Minggu, 28 November 21

Jaksa Agung Didesak Usut Pembelian Mesin Cetak Uang Komori

Jaksa Agung Didesak Usut Pembelian Mesin Cetak Uang Komori

Jakarta, Obsessionnews – Ketua Harian Federasi Serikat Pekerja (FSP) BUMN Bersatu, Prakoso Wibowo mengungkapkan, tahun 2007 Direksi Peruri dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI sudah sangat jelas tidak merekomendasikan mesin cetak uang merek Komori untuk dibeli dan digunakan oleh Peruri guna mencetak pesanan cetakan uang.

“Alasan tersebut dilatarbelakangi dengan hasil studi banding Peruri ke negara-negara penguna mesin cetak buatan Jepang merek Komori, yang ternyata mesin cetak Komori dari produktivitas, kualitas dan realibilitasnya sangat buruk hasilnya, sekalipun dari sisi harga lebih murah dibandingkan dengan mesin cetak uang KBA Giori buatan Swiss,” bebernya, Sabtu (4/4/2015).

Prakoso menegaskan, mesin cetak uang merk Komori adalah mesin cetak uang yang baru kali pertama digunakan Peruri sejak Peruri berdiri. Sebelumnya, Peruri selalu mengunakan mesin cetak uang merk KBA buatan Swiss yang lebih banyak populasi di dunia dan banyak digunakan hampir 90 persen negara di dunia.

“Komori pada saat tender pengadaan mesin cetak tahun 2007 di Peruri kalah dan protes kepada Meneg BUMN dengan alasan kenapa Komori yang mesin cetak uangnya lebih murah tidak dipilih Peruri dan Peruri lebih memilih KBA Giori bukan dari sisi murahnya harga tapi kualitasnya,” ungkap Prakoso.

Hari ini, lanjutnya, terbukti setelah Direksi Peruri memilih Komori yang murah dan produktivitas yang jelek berimbas pada produktivitas dan ketepatan waktu dalam memenuhi order cetak uang dari Bank Indonesia (BI), akibat Mesin Komori rusak padahal belum lama dibeli.

Seharusnya, tutur dia, jika ingin memilih Komori, maka Direksi Peruri tidak perlu mengajukan pinjaman kredit ke BRI untuk membeli mesin cetak tersebut. “Dan bisa menekan Komori untuk bisa mendapatkan kredit ekspor dari perbankan di Jepang yang bunganya rendah,” tandasnya.

Hal ini, menurutnya, karena Peruri baru memakai Komori. “Sebab, dengan kuncuran kredit ekport dari perbankan Jepang akan lebih transparan dan jauh dari mark-up. Berbeda dengan kucuran kredit dari BRI yang nanti bisa terjadi mark-up dan kongkalikong antara Peruri dengan Komori saat aprasialnya,” jelas Prakoso.

Jadi, tegas dia, tuduhan Direksi Peruri yang mengatakan keterangan FSP BUMN Bersatu liar dan tanpa bukti terkait buruknya performance mesin Komori merupakan bukti Direksi Peruri kalap dan hilang akal. “Harusnya, terkait ketidakberesan pembelian mesin Komori, Direksi Peruri tidak perlu kalap dilaporkan ke Kejaksaan Agung jika fine-fine saja,” tutur prakoso.

“Dan Jampidsus sebaiknya jangan menghambat laporan SP Peruri terkait dugaan korupsi mark-up pembelian Mesin Komori. Jika Jampidsus tidak juga memproses maka FSP BUMN Bersatu akan menulis Surat protes kepada Jaksa Agung untuk mencopot Jampidsus,” kata Ketua FSP BUMN Bersatu. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.