Sabtu, 4 Desember 21

Izin Klinik Kesehatan Masih Amburadul, Nyawa Siska Melayang

Izin Klinik Kesehatan Masih Amburadul, Nyawa Siska Melayang
* Allya Siska Nadya (kanan).

Kisah Malpraktik (17)
Izin Klinik Kesehatan Masih Amburadul, Nyawa Siska Melayang

KASUS malpraktik yang terjadi di Indonesia kembali masih terulang terus, nasib malang pun menimpa Allya Siska Nadya. Gadis cantik ini meninggal dunia diduga karena korban malpraktik yang dilakukan dr Randal Cafferty di klinik Chiropratic First The Spine dan Nerve Clinic (CF) cabang Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan.

Dalam kasus ini terungkap, bahwa banyak klinik-klink kesehatan yang tidak mengantongi izin operasi dari Dinas Kesehatan. Bahkan anehnya izin pengobatan kabarnya justru dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata yang sebenarnya tidak berwenang mengeluarkan izin.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali menanyakan kepada Menteri Kesehatan terkait persoalan tersebut. Namun, kata dia, Kementerian Kesehatan tidak bisa ikut campur terlibat terlalu jauh mengatasi persoalan ini.

‎”Kami dari Komisi IX ketika Raker dengan Menkes sudah minta penjelasan, tapi terkait dengan salon-salon kecantikan yang melakukan bedah plastic dan lain-lain. Namun karena yang keluarkan izin Kementerian Pariwisata, Menkes juga tidak bisa ikut campur,” ujar Irma melalui pesan singkatnya kepada Obsessionnews, Rabu (6/1/2016).

‎Banyaknya klink yang tidak mengantongi izin resmi dari Dinas Kesehatan, sehingga dimungkinkan terjadi kesalahan medis yang bisa merugikan pasien karena sistem pengobatannya tidak sesuai standar operasional, seperti kasus yang menimpa Siska dan beberapa korban yang lain.

Politisi Partai Nasdem ini menyarankan, kepada keluarga korban yang terkena malprakter untuk menggugat ke Dinas Pariwisata. Menurutnya, Dinas Pariwisata bisa dimintai pertanggungjawaban secara hukum. “Dinas pariwisata bisa digugat jika ternyata dalam regulasi tidak berwenang keluarkan izin,” jelasnya.

Sementara itu, praktisi kesehatan dr Encep Sugiana menegaskan, izin penyelenggaraan klinik kesehatan dari Dinas Pariwisata adalah suatu tindakan yang salah. “Kalau ijin klinik kesehatan terus ijinnya dari Dinas Pariwisata jelas salah,” ujarnya kepada obsessionnews.com di Subang, Rabu (6/1/2016).

Ia mengatakan penyelenggaraan klinik apa pun, misalnya spa yang ada kaitannya dengan Pariwisata pun – seperti di kawasan Ciater – idealnya ijinnya dari Dinas Kesehatan. “Idealnya klinik yang melayani masyarakat dibidang kesehatan izinnya harus dari Dinas Kesehatan (atau) Kementerian Kesehatan,” katanya.

Selanjutnya kata Encep, terhadap Klinik CF perlu ada tindakan proaktif dari pemerintah – dalam hal ini Pemerintah DKI mengenai perijinan yang diberikan pada klinik tersebut.

Alya Siska Nadya foto bersama kedua orang tua pada saat acara Trainning Asia Work.
Alya Siska Nadya foto bersama kedua orang tua pada saat acara Trainning Asia Work.

Kemenpar Ngaku Tak Pernah Beri Izin
Sekretaris Jenderal Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengaku tidak pernah mengeluarkan surat izin kepada klinik kesehatan untuk beroperasi di Indonesia seperti klinik Chiropatric First The Spine & Spine Nerve Clinic cabang Pondok Indah Jakarta Selatan yang bermasalah.

