Jumat, 22 Januari 21

Istri Pangeran Kerajaan Inggris Keguguran

Istri Pangeran Kerajaan Inggris Keguguran
* Istri Pangeran Harry, Meghan Markle. (Foto: Getty Images)

Istri Pangeran Harry, Meghan Markle mengalami keguguran saat hamil. “Hati saya hancur berkeping-keping,” ucap istri Pangeran Kerajaan Inggris ini.

Meghan Markle mengungkapkan dirinya mengalami keguguran pada bulan Juli dan merasakan “kesedihan yang hampir tak tertahankan”.

Ungkapan itu disampaikan Meghan yang bergelar Duchess of Sussex dalam tulisannya untuk New York Times.

“Saya [langsung] tahu, selagi saya memeluk anak pertama dengan erat, saya kehilangan anak kedua,” ungkapnya.

Ia lantas menceritakan bagaimana ia melihat “kepedihan Pangeran Harry, ketika suaminya itu mencoba mengobati hatinya yang sudah hancur berkeping keping”.

Meghan,39, mengatakan bahwa “kehilangan dan kepedihan telah menimpa kita semua pada tahun 2020”.

Ia membagikan pengalamannya dengan seruan agar warga dalam perayaan nasional Thanksgiving di Amerika Serikat “membuat komitmen untuk menanyakan kepada sesama warga apakah mereka baik-baik saja?'”

Keguguran masalah umum
Sebuah sumber yang dekat dengan Duchess of Sussex mengukuhkan kepada BBC bahwa ia dalam kondisi sehat saat ini.

Pasangan tersebut memerlukan waktu untuk mencerna peristiwa yang terjadi pada bulan Juli, dan memahami bahwa keguguran adalah masalah umum sehingga mereka ingin berbicara terbuka mengenai hal itu, tambah sumber tersebut.

Juru bicara Istana Buckingham mengatakan: “Ini persoalan sangat pribadi sehingga kami tidak akan memberikan komentar.”

Duchess of Sussex dan suaminya Pangeran Harry dengan gelar Duke of Sussex, pindah ke California, Amerika Serikat, untuk menghindari sorotan media, setelah mengundurkan diri sebagai anggota kerajaan senior pada Januari tahun ini.

Anak pertama mereka, Archie, lahir pada tanggal 6 Mei 2019.

Duchess of Sussex mengawali tulisannya dengan gambaran adanya “kram tiba-tiba” yang dialaminya ketika ia tengah mengurus Archie.

“Saya jatuh ke lantai bersamanya di pelukan saya, menyenandungkan lagu nina-bobo untuk menenangkan kami berdua, nada gembira itu kontras dengan perasaan saya bahwa ada sesuatu yang tidak beres,” ungkapnya.

“Beberapa jam kemudian, saya terbaring di tempat tidur rumah sakit, memegang tangan suami saya. Saya merasakan keringat dingin di telapak tangannya, dan saya mencium ruas jari-jarinya, basah dari air mata kami berdua.

“Sambil menatap dinding putih yang dingin, mata saya berkaca-kaca. Saya berusaha mereka-reka bagaimana kami akan melalui ini.”

“Kehilangan anak adalah memikul kesedihan yang hampir tidak tertahankan, yang dialami oleh banyak orang tetapi tidak banyak dibicarakan.

“Dalam kepedihan akibat kehilangan kami, suami dan saya menemukan bahwa di antara 100 perempuan, terdapat 10 hingga 20 di antara mereka yang mengalami keguguran.

“Namun di balik masalah umum tentang betapa sering kepedihan yang mengejutkan ini terjadi, pembicaraan tentang hal ini tetap dianggap tabu, diselimuti perasaan malu, dan melanggengkan siklus berduka dalam kesendirian.

“Sebagian orang berani berbagi cerita; mereka telah membuka pintu, sadar jika seseorang mengungkapkan kebenaran, itu akan memberikan dorongan bagi kita semua untuk melakukan hal yang sama.” (Red)

Sumber: BBC News

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.