Senin, 13 Juli 20

Isu Bahaya Laten Komunis

Isu Bahaya Laten Komunis
* Hendrajit. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute

Sepemahaman saya sebagai orang yang senang sejarah, tidak ada yang namanya komunis tulen, sejak awal mula kiprahnya di Indonesia. Yang ada adalah kawin mawin antara proto komunis, orang orang radikal yang berpotensi jadi komunis atau embrio komunis, tapi kemudian disetel supaya tetap setengah matang sehingga nggak bakal jadi komunis tulen, dengan kaum pseudo sosialis, yaitu kaum yang seolah-olah sosialis padahal kapitalis liberal atau sosialis demokrat yang meruncing jadi neoliberal.

Dalam kenyataannya kaum pseudo sosialis inilah mentor para radikalis yang lebih tepat disebut kaum proto komunis atau komunis setengah matang yang diabadikan.

Nah kaum pseudo sosialis ini bisa berkedok sebagai sosialis demokrat yang meruncing jadi neoliberal, bisa juga berkedok keagamaan

Kalau menelisik kesejarahannya, orang-orang Belanda berhaluan sesialis demokrat macam Snevlet dan Bergma inilah yang menciptakan kelompok proto komunis seperti Semaun, Darsono, Alimin, Setiajit, Muso dan kawan-kawannya. Mereka ini disebut proto karena baru embrio atau cikal bakal komunis. Belum jadi komunis tulen.

Lebih runyamnya lagi, Snevlet dan Bergsma yang notabene sosdem meruncing ke kiri, hanya memanfaatkan dan memanipulasi watak nasioanalisme radikal dari orang macam Alimin, Muso dan Semaun.

Maka nggak heran sejarah kegagalan PKI dari sejak 1926,1948 dan 1965, karena didikan setengah matang dari orang-orang Belanda ini. Mereka cuma didorong jadi radikal tanpa dikasih dan dibekali pengetahuan yang mendalam mengenai karya-karya Karl Marx, maupun pemikiran pemikiran sosialisme pada umumnya.

Mereka tidak dibekali cara pandang yang tepat mengenai hakekat revolusi, people power dan rusuh sosial. Nggak bisa membedakan mana yang namanya revolusi dan mana yang namanya putsch atau sekadar perebutan kekuasaan.

Masalahnya kemudian penyakit Muso-Alimin pada pemberontakan 1926 maupun penyakit Amir-Muso pada 1848 atau penyakit Aidit-Sjam pada 1965, ternyata sekarang bukan monopoli orang orang PKI saja.

Di kalangan parra aktivis pergerakan Islam pun ternyata terjangkiti juga menular penyakit Amir-Muso dan Aidit-Sjam. Senang berfantasi ketimbang membuat perhitungan matang dalam pergerakan politik, tidak punya akar kuat ke basis-basis pendukung baik sosial maupun budaya. Condong pada radikalisme tanpa tuntunan ilmu, skema dan strategi.

Pertanyaannya adalah mengapa perkawinan silang proto komunis plus pseudo sosialis ini dilestarikan sampai saat ini dengan tema bahaya laten komunis?

Jawabannya cuma satu. Para kapitalis global dan kolaboratornya di negeri kita khawatir dengan persenyawaan Islam dan nasionalisme. Sebab persenyawaan Nasionalisme dan Islam akan melahirkan sosialisme berwatak Indonesia. Apalagi kalau kemudian berkembang lebih meluas menjadi persenyawaan antara nasionalisme, Islam dan TNI. Inilah yang ditakutkan kaum NEOKOLIM. Neo-kolonialisme dan imperialisme.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.