Pengakuan Sekjen Kementerian Pariwisata itu diungkapkan oleh Wakil Ketua Komisi X DPR RI Ridwan Hisjam, yang telah menghubungi langsung pihak yang bersangkutan. “Saya sudah telpon Sekjen Kementerian Pariwisata, katanya dia bilang belum pernah mengeluarkan surat izin ke klinik,” ujar Ridwan saat dihubungi Obsessionnews, Rabu (6/1/2015).

Pernyataan Ridwan ini sekaligus untuk menanggapi persoalan malpraktek ‎di klinik Chiropatric Pondok Indah ‎yang menewaskan Allya Siska Nadya (35). Klinik ini ternyata bermasalah, karena tidak mendapat izin dari Dinas Kesehatan, melainkan dari Dinas Pariwisata DKI Jakarta.

Menurut Ridwan, adanya klin‎ik kesehatan yang meminta izin ke Dinas Pariwisata memang tidak benar. Namun, ia mengatakan, persoalan ini tidak bisa dikaitkan dengan Kementerian Pariwisata. Sebab, semenjak ada otonomi daerah, Dinas Pariwisata diberikan kewenangan untuk mengelola daerahnya bersama pemerintah setempat.

“Jadi nggak ada hubungannya dengan Kementerian Pariwisata, kalau urusanya Dinas Pariwisata DKI, berarti pertanggungjawabanya kepada Gubernur atau Wali kota,” ‎jelasnya.

Komisi X sebagai komisi yang membidangi masalah pendidikan dan pariwisata kata Ridwan, tidak tahu menahu mengenai persoalan izin klinik Chiropatric‎. Pasalnya, tidak ada hubungannya dengan Kementerian Pariwisata. “Jadi sikap Komisi X tidak tahu menahu mengenai kasus ini,” jelasnya.

Siska adalah korban malpraktek di klinik Chiropatric pada 6 Agustus 2015. Ia mengeluh sakit tulang leher. Setelah berobat diklinik tersebut, Siska justru mengalami kesakitan parah, hingga akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, Jumat (7/8/2015) pag‎i, dan akhirnya meninggal.

Randall Cafferty
Randall Cafferty

DPR Desak Polda Usut Tuntas Kasus Malpraktik Siska
Anggota Komisi III DPR RI Teuku Taufiqulhadi mendesak Polda Metro Jaya untuk mengusut kasus malpraktek di klinik Chiropratic First The Spine & Nerve Clinic (CF) di Pondok Indah Mall Jakarta Selatan yang menyebabkan Allya Siska Nadya meninggal dunia.

Pasalnya, lanjut Politisi Nasdem ini, berdasarkan pengakuan Direktur Reserse Kriminal Umum Komisaris Besar Krishna Murti mengatakan, pengusutan kasus ini sudah diungkap. Sebab, pihak keluarga korban menolak untuk dilakukan optopsi.

Namun, menurut pengakuan ayah korban Alfian Helmy Hasjim justru pihak Polda yang menawarkan tidak perlu diotopsi setelah pihak Polda tahu, jenazah Sisks sudah dikubur lebih dari 20 hari.

“Kompol A Slamet malah bilang klo gitu gak usah diotopsi malah si polisi itu tawarkan akan diganti dengan cara lain yaitu datangkan saksi ahli bedah tulang dari TS PI bernama dari Lutfi Gatam,”‎ kisah Alfian mengungkapkan, Kamis (7/1/2016).

Apapun itu, Anggota Komisi Hukum DPR RI ini mendesak kepada Polda Metro Jaya untuk tetap mengusut kasus ini sampai tuntas, dan mencari siapa pihak yang harus bertanggung jawab atas kematian Siska. Pasalnya, dalam beberapa kasus malpraktik, Polisi dinilai lamban untuk menangani kasus tersebut.

