Minggu, 17 Oktober 21

Jakarta Milik Semua

Jakarta Milik Semua

Oleh: Pradipa Yoedhanegara – Pengamat Sosial Politik

Detik-detik menjelang pelantikan gubernur terpilih Anis Baswedan dan Sandiaga Uno semakin meningkatkan eskalasi ditingkat lokal maupun dilevel nasional. Menarik memang apabila kita membicarakan kepemimpinan di ibukota jakarta pasca tumbangnya Incumbent (ahok) yang kini menjadi pesakitan dan mendekam di penjara mako brimob akibat kasus penistaan agama yang telah di vonis bersalah oleh pengadilan negeri Jakarta Utara.

Meski Pilkada dki sudah selesai dengan ditetapkannya Anis Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai gubernur dan wakil gubernur terpilih, namun tetap saja dinamika politik saat pilkada kemarin masih banyak meninggalkan kesan yang mendalam bagi sebagian warga yang tinggal di ibukota jakarta yang ikut merasakan kencangnya atmosfer politik yang begitu dahsyat karena menjadi pusat perhatian media massa, baik dari dalam maupun luar negeri.

Meskipun, pasangan Ahok-Jarot yang notabene sebagai sang Incumbent, “telah resmi dinyatakan kalah oleh KPUD DKI Jakarta dalam Pilkada dki tersebut”, dan dengan secara ksatria telah mengakui kekalahannya, tetapi masih banyak sekali para pendukung dan simpatisan incumbent yang belum bisa menerima kenyataan pahit akibat kalah dalam Pilkada tersebut, bahkan masih menyimpan luka dan sakit hati mendalam terhadap kekalahan incumbent di pilkada dki jakarta beberapa waktu yang lalu.

Ternyata ahok yang sudah lapang dada dan berbesar jiwa, *”dengan mengakui kekalahannya”*, tidak serta merta hal tersebut diikuti begitu saja oleh para pendukungnya, yang mau ikut berbesar hati menerima kekalahan dalam pesta demokrasi di ibukota karena makin maraknya di media sosial hujatan dan makian terhadap gubernur terpilih anis-sandi yang dianggap oleh para pendukung ahok itu *”(anis-sandi) didukung oleh kelompok Wahabi dan kelompok islam garis keras, ataupun dianggap sebagai kelompok sumbu pendek”*.

Caci maki dan hujatan terhadap gubernur terpilih dibanyak media sosial, *”bukanlah contoh yang baik dan sehat dalam demokrasi”* karena akun-akun di medsos yang secara terang benderang menyerang anis-sandi itu bagaikan arwah yang penasaran dan bergentayangan serta ingin sekali melakukan *”pembunuhan karakter”* kepada siapa pun yang dianggap ikut bertanggung jawab atas kegagalan Incumbent memenangkan kontestasi dalam pilgub di dki jakarta.

Dibiarkannya tetap *”Eksis”* akun-akun sosial media yang banyak melakukan penghinaan terhadap gubernur terpilih oleh Kementrian Komunikasi dan informasi, patut dipertanyakan?? Seiring dengan getolnya yang bersangkutan memberi peringatan kepada khalayak ramai *”akan menertibkan akun-akun siapa saja yang katanya melanggar aturan dalam bersosial media”*.

Masih banyaknya akun yang beredar di media sosial dengan *menyerang secara masif dan membabi buta*, dengan tidak menerima kekalahan dan membuat berbagai fitnah di sosial media, terkadang membuat dada ini sesak, dan terkadang juga membuat kita lucu tertawa manakala membacanya, karena ternyata dinegeri ini masih ada orang ataupun kelompok yang berjiwa kerdil dan tidak mau menerima kekalahan dalam suatu *”kontestasi politik”*.

Diera majunya Iptek ini ternyata banyak sekali prilaku menyimpang di sosial media, seperti: *”Hoak, Teror, Pencitraan, kebohongan dan lain sebagainya”* yang kini telah menjadi trend sosial, yang hal tersebut membuat rakyat menjadi terkotak-kotak, terkubu-kubu dalam kesehariannya, karena seperti menyimpan api dalam sekam yang dapat membakar emosi rakyat sewaktu-waktu.

