Kamis, 9 Februari 23

Jangan Biarkan Anak Buta Bahasa Daerah

Jangan Biarkan Anak Buta Bahasa Daerah

Bandung, Obsessionnewsa – Rektor Insitut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Dr  Hj Een Herdiani menyerukan kepada para orangtua agar jangan membiarkan anak tidak mengerti bahasa daerahnya. Hal ini disampaikannya Selasa (2/6/2015), terkait peringatan hari anak sedunia yang jatuh setiap tanggal 1 Juni.

Menurutnya, arus informasi yang mengalir secara deras melalui dunia maya  membuat sejumlah keluarga lupa memberikan pendidikan budaya lokal.  ISBI memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengembangkan dan menularkan hasil-hasil penelitian untuk dapat dikembangkan dan kembali kepada budaya lokal.

“Pemerintah melalui Dinas Pendidikan, unsur Perguruan Tinggi, masyarakat sampai pada keluarga memiliki tanggung jawab untuk pengembangan budaya tersebut,” tandas Een.

Ia mengakui banyaknya kelemahan, karena selama ini dari hasil penelitian, seminar dan yang lainnya terkadang hanya disimpan di rak lemari dan tidak di publish ke masyarakat luas. Dicontohkan Een banyak nilai-nilai pendidikan di dalam gamelan, tari dan yang  lainnya.

Een menjelaskan, dirinya kerapkali berdiskusi dengan rekan-rekannya di jurusan animasi agar dapat membuat film-film pendek berdurasi 1 jam untuk dapat ditonton anak-anak, sehingga nilai-nilai budaya lokal tidak dilupakan. “Animasi itu bisa ditonton para pengunjung cafe dengan berisi budaya lokal,” imbuhnya.

Menurut Een, pihaknya juga menerapkan kewajiban bagi prodi televisi dan film, ujiannya membuat film dokumenter seni budaya. Hal ini menjadi salahsatu upaya untuk meminimalisir perkembangan teknologi yang begitu canggih saat ini. “Saya ingin agar anak-anak kita kembali mencintai nilai-nilai budaya,” tegasnya.

Seorang keluarga dapat membawa anak berapresiasi, dibawakan cerita yang bernilai budaya lokal, pantun, wayang dsb yang menarik bagi anak-anak. “Seperti yang dikembangkan wayang Tafif, wayang ajen sehingga membuat ketertarikan dimata anak-anak,” ucapnya.

Ia pun menyayangkan sudah tidak ada lagi dogeng pengantar tidur, tidak lagi menggunakan bahasa turunan, seharusnya orangtua lebih mengenalkan pendidikan lokal daerahnya kepada anak-anak mereka dari pada anak dibiarkan melihat dunia maya,” jelasnya.

Een juga menyayangkan masih minimnya pelajaran seni dan budaya di sekolah  termasuk para pengajarnya yang tidak sedikit bukan dari latar belakang seni, namun hanya sebatas hobi. (Dudy Supriyadi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.