Senin, 14 Oktober 19

Jadi Pewaris Takhta Mahathir, Ini Jejak Anwar Ibrahim Dalam Panggung Politik Malaysia

Jadi Pewaris Takhta Mahathir, Ini Jejak Anwar Ibrahim Dalam Panggung Politik Malaysia
* Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. (Foto: Sindonews)

Kuala Lumpur, Obsessionnews.com – Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim buka suara soal suksesi kepemimpinan di negeri jiran Malaysia, yakni mengenai kepastian dirinya menggantikan Mahathir Mohamad sebagai Perdana Menteri Malaysia. Anwar menegaskan bahwa persoalan suksesi kepemimpinan Malaysia sudah selesai, jelas, dan disepakati bersama oleh koalisi berkuasa Pakatan Harapan, dimana ia akan menggantikan PM Mahathir pada 2020 mendatang.

“Menurut pemahaman bersama, saya akan menggantikan Mahathir sekitar bulan Mei 2020, namun saya tidak terlalu mempersoalkan tepatnya bulan berapa,” ucap Anwar dikutip dari Bloomberg, Minggu (22/9/2019).

Menurut politisi berusia 72 tahun ini, Mahathir akan mengundurkan diri pada waktu yang tepat dan dia akan menggantikannya. Ia mengatakan tidak ada yang dapat menghalangi individu lain dengan ambisi dan agenda politik sendiri. Namun, Anwar menekankan bahwa tidak ada nama lain selain dirinya.

“Koalisi pemerintah telah menyetujui rencana suksesi dan akan menghormatinya. Ini bukan mengenai posisi saya atau Mahathir, tetapi ini adalah keputusan koalisi.” “Sejauh ini belum ada tanda-tanda untuk mengubah kesepakatan ini,” kata Anwar menjelaskan.

Anwar membantah rumor politik yang beredar mengenai kemunculan nama Menteri Ekonomi Azmin Ali dan Menteri Besar Kedah yang juga putra Mahathir, Mukhriz Mahathir sebagai calon pengganti Mahathir. “Tidak ada partai koalisi yang mengindikasikan atau menfavoritkan nama lain untuk menggantikan Mahathir,” ujar Anwar.

Teka-teki mengenai apakah Mahathir akan menyerahkan kekuasaan kepada Anwar memang terus menjadi spekulasi politik di Malaysia. Sebelumnya, Koalisi Pakatan Harapan telah sepakat bahwa Mahathir akan menyerahkan kekuasaan kepada Anwar setelah dua tahun menjabat, yakni pada bulan Mei tahun 2020.

Mahathir juga telah berkali-kali menyampaikan bahwa dirinya pasti memenuhi janji politiknya itu. Namun, perdana menteri yang akrab dipanggil Dr M ini juga beberapa kali mengubah jawaban mengenai kapan pastinya suksesi kekuasaan akan terjadi. Bulan Juni lalu, Mahathir bahkan mengatakan dia berencana untuk menjabat lebih lama, yaitu selama tiga tahun atau hingga 2021.

Hubungan antara Mahathir dan Anwar yang bermula dari mentor dan murid politik itu sempat berubah drastis menjadi lawan politik. Namun kini, hubungan keduanya kembali “membaik”, dengan Mahathir, yang kembali menjadi perdana menteri usai memenangi pemilu 2018, berjanji akan lengser dalam dua tahun dan menyerahkan kekuasaan kepada Anwar.

Anwar Ibrahim mengawali karier politiknya sebagai presiden Persatuan Pelajar Muslim Malaysia pada 1968-1971. Namun pria kelahiran Bukit Mertajam 10 Agustus 1947 itu sempat menjalani hukuman dipenjara 20 bulan akibat memimpin unjuk rasa mahasiswa yang menentang kemiskinan dan kelaparan di pedesaan pada 1974. Anwar ditahan berdasarkan Undang-Undang Keamanan Internal (ISA) yang mengizinkan penahanan tanpa pengadilan bagi siapa saja yang dianggap mengancam keamanan negara.

Pengalaman hidup di penjara tidak membuat Anwar kapok dengan politik yang kemudian memutuskan bergabung dengan Organisasi Nasional Malaysia Bersatu (UMNO) pada 1982, yang dipimpin Mahathir Mohamad. Setahun setelah bergabung, Anwar ditunjuk menjadi menteri kebudayaan pemuda dan olahraga di kabinet pemerintahan Mahathir.

Anwar juga pernah dipercaya menjabat sebagai menteri pertanian dan menteri pendidikan Malaysia, sebelum ditunjuk menjadi wakil perdana menteri pada 1993.

Sejak saat itu, Anwar telah digadang-gadang sebagai peneris Mahathir Mohamad. Namun hubungan Anwar dan Mahathir memburuk. Hal itu dipicu atas perbedaan pandangan keduanya dalam menjalankan pemerintahan.

Anwar Ibrahim lalu kembali mendekam di penjara sebanyak dua kali, yakni pada 1999 dan 2015. Anwar dituduh melakukan praktik homoseksual dan sodomi serta korupsi, setelah sebuah buku berjudul “50 Dalil Kenapa Anwar Tidak Boleh Jadi PM” beredar pada 1998.

Anwar telah membantah isi buku tersebut dan menggugat penulis dengan pasal pencemaran nama baik. Polisi menjerat penulis buku dengan dakwaan penyebaran berita palsu, namun juga menginvestigasi kebenaran dalam buku itu. Pada 20 September 1998, polisi menahan Anwar Ibrahim dengan tuduhan melakukan korupsi dan menghalangi investigasi soal tuduhan sodomi.

Setelah menjalani persidangan pada 1999, Anwar Ibrahim dijatuhi hukuman penjara enam tahun dan vonis kedua selama sembilan tahun penjara. Pemenjaraan Anwar Ibrahim menuai kecaman dunia internasional setelah dianggap sebagai upaya pemerintah membungkam lawan politik. Setelah mendapat tekanan dunia internasional, Mahkamah Agung Malaysia mencabut semua dakwaan terhadap Anwar dan membebaskannya pada 2 September 2004. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.