Senin, 17 Januari 22

Jebakan Utang China Makan Korban, Negara Ini Hilang Bandara?

Jebakan Utang China Makan Korban, Negara Ini Hilang Bandara?
* Ilustrasi mata uang China, Yuan. (CNBC)

Negara di Afrika, Uganda, dilaporkan tengah berusaha mengubah perjanjian pinjamannya dengan China. Ini untuk memastikan bandara internasionalnya, Entebbe Uganda dan sejumlah aset tidak hilang karena gagal bayar (default).

Dilansir CNBC, menurut laporan Gulf News yang melansir Bloomberg, awal pekan ini, perjanjian itu dibuat tahun 2015. Negara itu meminjam US$ 200 juta (sekitar Rp 2,8 trilliun) dari Bank Export-Import (EXIM) China untuk memperluas bandara Entebbe.

Klausul yang ingin diubah antara lain, perlunya Otoritas Penerbangan Sipil Uganda untuk meminta persetujuan dari pemberi pinjaman China untuk anggaran dan rencana strategisnya. Aturan lain mengamanatkan bahwa setiap perselisihan antara para pihak harus diselesaikan oleh Komisi Arbitrase Ekonomi dan Perdagangan Internasional China.

Hal sama juga dimuat Economic Times. Mengutip sejumlah media lokal, Presiden Uganda Yoweri Museveri dilaporkan telah mengirimkan delegasi ke Beijing guna bernegosiasi dengan pemerintah China.

Uganda sudah mencoba bernegosiasi sejak Maret 2021. Namun sejauh ini belum berhasil. Pinjaman itu sendiri memiliki tenor 20 tahun, termasuk masa tenggang tujuh tahun.

“Tetapi sekarang tampaknya transaksi yang ditandatangani dengan EXIM China berarti Uganda ‘menyerahkan’ satu-satunya bandara internasionalnya,” tulis media India tersebut mengutip SaharaReporters.com, portal berita yang berfokus pada Afrika.

“Pengungkapan bahwa pemerintah Uganda menandatangani perjanjian, antara lain, melepaskan kekebalan untuk aset kedaulatannya telah menimbulkan pertanyaan tentang tingkat pengawasan dan uji tuntas yang dilakukan birokrat sebelum melakukan negara secara internasional, ” tulis laporan lain, Allafrica.com.

Bandara Internasional Entebbe adalah satu-satunya bandara internasional Uganda. Bandara menangani lebih dari 1,9 juta penumpang per tahun.

Sementara itu juru bicara regulator penerbangan Uganda dan Direktur Jenderal China untuk Urusan Afrika, dalam tweet terpisah, membantah hal ini. Pinjaman diberikan terkait proyek pendanaan yang digagas Xi Jinping, Belt and Road Initiative.

Uganda akhirnya harus kehilangan satu-satunya bandara yang dimilikinya, Bandara Internasional Entebbe usai gagal membayar pinjaman ke China.

Uganda diketahui pernah meminjam US200 dolar dari Bank Ekspor-Impor China (EXIM) dengan bunga dua persen dan tenor 20 tahun pada tahun 2015 lalu.

Dana pinjaman yang Uganda dapatkan dari China itu ditujukan untuk memperluas Bandara Internasional Entebbe.

Sayangnya, pemerintah Uganda melepaskan klausul kekebalan internasional untuk mengamankan pinjaman, sehingga China dapat merebut kepemilikan Bandara Internasional Entebbe tanpa arbitrase internasional.

Meski delegasi pejabat Uganda telah berupaya menegosiasikan kembali terkait hal ini, namun China menolak perubahan apapun atas kesepakatan tersebut. (*/CNBC/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.