.

Inflasi periode tersebut melonjak setelah Jokowi menaikkan harga BBM pada 18 November 2014.Setelah periode inflasi tinggi November dan Desember 2014, Indonesia tidak pernah mengalami inflasi di atas 1% hingga Agustus tahun ini.

Inflasi tinggi merupakan masalah utama di dunia saat ini. Presiden Jokowi berulangkali mengungkapkan bahwa inflasi adalah momok terbesar saat ini oleh semua negara di dunia. Pasalnya, banyak negara di dunia yang tersandung akan inflasi tinggi.

Inflasi ini dipicu oleh kenaikan harga pangan hingga energi, dan perang Rusia-Ukraina yang tak pasti kapan berakhir.

“Pertama yang ingin saya sampaikan momok pertama semua negara saat ini inflasi, inflasi semua negara biasanya hanya 1% sekarang 8%, lebih dari 10% dan bahkan ada lebih dari 80 persen, ada 5 negara,” kata Jokowi saat Pengarahan Presiden kepada seluruh Menteri/Kepala Lembaga, Kepala Daerah, Pangdam dan Kapolda di JCC, Jakarta, Kamis (29/9/2022).

Inflasi yang tinggi memang bisa menimbulkan masalah besar. Daya beli masyarakat bisa tergerus yang pada akhirnya menekan pertumbuhan ekonomi. Jika berlangsung lama, maka risiko stagflasi pun menghantui. (CNBC/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.