Minggu, 29 Maret 20

Jaksa Sebut Imam Nahrawi Bangun Rumah Butik dari Hasil Korupsi

Jaksa Sebut Imam Nahrawi Bangun Rumah Butik dari Hasil Korupsi
* Imam Nahrawi. (Foto: Kompas)

Jakarta, Obsessionnsws.com – Jaksa KPK mengungkap praktik korupsi yang dilakukan oleh mantan Menpora Imam Nahrawi. Ia disebut menerima gratifikasi Rp 8,6 miliar. Sebagian di antaranya yaitu sekitar Rp 2 miliar digunakan untuk membuat rumah butik miliknya.

Uang korupsi itu didapat dari Lina Nurhasanah selaku Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) Program Indonesia Emas (PRIMA) Kemenpora periode tahun 2015-2016.

Awalnya jaksa mengatakan Dadank I Sarjani mengenalkan istri Imam Nahrawi bernama Shobibah Rohmah kepada Budiyanto Pradono dan Intan Kusuma Dewi dari kantor Budipradono Architecs. Dalam pertemuan itu, Shobibah berminat untuk menggunakan jasa Kantor Budipradono Architecs untuk mendesain rumah milik Imam.

“Dalam pertemuan itu dibicarakan bahwa Shobibah Rohmah berminat untuk menggunakan jasa Kantor Budipradono Architecs untuk mendesain rumah milik Imam Nahrawi,” demikian tertulis dalam surat dakwaan yang telah dibacakan sebagian dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Raya, Jakarta Pusat, Jumat (14/2/2020).

Selanjutnya pertemuan juga dilakukan di rumah Dinas Menpora Jalan Widya Candra, Jakarta Selatan, yang dihadiri Imam Nahrawi, Asisten Pribadi Menpora Miftahul Ulum, Shobibah, Budiyanto dan Intan. Dalam pertemuan itu Shobibah setuju rencana pembuatan desain di Jalan Manunggal II, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur.

“Selanjutnya pada tanggal 9 Juli 2015, ditandatangani Surat Perjanjian Pekerjaan Jasa Konsultan Arsitek Untuk Desain Arsitektur Rumah di Ceger, Jakarta Timur (019/BPA 1507/agr) antara Shobibah Rohmah dan Budiyanto Pradono dengan nilai kontrak sejumlah Rp 700.000.000, dimana pembayaran dilakukan berdasarkan tahapan pekerjaan,” jelas jaksa.

Kemudian pada September 2016 dilakukan pertemuan kembali, yang dihadiri Imam, Ulum, Shobibah, dan Intan di rumah dinas Menpora. Dalam pertemuan itu, Shobibah meminta dibuatkan desain interior butik dan café dengan alamat di Jalan Benda Raya No. 54C Kemang, Jakarta Selatan.

Anggaran biaya desain interior tersebut membutuhkan dana Rp 390 juta. Namun, terhadap pengerjaan desain interior itu tidak dituangkan dalam kontrak karena didasarkan saling percaya.

Atas desain rumah dan butik tersebut, jaksa menyebut Ulum menghubungi Lina meminta sejumlah uang Rp 2 miliar untuk membayar ‘Omah Bapak’ maksudnya yaitu rumah milik Imam Nahrawi. Atas permintaan tersebut, Lina sempat menolak, namun karena desakan Lina menyiapkan Rp 2 miliar yang berasal dari dana akomodasi atlit pada anggaran Satlak Prima.

“Pada tanggal 12 Oktober 2016, Alverino Kurnia (Staf Lina) menyerahkan uang sejumlah Rp 2.000.000.000 kepada Intan Kusuma Dewi di kantor Budipradono Architecs yang kemudian Intan Kusuma Dewi menandatangani bukti tanda terima uang tersebut untuk pembayaran jasa desain Arsitek rumah milik Imam Nahrawi,” papar jaksa.

Lalu pada Mei 2019, jaksa menyebut Shobibah meminta desain kembali rumah yang terletak di Jalan Pembangunan, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, dengan luas tanah ± 3022 M2. Atas permintaan tersebut, tim Kantor Budipradono Architects melakukan cek lokasi yang rencananya akan dibangun asrama untuk santri, pendopo dan lapangan bulu tangkis.

Biaya desain rumah itu Rp 815.052.000, yang mana pembayaran menggunakan uang Rp 2 miliar yang sudah diantar di kantor Budipradono Architecs. “Yang mana pembayarannya juga menggunakan uang sejumlah Rp 2.000.000.000 yang sudah diterima oleh Kantor Budipradono Architecs,” ucap jaksa. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.