Sabtu, 23 Januari 21

Jadi Legislator, Ahmad Yohan Ingin Bangun Kampung Halaman

Jadi Legislator, Ahmad Yohan Ingin Bangun Kampung Halaman
* Anggota DPR RI Fraksi PAN Ahmad Yohan. (Foto: Sutanto/OMG)

Jakarta, Obsessionnews.comKinerja Ahmad Yohan sebagai Anggota DPR RI Fraksi PAN memang patut diacungkan jempol. Betapa tidak, meski sekarang dia seorang legislator yang terus berusaha menjalankan perannya di bidang pengawasan, legislasi, dan budgeting, namun dia tak pernah lupa akan kampungnya.

Karenanya sebagai wakil rakyat yang mewakili Flores, Alor, dan Lembata, Nusa Tenggara Timur, ia selalu terobsesi untuk terus menerus membangun kampung yang telah membesarkan dirinya.

“Kampung yang menjunjung tinggi nilai pluralisme,” ujar Yohan seperti dikutip dari majalah Men’s Obsession, Jumat (27/11/2020).

Yohan mengaku begitu cinta dengan tanah kelahirannya itu, yakni NTT. Sampai-sampai saat diwawancarai ia pun mengenakan baju adat. “Ini merupakan kebanggaan tersendiri sekaligus saya ingin mempromosikan NTT,” ungkapnya sembari tersenyum.

Pria kelahiran Pusat Kota Ende pada 26 Agustus 1975 ini mengisahkan kotanya yang menyimpan sepenggal kisah dan jejak sejarah bahwa di sanalah The Founding Father bangsa, yakni presiden pertama Indonesia Soekarno melahirkan pemikiran besar Pancasila.

Tak hanya itu, dia juga mengaku, nama Ahmad Yohan disematkan oleh seorang suster Katolik bernama Yohana. Nama itu seakan menjadi titipan kekerabatan yang meratakan sekat teologi.

“Yohan yang tumbuh dan besar dalam atmosfer sosial masyarakat NTT umumnya yang multikultural,”ucapnya.

Ayah Yohan merupakan alumni pondok pasantren modern Gontor. Seorang da’i kharismatik dari Lamakera Flores Timur, Pulau Solor, NTT. Sebuah pulau kecil yang sudah mencetak banyak tokoh penting di NTT bahkan di tingkat nasional.

Sejak kecil, Yohan ditempa pendidikan agama di Pasantren Wali Songo Ende. Masalah-masalah ke islaman sudah terpatri dalam otaknya sejak dini. DNA pendakwah sang ayah pun menurun pada dirinya. Pasca lulus IAIN, ia sering didaulat menyampaikan tausiah di berbagai tempat.

Kendati kultur keagamaan keluarganya yang kental tersebut, Yohan dan keluarga menunjukkan sikap pluralisme. Sekolah Dasar Yohan ditamatkan di SD Katolik Bajawa-NTT. Lalu, dilanjutkan ke MTs Ende, MAN Kupang, dan menamatkan jenjang perguruan tingginya di IAIN Sunan Kalijaga. Selepas lulus S1, ia lantas melanjutkan ke program magister di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dengan konsentrasi Ilmu politik.

“Saya cuma anak kampung yang memiliki cita￾cita menjadi guru agama. Bahkan, setamat IAIN saya bercita-cita menjadi guru agama di Madrasah,” ungkap pria ramah ini.

Pada tahun 1998, Yohan bertemu dengan momentum reformasi, sehingga ia belajar menjadi aktivis dan menghadiri berbagai seminar untuk mendengarkan para tokoh berbicara tentang Indonesia.

Dari sinilah ia mendapat kesimpulan bahwa untuk mengabdi kepada bangsa ini banyak pilihan, salah satunya adalah berjuang lewat jalur politik.

“Kemudian, saya mulai tertarik dengan politik dan Alhamdulillah ketika Pak Amien Rais mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) saya bergabung dan saya meniti karir di politik dari bawah,” kisah ayah tiga anak ini.

Di PAN, ia di tempa di sekolah politik KIBAR, salah satu lembaga edukasi politik PAN sekaligus laboratorium pencetak embrio kader-kader PAN berkualitas. Pada 2009, ia pun diamanahkan sebagai Wakil Kepala Sekolah KIBAR. Dengan modal sebagai mantan aktivis mahasiswa, mengantarkannya masuk ke belantika politik di Yogyakarta pada 2005 sebagai Sekretaris DPW Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN) DIY.

Dua tahun berselang, dinamika internal BM PAN DIY kemudian menuntun Yohan ke kursi Ketua PW BM PAN DIY. Perlahan ia mulai memikul amanah baru yang lebih berat. Dari jenjang inilah ia berproses dan berakselerasi hingga ke atmosfer perpolitikan nasional. Pada Kongres IV BM PAN 2011 di Yogyakarta, ia turut meramaikan bursa kandidat Ketua Umum BM PAN.

Namun mundur menjelang pemilihan dan mengalihkan pemilihnya ke Yandri Susanto. Koalisi manis di kongres itu pun mengantarkannya menjadi Sekretaris Jenderal DPP BM PAN.

Dan pada Kongres V BM PAN di Jakarta, ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum BM PAN periode 2016-2021.Perjalanan karir Yohan seperti menaiki anak tangga. Menanjak dari titik terbawah ke posisi puncak. Setiap etape perjalanan karir politik itu, mengisi pengalaman dan watak politiknya. Itu yang membuat tipikalnya tidak grasak-grusuk. Baginya berpolitik laiknya memetik dawai dengan notasi yang tepat dan lantunan suara yang berirama. Perjalanan politik pendukung klub Inggris Manchester United (MU) ini terbilang gemilang.

“Memang tidak mudah, tetapi sejak awal saya memulai karir di PAN Saya bertekad inilah partai pertama dan terakhir saya. Apapun gelombang di partai ini, saya tetap bersama PAN. Sehingga, saya pernah menolak tawaran nyaleg di Kota Yogyakarta. Sikap saya ini sampai membuat saudara Ahmad Mumtaz Rais datang kepada saya dan bilang, Mas Yohan untuk apa kamu menjadi aktivis parpol, disuruh nyaleg di Kota Yogja tidak mau. Kalau kamu tidak punya uang, saya Mumtaz Rais siap membantumu,” kenang Yohan.

Dengan lugas Yohan mengatakan politik ini kan soal pengabdian, pilihan. “Kalau Mas Mumtaz dan Pak Amien ingin saya berbakti dan memberi manfaat yang luas bagi bangsa ini jangan taruh saya di Yogya, melainkan di kampung halaman saya agar saya bisa pulang ke kampung dan membangun kampung dengan perjuangan politik ini,” tuturnya.

Singkat cerita, ketika memutuskan untuk menjadi caleg, ia langsung mendatangi sang ayah untuk meminta restu dan ada diskusi panjang tentang hal ini. “Ayah saya berpesan, Yohan sebersih apapun kamu, masuk ke dunia politik itu seperti seorang ustadz yang pakai kopiah putih, jubah putih, sorban bersih, tetapi kalau masuk ke sebuah gudang yang banyak debunya kamu bisa terkena imbas debu-debu itu. Saya tidak ingin melihat itu,” Yohan mengisahkan. (Gia/Men’s Obsession/Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.