Mungkin hal tersebut diatas bisa jadi adalah *”cerminan dari kegagalan negara dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara”*, sehingga politik yang sebenarnya hanya sebatas ajang kontestasi untuk menjaring pemimpin dan orang-orang terbaik dinegeri ini malah membuat para anak bangsa menjadi terbelah dan terkotak-kotak di ibukota negara tercinta.

Sudah selayaknya pemerintah pusat, mau turun tangan dengan membuat sebuah regulasi ataupun metodelogi sebagai bahan terobosan pasca digelarnya pilkada agar para pendukung bisa kembali bersatu dengan pola *”rekonsiliasi bersama”* antara pendukung yang menang dan yang kalah. Karena dengan bersatunya mereka akan dapat menciptakan stabilitas politik yang kondusif bagi gubernur terpilih anis-sandi dalam menjalankan roda pemerintahan di dki jakarta.

Karena tanpa adanya stabilitas politik yang baik di ibukota jakarta, maka gubernur terpilih nantinya *”tidak bisa menjalankan tugas dengan baik dan efektif”* di ibukota jakarta karena pastinya gubernur terpilih akan selalu diganggu oleh persoalan kecil dan remeh temeh oleh pendukung yang calonnya kalah dalam pilkada dki tersebut, karena begitu masifnya kelompok yang kalah, tidak bisa berjiwa besar serta berfikir besar dengan mengakui kemenangan lawan dalam kontestasi politik dinegara demokrasi yang kita anut saat ini.

Tampaknya gubernur dan wakil gubernur terpilih harus juga bisa legowo untuk dapat *”memulai rekonsiliasi bersama”* antara para pendukung, simpatisan atau relawan anis-sandi dengan para pendukung, simpatisan dan relawan ahok-jarot dengan cara ikut merangkul mereka, untuk turut serta mengawal program-program janji kampanye Anis-Sandi agar dapat terealisasi ditengah masyarakat dan juga mengakomodir program-program ahok-jarot yang bagus ke dalam program kerja anis-sandi kedepannya, agar tercipta suasana yang lebih kondusif ditengah masyarakat ibukota jakarta.

Mengakomodir kebijakan ahok-djarot yang sedang berjalan mungkin bisa menjadi jalan tengah dan sebagai alternatif pilihan, agar ada semacam win-win solution kepada para pendukung ahok-jarot pasca pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih nantinya, karena dengan begitu Gubernur dan Wagub terpilih bisa menjadi, *”Jargon pemersatu bagi seluruh warga dki jakarta dan bisa menghentikan sekat politik yang ada ditengah masyarakat”*.

Selain itu Gubernur terpilih, nantinya wajib juga dikawal dengan ketat oleh para pendukung militannya, melalui sarana media sosial maupun saluran media lainnya, *”agar masyarakat dki jakarta nantinya dapat teredukasi dengan baik dan mengerti sosialisasi program apa saja yang akan dijalankan oleh gubernur anis- sandi”*, serta memahami beban berat serta tugas pelayanan gubernur anis- sandi dimasa mendatang kepada seluruh warga dki jakarta.

Sebagai pesan penutup sudah sebaiknya warga dki kembali bersatu untuk membangun kota jakarta yang *Ok- Oce*, karena hanya dengan persatuan akhirnya ibukota jakarta beserta masyarakat’nya bisa dianggap menjadi lebih modern dan beradab karena bisa membuat *”maju kota’nya dan bahagia warga’nya”*, untuk itu sebagai masyarakat madani yang berbudi luhur, sudah selayaknya *melangkah dan maju bersama*, serta tidak lagi terkotak-kotak ditengah kemajemukan ibukota, karena jakarta adalah *”Milik Kita Semua”*.

Wauwlahul Muafiq illa Aqwa Mithoriq,
Wassalamualaikum Wr,Wb

Jakarta, 12 Oktober 2017

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.