“Tentu Polda harus mengusut, karena bagaimanapun pihak keluarga korban butuh kepastian hukum atas kematian Siska,” tegas Taufiq saat dihubungi Obsessionnews, Kamis.
Selain Taufiq, anggota Komisi IX Irma Suryani juga meminta Polda untuk melakukan investigasi kasus malpraktek Siska. Menurutnya, kasus malpraktek tidak boleh terulang dengan menanganan hukum yang tidak jelas. “‎Saya Kira Polisi harus lakukan investigasi. Karena Mereka melakukan pengobatan penyakit yang ber hubungan dengan tulang,” tutur Irma

Selain menolak diotopsi, pihak Polda juga mengaku kesusahan untuk mengusut kasus ini. Sebab, keberadaan terlapor Randall Cafferty yang melakukan penanganan medis kepada Siska diketahui melarikan diri dari Indonesia. Randall adalah warga Amerika Serikat.

Kerabat melayat siska
Kerabat melayat Siska.

Diketahui, Siska meninggal dunia di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, Jumat (7/8/2015) pagi. Dia diduga menjadi korban malpraktik saat menjalani treatment di Chiropractic First The Spine & Nerve Clinic Cabang Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan Kamis (6/8). Di klinik terapi asing itu dia ditangani oleh dr Randal Cafferty, warga negara asing (WNA).

Pada 5 Agustus 2015, untuk pertama kalinya Allya melakukan konsultasi dengan Dr Randall Cafferty, praktisi Chiropratic asal AS. Setelah melakukan interview dan mengisi formulir pengetahuan terhadap Chiropratic, serta masalah yang dihadapi, pada 6 Agustus, Allya kembali ke klinik kalangan the have tersebut. Ia membayar uang sejumlah Rp17 juta untuk pembayaran Therapy Adjustment sebanyak 40 kali sesuai dengan yang direkomendasikan Dr Randall Cafferty. “Karena terapi dilakukan setelah membayar lunas,” ungkap Alfian Helmy, ayah Siska.

Ada kejanggalan yang diperhatikan Alfian yang turut mengantar puterinya bersama sang isteri. Dalam sehari terapi dilakukan sampai dua kali, yakni sekitar pukul 13.00 dan 18.30 WIB. Namun apa daya, berharap anak menjadi lekas sehat, maka Alfian mengikuti kehendak klinik.

Tempat Siska dimakamkan.
Tempat Siska dimakamkan.

Arnisda Helmy, sang ibu, yang turut mengantar ke ruang terapi menggambarkan, salah satu metode terapi yang dilakukan meminta Allya pada posisi tengkurap di ranjang. Kemudian sang terapis menggerakkan kepala Allya ke kanan dan ke kiri beberapa kali, hingga pada tulang leher terdengar suara: kreeek.

Ketika perjalanan pulang ke rumahnya di kawasan Bintaro, Allya tak merasakan apa-apa. Tetapi, boro-boro rasa pegal di lehernya hilang, setiba di rumah sekitar pukul 23.00 malam ia meringkih akibat kesakitan sangat di bagian lehernya, hingga berteriak dan tersedu sedan.

Sang ayah panik, dan langsung melarikan Allya ke ICU RS Pondok Indah tengah malam itu juga. Ia ditangani oleh Dr Fahreza Aditya Neldy, untuk mendapatkan pertolongan medis darurat. Tetapi man proposes but God disposes. Manusia berusaha tetapi Tuhan juga yang menentukan. Takdir memanggil Allya. Ajal tiba tepat pukul 06.15 pagi WIB menjelang mentari bersinar. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Kasus dugaan malpraktik Siska ini pertama kali diberitakan oleh situs berita Obsessionnews.com, baru kemudian diberitakan oleh berbagai kalangan media massa. (Bersambung)

(Tim Obsessionnews)

Baca juga:

Allya Siska, Gadis Cantik Wafat Setelah Terapi

DPR Desak Polda Usut Tuntas Kasus Malpraktik Siska

Akhirnya, Ketahuan Klinik Siska Meninggal Tak Punya Izin

‘Pembunuh’ Siska Diduga Kabur, Polisi Sudah Proses Hukum

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.