Minggu, 16 Juni 19

Jangan Sampai Djan dan Romy Kubur PPP

Jangan Sampai Djan dan Romy Kubur PPP
* Akhmad Muqowam.

Jakarta, Obsessionnews.com – Entah apa yang ada dalam pikiran Romahurmuziy atau Romy dan Djan Faridz sehingga kedua orang ini masih berkonflik. Sama-sama merasa paling berhak atas kepemimpinan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Padahal banyak orang yang merindukan PPP kembali bersatu menjadi partai Islam yang kuat.

Itulah yang dirasakan oleh politisi senior PPP Akhmad Muqowam. Ia menyebut persoalan PPP rumit karena keduanya bersikukuh punya legal standing yang dijadikan alat pembenaran untuk pemimpin PPP. Romy mengacu pada SK Kemenkumham, sementara Djan berpegang pada putusan Mahkamah Agung (MA).

“Fakta ini menimbulkan satu kerumitan kalau tidak ada upaya menyatukan pemahaman masing-masing mengenai legal standing itu,” ujar Muqowam saat wawancara khusus dengan obsessionnews.com di ruang kerjanya, Gedung DPD RI, Jakarta, Jumat (5/5/2017).

Tanpa disadari konflik PPP sudah berlangsung hampir tiga tahun tanpa menemui titik terang. Hal yang paling ditakuti Muqowam adalah saat di mana partai politik akan masuk dalam tahapan Pemilu pada 2019 mendatang. Di mana untuk bisa mengikuti Pemilu harus ada persyaratan yang wajib dipenuhi oleh parpol.

Salah satu persyaratannya adalah, harus ada satu kepemimpinan partai untuk mendaftarkan diri sebagai salah satu peserta Pemilu. Sementara, PPP sampai saat ini belum menunjukan tanda-tanda keduanya mau duduk bersama membicarakan rekonsiliasi baik Djan maupun Romy.

“Yang paling kita takuti dan itu bahaya ke depan adalah saat memasuki tahapan-tahapan Pemilu di mana ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh parpol. Ini apakah Romy atau Djan bisa ikut Pemilu, atau dua-duanya tidak bisa ikut,” terangnya.

Anggota DPD dari Provinsi Jawa Tengah ini takut jika PPP tidak bisa mengikuti Pemilu 2019 mendatang, karena keduanya berdiri sama kuat. Menurutnya, pengadilan yang harus dihadapi Djan dan Romy bukan hanya pengadilan dalam arti sebenarnya. Tapi juga pengadilan Pemilu.

Jangan sampai karena konflik yang berkepanjangan ini, Djan dan Romy tidak memikirkan dampak panjang. Artinya kata Muqowam,PPP ke depan tidak bisa mengikuti Pemilu, dan hanya menjadi partai penonton. Jika itu terjadi, maka Djan dan Romy akan tercatat dalam sejarah sebagai orang yang mengubur PPP dalam jurang kegelapan.

“Yang harus diingat mereka bukan hanya menghadapi pengadilan hukum, tapi pengadilan Pemilu yakni persyaratan yang ‎harus dipenuhi oleh parpol. Kalau sudah masuk regulasi Pemilu tentu kan satu. Kalau demikian adanya apakah kemudian dua-duanya ikut atau dua-duanya tidak ikut. Kalau dua-duanya tidak ikut, ini artinya keduanya memang dengan sengaja dan sistematis mengubur partai Islam di Indonesia,” terangnya.

Menurutnya, semua orang pasti akan kecewa bila itu terjadi. Namun ia berharap Djan dan Romy sudah bisa mulai berbenah untuk memikirkan jalan agar bisa menyatukan kembali PPP. Wacana Muktamar Luar Biasa kembali digulirkan untuk mewadahi PPP melakukan rekonsiliasi. Muqowam menilai bisa saja itu dilakukan.

“Adakah minat dari keduanya untuk mundur selangkah. Artinya bahwa Djan Faridz jangan menegasikan Romy. Romy juga jangan menegasikan Djan Faridz. Karena secara hukum sekali lagi mereka merasa benar semua, kuat semua. Padahal faktanya PPP itu satu,” tuturnya.

“Karena itu satu adalah apakah mereka menyadari bahwa pertama kalau sudah masuk rezim Pemilu apakah memenuhi persyaratan. Kedua kalau mau masuk dalam tahapan Muktamar Luar Biasa apakah mereka mau duduk bersama membicarakan itu. Semua tergantung mereka,” jelasnya. (Albar).

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.