Senin, 27 September 21

Jangan Takut Rupiah Goyang-goyang

Jangan Takut Rupiah Goyang-goyang

Jakarta, Obsessionnews – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyambut positif keinginan Bank Indonesia (BI) menurunkan tingkat suku bunga acuan yang saat ini masih nongkrong di 7,5%. Dia bilang, saat ini Gubernur Agus Martowardojo bersama lembaganya punya peluang melakukan itu.

Memang, BI masih mengkhawatirkan nilai tukar rupiah goyang-goyang bahkan anjlok kelewat besar. Makanya lembaga ini masih keukeuh mempertahankan suku bunga acuan. Tapi menurut Darmin, realisasi pergerakan inflasi untuk tahun ini masih cukup terkendali. Akibatnya, jarak antara BI rate dan inflasi sudah sangat jauh.

Lihat saja, neraca pembayaran Indonesia (NPI) membaik, disusul defisit transaksi berjalan juga mengecil. Kalau diurut, Darmin bilang lengkap sudah alasan untuk menyebut BI punya peluang.

Di sela sosialisi implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di hotel Borobudur, Jakarta, pada Rabu (4/11), Darmin menjelaskan kalau imbas dari penurunan suku bunga acuan adalah orang bakal lebih senang menyimpan uang dari pada melakukan pinjaman ke perbankan nasional.

BI mencatat, NPI pada kuartal II tahun 2015 defisit 2,93 miliar dolar AS, minus 4,23 dari Kuartal I yang masih surplus 1,3 miliar dolar AS. Menurut Agus, defisit transaksi berjalan ditaksir bakal menyempit antara 2 hingga 2,1% di akhir tahun ini. Perkiraan tersebut, lebih rendah ketimbang capaian tahun lalu yang sebesar 3,1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Kondisi ini, diperkuat surplus neraca perdagangan yang selama periode Januari hingga September 2015 tercatat 7,13 miliar dolar AS
hingga memperbaiki fundamental ekonomi nasional. Belum lagi soal kepastian The Fed soal penaikan tingkat suku bunga yang tak juga dilaksanakan. Sepertinya, BI sudah memfokuskan perhatiannya ke situ.

Hingga akhir tahun 2015, BI menduga angka inflasi bakal ada di sekitar 3,6% atau lebih rendah dari taksiran semula di posisi 4% plus-minus 1%. Badan Pusat Statistik pun mengamini prediksi itu dengan mengumumkan kalau di Oktober sudah terjadi deflasi 0,08% dan inflasi tahun kalender Januari sampai Oktober 2015 sebesar 2,16%. Sedangkan year on year 6,25%.(Mahbub Junaidi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.