Rabu, 29 Juni 22

Jaga Islam, Jaga NKRI, dan Penjarakan Penista Agama

Jaga Islam, Jaga NKRI, dan Penjarakan Penista Agama
* Massa dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam berunjuk rasa menuntut Ahok dipenjara di depan Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (7/2/2017). (Foto: Edwin B/Obsessionnews.com).

Jakarta, Obsessionnews.com –  Forum Umat Islam (FUI) mengajak umat Islam melakukan unjuk rasa (unras) di Gedung DPR, Selasa (21/2/2017) menuntut terdakwa dugaan penistaan agama, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, dipenjara.  Unras ini merupakan Aksi Bela Islam jilid 5.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Obsessionnews.com, Sabtu (18/2), koordinator lapangan (korlap) FUI Ustadz Bernard A Jabbar menjelaskan agenda unras adalah penjarakan penista agama, copot Ahok sebagai gubernur, stop kriminilasi ulama, dan stop penangkapan mahasiswa.

Bernard menegaskan unras yang bertema “Jaga Islam Jaga NKRI” tersebut akan berlangsung tertib dan damai.

Ahok ditetapkan sebagai tersangka dugaan penodaan agama terkait ucapannya yang menyinggung Al-Quran surat Al Maidah ayat 51 dalam sebuah acara di Kepulauan Seribu, Selasa (27/9/2016). Ketika itu calon gubernur DKI pada Pilkada 2017 ini antara lain mengatakan,“… Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai surat Al Maidah 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu, jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya?”

Ucapan pria yang beragama Kristen Protestan ini membuat umat Islam tersinggung dan melaporkannya ke polisi. Sementara itu Majelis Ulama Pusat (MUI) Pusat secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap keagamaan terhadap kasus Ahok.  MUI dalam pernyataan sikap keagamaan yang ditandatangani Ketua Umum Ma’ruf Amin dan Sekretaris Jenderal Anwar Abbas pada Selasa (11/10/2016), menyebut perkataan Ahok dikategorikan menghina Al-Quran dan menghina ulama yang berkonsekuensi hukum.

Tiga hari setelah dikeluarkannya sikap keagamaan MUI tersebut, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI) meggelar aksi bela Islam jilid 1 pada Jumat (14/10/2016) yang menuntut Ahok ditangkap dan dipenjara. Namun, aksi yang diikuti ribuan orang tersebut seperti membentur tembok.

Karena tidak ada tanda-tanda polisi menangkap Ahok, GNPF MUI kembali mengerahkan massa turun ke jalan. Dan sungguh mengejutkan. Aksi Bela Islam jilid 2 yang digelar di depan Istana Presiden tersebut diperkirakan diikuti lebih dari 2,3 juta orang. Aksi itu kemudian populer dengan sebutan aksi 411. Dipilihnya Istana Presiden sebagai lokasi berunjuk rasa karena massa menuding Presiden Joko Widodo (Jokowi) melindungi Ahok.

Karena tekanan massa itu polisi mulai serius menangani kasus Ahok. Hasilnya, Bareskrim Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama pada Rabu (16/11/2016). Namun, Ahok tak ditahan. Ia hanya dicekal ke luar negeri. Tentu, hal itu tak sesuai dengan aspirasi pengunjuk rasa.

Oleh karena itu massa yang dikoordinir GNPF MUI kembali berunjuk rasa dalam Aksi Bela Islam 3 pada Jumat (2/12/2016). Semula direncanakan dalam aksi 212 itu akan dilakukan sholat Jumat di sepanjang Jl. Sudirman – Jl. MH Thamrin – bundaran Hotel Indonesia (HI) – depan Istana Presiden. Namun dibatalkan setelah tercapai kompromi antara Kapolri Jenderal Tito Karnavian bersama para pimpinan GNPF MUI di kantor MUI Pusat, Senin (28/11/2016). Aksi 212 diperkiran diikuti lebih dari 7,5 juta orang.

Polisi melimpahkan kasus Ahok ke Kejaksaan Agung (Kejagung).  Selanjutnya  Kejagung melimpahkan berkas perkara kasus Ahok ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Status Ahok berubah menjadi terdakwa saat menjalani sidang perdana pada Selasa (13/12/2016). Dan hingga kini Ahok telah menjalani sidang sebanyak sepuluh kali.

Karena belum ada tanda-tanda Ahok akan dipenjara, umat Islam kembali berunras pada Sabtu (11/2/2017). Aksi Bela Islam jilid 4 dikemas dalam bentuk doa dan dzikir di Masjid Istiqlal. Kali ini unras dikoordinir oleh FUI. Sebelumnya FUI akan berunras di  sepanjang Jalan Sudirman-MH Thamrin, Jakarta. Namun, dilarang oleh polisi.

Belajar dari kasus Ahok, semua pihak hendaknya menyimak pernyataan mantan Ketua Umum Pengurus  Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) KH Hasyim Muzadi dalam siaran pers yang berjudul “Kekuatan (Energi) Al-Quran dan Politisasi”, Rabu (9/11/2016). Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini mengatakan, di kalangan umat Islam seluruh dunia ada tiga hal yang tidak boleh disinggung atau direndahkan, yakni Allah SWT, Rasulullah SAW, dan kitab suci Al-Quran. Apabila salah satu, apalagi ketiganya disinggung dan direndahkan pasti mendapat reaksi spontan dari umat Islam tanpa disuruh siapapun.

“Reaksi tersebut akan segera meluas tanpa bisa dibatasi oleh sekat-sekat organisasi, partai, dan birokrasi. Kekuatan energi tersebut akan bergerak dengan sendirinya tanpa dibatasi ruang dan waktu,” katanya.  (arh)

Baca Juga:

‘Aksi Tuntut Penjarakan Ahok Sesuai Kemauan Umat Islam’

Hak Angket Ahok ‘Gate’ Masuk Bamus DPR

Jakarta Tanpa Ahok

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.